Sunday, 2 August 2026

Balik Ke Lombok Bersama Kapal Favorit : KMP Putri Gianyar



Selesai juga cerita mengexplore Sumbawa Barat dan sekitar. Meskipun gak banyak tempat yang didatangi tapi sudah buat kami puas terutama anak-anak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pulau yang terkenal dengan susu kuda liarnya ini. 


Menginap di Kota Taliwang, jalan-jalan pagi ke Pantai Balad, menyusuri Air Terjun Ai Kalela, hingga sampailah di destinasi terakhir yaitu keliling Pulau Bungin sambil wisata kuliner di Lesehan Apung Bungin. 


Setelah dari Bungin, kami kembali ke penginapan untuk berkemas dan balik ke Lombok. Gak terasa empat hari lamanya di jalan. Syukurnya anak-anak sehat dan waktu tidur mereka juga gak terganggu. 


Sekitar jam dua belas siang, kami check out dari penginapan. Sebelum menuju pelabuhan, kami menyempatkan untuk membeli oleh-oleh buat keluarga di Mataram. Sudah tradisi kalau jalan ke luar kota, pastinya pada nyari oleh-oleh, hehehe. 


Cuaca di Alas siang itu cukup cerah meskipun beberapa jam yang lalu sempat mendung pertanda akan turun hujan. Tapi gak lama kemudian cerah kembali. Berat rasanya mau balik ke Lombok. Pengen rasanya lanjut ke Kota Sumbawa Besar tapi besok sudah masuk kantor kembali. Anak-anak juga masuk sekolah. Next time "Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang. Boleh kita datang ke Sumbawa lagi" (malah pantun). 






Setelah membeli oleh-oleh berupa makanan ringan seperti permen susu dan cemilan "dipang" khas Sumbawa, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Pototano. Gak buru-buru juga, perjalanan balik ke Lombok santai saja.

Perjalanan dari Alas menuju Pototano hanya memakan waktu lima belas menit saja. Melewati jalanan aspal mulus berkelok-kelok dengan di kiri perbukitan dan di sebelah kanan pemandangan laut yang keren.

Kalian boleh coba kalau jalan darat ke Sumbawa dari Lombok, viewnya keren habis. Saya saja yang orang asli Lombok yang sering ke Sumbawa, gak bosen melihat view Sumbawa yang gak ada obatnya. Bisa kalian cek di beberapa tulisan saya terdahulu tentang destinasi di Sumbawa. 

Sekitar jam satu siang, kami sudah berada di Desa Pototano. Mampir dulu di Ind**mrt untuk jajan. Lumayan mahal kalau beli di atas kapal. Setelah itu saya membeli tiket di counter tiket yang ada di pinggir jalan dekat dengan pelabuhan. Untuk harga tiket agak sedikit berbeda dari Kayangan. Kalau dari Kayangan itu harga tiket motor 80 ribu. Kalau dari Pototano harganya 85 ribu (koreksi bila keliru). 

Sebenarnya bisa beli online lewat aplikasi ferizy. Tapi karena lagi males buka aplikasi, kita beli di jalan saja. Hitung-hitung bantu UMKM setempat. Bener gak?. 

Setelah belanjaan beres dan tiket kapal juga sudah di tangan, kami melanjutkan masuk ke dalam  pelabuhan. Suasana Pelabuhan Pototano agak sedikit lengang. Gak sepadat seperti biasanya. Padahal hari itu akhir pekan. 

Terlihat beberapa kendaraan kecil seperti mobil dan travel parkir menunggu giliran masuk ke dalam kapal. Motor juga lumayan banyak yang mengantri tapi masih dibilang gak seramai pada biasanya karena penyeberangan Selat Alas ini terkenal padat. Apalagi kalau di akhir pekan karena banyak pekerja dan mahasiswa yang akan balik ke Mataram setelah pulang kampung. 

