Wednesday, 2 April 2025

Terjebak Macet di Malam Takbiran : Kota Tua Ampenan


Bulan Ramadhan sudah meninggalkan kita. Semoga tahun depan kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh dengan ampunan dalam pribadi yang lebih baik lagi. 

Selama sebulan penuh kita berpuasa. Menahan diri dari makan minum dan hawa nafsu dari adzan subuh hingga terbenamnya matahari. Kini saatnya kita merayakan kemenangan yaitu menyambut datangnya Idul Fitri 1 Syawal 1446 H yang bertepatan dengan tanggal 31 Maret 2025. 

Gema takbir sudah terdengar. Malam yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim seluruh dunia. Malam yang penuh suka cita. 

Seluruh warga beranjak keluar rumah untuk menikmati moment yang hanya ada satu kali dalam setahun. 

Kota Mataram diguyur hujan dari sore hingga larut malam. Hujan di malam takbir turun dengan syahdunya. Suara petasan pun terdengar silih berganti menambah kemeriahan malam itu.

Tahun ini pawai takbiran di Kota Mataram terbagi menjadi enam wilayah, antara lain Kecamatan Mataram, Ampenan, Cakranegara, Selaparang, Sandubaya dan Sukarbela. Masing-masing wilayah sudah ditentukan jalur pawai takbirannya. 

Baca juga disini : rekomendasi travel di lombok

Gak hanya di Kota Mataram saja tapi di berbagai kabupaten/kota juga menyelenggarakan pawai takbiran. 

Jadi gak heran kalau di Pulau Lombok yang namanya pawai takbiran sangat meriah. Di setiap kampung berlomba-lomba membuat miniatur masjid dan beberapa lampion untuk mengikuti pawai di malam lebaran. 

Apalagi Pulau Lombok dijuluki "Pulau Seribu Masjid". Dibandingkan dengan daerah lain, menurut saya yang paling meriah pawai takbirannya yaitu di Pulau Lombok. 

Para kafilah yang sebagian besar para anak muda, sudah siap dengan pakaian terbaik mereka. Mengatur barisan dengan rapi. Ada juga yang sudah gak sabar ingin memukul beduk. Melantunkan gema takbir yang sudah sering kita dengar.

"Allahu Akbar 3x"
"Lailahailallah wallahu Akbar"
"Allahu Akbar Walillailham"




Ribuan warga kota sudah menunggu di pinggir jalan untuk menonton jalannya pawai takbir yang jadwalnya akan dimulai sehabis shalat isya yaitu pukul 19.30 WITA.

Meskipun cuaca lagi kurang bersahabat, para peserta pawai takbiran tetap semangat mengikuti jalannya acara hingga selesai. Beberapa miniatur masjid sudah berjejer di sepanjang jalan. Lebih dari ribuan kafilah dari berbagai kampung, kelurahan sampai kecamatan tumpah ruah di jalan.

Gak hanya para kafilah saja, tapi ribuan penonton juga sangat antusias untuk menonton jalannya pawai takbiran. 

Ada yang membawa anak kecil meskipun hujan turun cukup lebat. Ada juga yang nonton sendirian alias ngejomblo. Berharap di malam itu bertemu dengan sosok bidadari atau pangeran tampan yang bisa jatuh ke dalam pelukan si doi (ngomong apaan sih). 

Malam yang penuh dengan suka cita. Saya malam itu ingin mengajak anak-anak untuk menonton jalannya pawai. Kebetulan di depan perumahan merupakan titik kumpul para peserta. Tapi kondisi saat itu masih hujan. 

Kebetulan malam itu saya dimintain tolong oleh istri untuk mengantarkan bingkisan ke rumah orang tua di Ampenan. 

Sekitar jam sepuluh malam saya berangkat dari rumah. Kurang lebih lima belas menit perjalanan ke Ampenan. 

Menghindari titik-titik kemacetan, tapi nasib berkata lain. Mulai dari sepanjang jalan menuju perbatasan kota, saya bertemu dengan barisan pawai takbiran. Disini gak terlalu macet karena gak terlalu ramai kendaraan yang lewat sini. 