Dari kejauhan sudah bersandar kapal di dermaga 1 maupun di dermaga 2. Di dermaga 2 ada kapal ferry bernama KMP Jax, salah satu kapal terbesar di penyeberangan Kayangan - Pototano. Sedangkan di dermaga 1 sedang persiapan bersandar kapal KMP Putri Gianyar. 

Pas banget waktunya kami tiba di Pelabuhan Pototano. Mau naik kapal apapun waktu itu sama-sama kapal favorit. Beruntungnya kami kebagian naik ke KMP Putri Gianyar. Salah satu kapal favorit dan terkenal cepat. Kita masuk kapalnya dulu deh, baru saya mulai mereview kapalnya  !. 





Setelah memasuki lambung kapal, saya memarkirkan motor di car deck. Sedangkan istri dan anak-anak duluan masuk ke ruang atas kapal biar dapat tempat duduk. Suasana penumpang di KMP Putri dariGianyar gak begitu ramai dibandingkan kapal sebelah. Ini namanya beruntung sekali bisa dapat kapal bagus. 

Setelah memarkirkan motor, saya segera menyusul ke ruang penumpang di atas car deck. Cuaca siang itu sangat cerah dan arus Selat Alas kelihatannya bersahabat (semoga saja). Suasana di ruang penumpang cukup lengang. Wah bakalan nyaman nih gak banyak penumpangnya. Enak di kami tapi gak enak di pihak kapalnya, hehehe. 

KMP Putri Gianyar merupakan kapal feri jenis roro (roll-on/roll-off) yang melayani angkutan penumpang, kendaraan, dan logistik antarpulau. Kapal ini dioperasikan oleh PT Jemla Ferry dan telah lama menjadi bagian dari armada penyeberangan di Indonesia.

Sebelumnya kapal ini beroperasi pada lintasan Pelabuhan Padangbai, Bali - Pelabuhan Lembar, Lombok (PP). Berpindah rute sekitar tiga tahun yang lalu hingga sekarang melayani lintasan Pelabuhan Kayangan, Lombok – Pelabuhan Pototano, Sumbawa. 

Kapal ini informasinya dibangun pada tahun 1983 dengan memiliki panjang 62 meter dan lebar 16 meter dan mampu membuat 36 kendaraan sedang dan berat dan sekitar 490 penumpang berdasarkan sumber terpercaya. 

Terdiri dari tiga deck. Dimana deck pertama yaitu area parkir kendaraan (car deck), kemudian di deck kedua ada ruang penumpang kelas ekonomi semua. Di deck paling atas yaitu anjungan, kamar ABK dan area muster station dan ruang terbuka untuk penumpang yang ingin berjemur sambil menikmati sunrise maupun sunset. 







Kita bahas ruang penumpang dulu. Disini ruangnya dibagi beberapa ruang. Ada ruang ber-AC dan ruang terbuka yang cocok bagi bapak-bapak yang ahli hisap. Sedangkan kami lebih memilih beristirahat di ruang ber-AC saja. 

Di dalam ruang penumpang keren habis. Jumlah tempat duduknya lumayan banyak. Ada bentuk kursi sofa yang empuk memanjang dan berhadapan lengkap dengan meja kecil. Ada juga area lesehan tempat kita selonjoran dan tiduran. Lantainya empuk dan enak banget buat melepas lelah. 

Yang paling saya suka dari ruangannya yaitu harum dan dingin. Di dalamnya terdapat beberapa fasilitas seperti ruang ibu menyusui, ruang medis, tempat colokan hp, layar LED buat nonton film yang diputar, kantin yang menjual berbagai macam makanan dan cemilan dan jaket pelampung. 

Ruangannya juga cukup luas. Dari dalam kita bisa melihat view luar dari jendela full kaca semua. Anak-anak pun sangat senang naik kapal ini. Kalau ayah dan bundanya jangan ditanya, pastinya suka juga dong. 