Kemacetan selanjutnya saat bertemu dengan barisan pawai takbiran dari kelurahan lainnya yang melewati sepanjang Jalan Sriwijaya. Disini yang benar-benar macet parah. 

Karena macet, akhirnya saya putuskan untuk menonton sebentar. Mengambil beberapa foto tapi harap dimaklumi karena hanya kualitas kamera smartphone Oppo A54 saja. 

Ikut gabung dalam kemeriahan takbiran malam itu meskipun hanya sebagai penonton dadakan saja. Hahahaha. Sayang sekali gak ajak anak-anak. Kalau mereka ikut, pasti senang sekali. 

Miniatur masjid dengan hiasan lampu warna-warni, lampion-lampion mini bertuliskan "Allahu Akbar" dan "Muhammad" dalam bahasa Al-Quran yang dibawa oleh ratusan kafilah berbaris rapi berjalan menuju jalur yang sudah ditentukan oleh panitia. 



Diiringi oleh gema takbir dan suara petasan menambah suasana menjadi meriah. Udara malam di tengah kota pun membuat suasana menjadi syahdu. 

Para pedagang kaki lima pun ikut ketiban rezeki. Dari jualan minuman dingin, cilok, bakso, kopi dan cemilan lainnya. Gak hanya itu saja, penjual balon, mainan dan kembang api pun ikut mendapat rezeki. 

Itulah indahnya Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Semuanya mendapatkan rezeki. Berapapun yang didapat, harus selalu disyukuri. 

Setelah nonton pawai takbiran di sekitar jalan Sriwijaya, saya lanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua dalam keadaan lumayan macet. 



Penuh kesabaran, akhirnya bisa keluar dari kemacetan dan segera menuju rumah. Nasib berkata lain. Di sekitar Kota Tua Ampenan dapat macet lagi. Padahal ini jalan satu-satunya menuju rumah. 

Mau lewat jalan lain sudah gak bisa puter balik. Yasudah, kita nikmatin macetnya dulu. Malam semakin larut, tapi acara pawai takbiran semakin meriah. 

Para petugas keamanan diantaranya ada polisi yang masih mengatur arus lalu lintas hingga selesai acara. 

Sepanjang jalan Yos Sudarso, depan Lapangan Malomba, Ampenan merupakan pusat titik kemacetan. Ada pengalihan arus lalu lintas disini yaitu tadinya dua jalur menjadi satu jalur. Itupun digunakan untuk area parkir kendaraan bagi yang menonton.

Pawai takbiran di Ampenan dimulai dari perlimaan Kota Tua Ampenan hingga jalan Langko. Selain menonton takbiran, kita juga bisa berwisata malam di Kota Tua Ampenan.  Dimana Kota Tua Ampenan merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di Pulau Lombok.

Meskipun sempat terjebak macet, tapi saya senang bisa menonton pawai takbiran dalam kondisi gerimis yang menambah suasana menjadi syahdu. 

Kegiatan pawai takbiran di Kota Tua Ampenan khususnya berjalan dengan lancar dan tertib. Terimakasi kepada para petugas keamanan yang sudah bertugas di malam itu. 

Acara pawai takbiran selesai sekitar pukul 00.00 WITA, dan saatnya kita beranjak pulang untuk beristirahat agar esok paginya gak terlambat melaksanakan shalat eid. 

Minal Aidin Walfaidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Happy Eid Mubarak Idul Fitri 1446 H

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

2 comments:

  1. Sungguh luar biasa
    Saya kagum dengan kafilah atau perserta yang begitu kreatif
    Di tempat saya, adem-adem saja. Dulu sempat ada, tapi ya itu cuma nai kendaraan dan motor, tidak ada seni budaya yang dipertontonkan.
    Wah ini bisa menjadi konten yang menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap tahun di Lombok utk malam takbirannya sangat meriah bang. Apalagi disini di setiap kampung ada masjidnya. Jadinya mereka berlomba-lomba menjadi yg terbaik

      Delete