Untuk ruang outdoornya berada di bagian belakang dan deck paling atas. Di belakang ruang indoornya, terdapat beberapa kursi sofa memanjang. Dari sini kita bisa view dari arah buritan kapal. Cocok banget buat kalian yang lagi ada galau kerjaan atau putus cinta, bisa merenung di sini sambil melihat view cantik dari Pelabuhan Pototano. Insyaallah kembali good mood. 

Selain itu yang saya suka dari kapal ini karena kapal ini sangatlah bersih dan menjaga kenyaman penumpang. Tong-tong sampah dengan berbagai macam warna dan fungsinya ada di beberapa sudut kapal. Alat pemadam kebakarannya (APAR) juga lengkap. Ada mushola dan toilet yang bersih dan nyaman. 

Pantas saja kapal ini dulunya melayani penyeberangan Lembar - Padangbai yang waktu tempuhnya kurang lebih lima sampai enam jam tergantung cuaca di tengah laut. Kalau di Pototano - Kayangan yang waktu tempuhnya kurang dari tiga jam, rasanya kurang lama ya. Maunya lama-lama berada di kapal ini, hehehe. 






Sekitar jam dua siang, kapal diberangkatkan gak lama setelah kapal sebelahnya yaitu KMP Jax diberangkatkan juga. Wah, bakalan melihat balapan kapal fery nih di Selat Alas. Moment langka buat saya ada kapal balapan di Selat Alas. 

Kalau sudah melihat proses kapal berangkat, moment yang gak boleh dilewatkan. Sejak kecil kalau naik kapal, saya pastinya suka melihat proses kapal berangkat. Dari ramdoor kapal ditutup. Melihat para pedagang yang berlarian turun dari kapal karena gak semua kapal menerapkan aturan pedagang asongan boleh ikut berlayar sampai ke tanah seberang. 

Saat tali tambat kapal dilepas oleh petugas dermaga lalu para ABK menariknya ke atas kapal. Terkadang, kita juga bisa melihat anak-anak kecil bertelanjang saling berlompatan ke dalam air untuk menangkap uang koin yang dilempar oleh penumpang dari atas kapal saat kapal hendak menjauh dari dermaga. Moment-moment yang sangat saya kenang. Tapi sekarang sudah sangat jarang saya melihat moment itu lagi. 

Saya mengajak anak-anak untuk melihat proses kapal berangkat. Kakak Ken dan Adeq Lala sangat bersemangat. Untuk pertama kalinya saya dan istri mengajak mereka jalan-jalan ke Sumbawa. 

Perlahan-lahan, kapal meninggalkan pelabuhan. Selamat tinggal Pulau Sumbawa, terimakasi sudah menyambut kami selama empat hari dengan ramah. Sampai berjumpa lagi di kesempatan lainnya !. 

Gak langsung kembali ke tempat istirahat, saya dan anak-anak masih menikmati view cantik dari Pelabuhan Pototano. Gak ada bosannya melihat gugusan pulau-pulau yang ada di sekitar pelabuhan. Ada Pulau Kenawa, Pulau Namo, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Kambing dan beberapa pulau gak berpenghuni lainnya. 

Gak salah kalau Pelabuhan Pototano menjadi salah satu pelabuhan terindah di Indonesia. Pelabuhan yang memiliki dua dermaga dan pasir putih. Banyak warga yang berkunjung ke pelabuhan ini untuk berenang karena di sisi barat pelabuhan ada pantai dengan pasir putih dan Bukit Pototano. Dari sini juga kita bisa menyeberang ke beberapa pulau di sekelilingnya. Keren kan !. 




Setelah setengah jam berlayar, saya dan anak-anak balik ke tempat istirahat. Sedangkan istri lagi betah selonjoran di ruang lesehan sambil istirahat dan nonton film. 

Gak banyak kegiatan yang kami lakukan selain istirahat, mengisi tenaga biar kembali fresh setelah beberapa hari ngebolang terus. Anak-anak langsung tidur siang karena kecapean juga. Saya pun ikut tertidur dan gak terasa goyangan kapal yang menghantam arus laut. 

Siang itu arus laut sedang kencang-kencannya. Hal yang wajar karena itu namanya arus air surut. Biasanya sekitar jam dua siang hingga empat sore, air laut surut dan menciptakan arus laut dan gelombang yang cukup buat sebagian penumpang mabuk laut. 

Untungnya kami berempat gak ada yang mabuk laut. Kami menikmati pelayaran hingga kapal mendekat ke Pelabuhan Kayangan. Kurang lebih satu jam pelayaran, posisi kapal sudah dekat dengan Pelabuhan. 

Tadinya mau melihat moment kapal balapan, tapi ketiduran sampai kapal berhenti menunggu antrian masuk pelabuhan. Gak apa-apalah, terpenting kami dan penumpang lainnya selamat sampai tujuan. 

Cukup lama mengantri masuk pelabuhan karena jalan kapal ini cepat banget. Gak heran memang kapal ini menjadi kapal favorit sebagian penumpang yang sering bolak-balik Lombok Sumbawa. Terlihat KMP Jax juga masih mengantri di samping kapal kami. Next time, pengen naik Si Jax ini karena bentuknya yang unik. Berukuran panjang dan memiliki dua anjungan di bagian depan dan belakang. Ukurannya lebih besar daripada Si Putri Gianyar yang kami naiki. 

Setelah satu jam lebih menunggu, akhirnya kapal kami berjalan perlahan-lahan dan bersiap sandar di dermaga satu. Gak sabar ingin menginjakkan kaki kembali di tanah Lombok. Akhirnya cerita perjalanan motoran ke Pulau Sumbawa edisi kali ini saya cukupkan dulu. Sampai berjumpa di cerita tentang Sumbawa yang pastinya lebih seru dengan destinasi baru lainnya. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 25 July 2026

Pulau Bungin Saya Kembali ! : Lesehan Apung Bungin


Membuka mata, ternyata sudah menunjukkan jam enam pagi. Benar-benar tidur pulas tadi malam. Apa karena efek kelelahan seharian jalan-jalan dari Kota Taliwang ke Jereweh, lalu lanjut ke Desa Alas, Kab. Sumbawa kali ya?. 

Buka pintu kamar, langit sudah agak terang. Anak-anak dan istri masih terbang di dalam mimpi masing-masing. Matahari masih belum terbit. Udara pagi yang sangat sejuk. Saya keluar kamar untuk jalan kaki sejenak ke arah depan penginapan. Lalu lintas pagi di depan penginapan sudah cukup ramai.

Terlihat banyak lalu-lalang anak sekolah yang hendak berangkat ke sekolah karena bertepatan di Hari Sabtu. Badan sudah kembali segar, mata sudah gak ngantuk. Rasanya sudah gak sabar untuk mengexplore tempat-tempat indah lainnya. 

Kali ini kami akan akan mengexplore salah satu pulau terpadat di dunia yaitu Pulau Bungin. Dulu masih disebut Pulau Bungin. Tapi sekarang bisa dibilang gak pulau lagi karena sudah dibuatkan jalan penghubung menuju pulau ini. 

Saat balik ke kamar, anak-anak sudah pada bangun. Saya dan istri beres-beres barang bawaan biar gak buru-buru saat check out nanti siang. Lanjut memanaskan mesin motor dan sarapan pagi yang sudah disediakan oleh penginapan. 

Cuaca pagi cukup cerah, semoga saja sampai siang nanti gak turun hujan karena terkadang Sumbawa masih turun hujan. Setelah menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa. Kami bersiap-siap jalan ke lokasi tujuan. 

Kurang lebih hanya sepuluh menit waktu tempuh dari penginapan ke Bungin. Gak jauh memang karena Bungin berada di Kec. Alas, Sumbawa. Oleh karena itu kami memilih Agal Homestay sebagai tempat menginap. 

Sekitar jam sembilan pagi, kami jalan dari penginapan. Melewati jalan kota kecamatan, terminal, pasar tradisional dan pusat pertokoan yang sudah menjadi legend bagi para pelancong. Gak jauh dari pusat kota kecamatan, terdapat beberapa destinasi wisata yang wajib kalian explore. Antara lain, Desa Marente, Air Terjun Agal, Air Terjun Sebra, dan Pulau Bungin. 

Setelah melewati pusat kota kecamatan, menuju arah timur dan belok kiri di pertiga Ind****rt Alas Dalam. Dari pertigaan ini, kami melewati jalan perkampungan warga dengan aspal yang mulus. Dulu pas datang kesini, jalannya masih sebagian aspal dan sisanya jalan tanah dan kericil. 





Untuk menuju Bungin, kami harus melewati jalur yang mengelilingi perbukitan. Meskipun memutar tapi viewnya keren karena jalannya berada persis di tepi laut.  Disini pantainya tenang dan gak ada ombak. Dikelilingi oleh beberapa pulau yang gak berpenghuni seperti Pulau Panjang dan beberapa pulau lainnya. 

Kurang lebih lima ratus meter, kami sudah melihat Bungin dari kejauhan. Angin laut sepoi-sepoi, sinar matahari pagi yang hangat dan aktivitas warga desa yang sebagian besar dari mereka yaitu seorang nelayan. Puluhan perahu kayu berjejer rapi di tepi laut. 

Jalan aspal memanjang lurus di kiri - kanan air laut menjadi ciri khas menuju Desa Bungin. Gapura besar yang menandakan bahwa kami memasuki desa. Rumah-rumah panggung khas Bungin yang mayoritas berasal dari Suku Bajo dan Bugis. Dari bahasa mereka juga sudah berbeda dari bahasa orang Sumbawa pada umumnya. Vibesnya seperti di kampung halaman orang tua saya yaitu Desa Labulalar yang berada di Kab. Sumbawa Barat. 

Sudah lama rasanya gak datang ke desa ini. Sebagian besar gak banyak perubahan. Rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu kokoh masih terjaga sampai sekarang. Lorong-lorong kecil yang sudah dipaping tertata rapi. Dan yang masih terjaga yaitu kambing disini masih makan kertas koran. Paling kaget lagi, para komplotan kambing disini sudah meresahkan warga desa karena mereka sudah makan jemuran para warga. 

Muter-muter sebentar di desa ini sambil menyapa para warga yang sedang asyik duduk di tangga rumah mereka masing-masing. Ada yang berkumpul sambil ngopi, emak-emak ada yang sedang sibuk berjualan, ada yang sedang bersiap melaut dan anak-anak kecil yang sedang main bola sepulang mereka sekolah. 

Yang membuat Bungin begitu menarik bukan hanya ukurannya yang mungil, tapi juga cerita di balik terbentuknya pulau ini. Sebagian besar daratannya merupakan hasil timbunan batu karang yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Suku Bajo. Tradisi tersebut menjadi simbol semangat gotong royong dan kebersamaan yang masih terjaga hingga sekarang.

Buat kalian yang belum pernah datang ke Bungin, gak ada salahnya datang kesini sambil melihat kehidupan warga desa. Apalagi di desa ini ada salah satu lesehan apung yang wajib dikunjungi. 

Setelah puas berkeliling desa, rasanya kurang lengkap kalau belum mampir ke Lesehan Apung Bungin. Tempat makan yang berada di permukaan laut ini menawarkan suasana yang benar-benar bikin tenang. Semilir angin laut, suara ombak yang tenang, dan pemandangan perahu nelayan yang lalu-lalang menjadi teman sempurna untuk bersantai.

Untuk menuju lesehan apung kami harus berjalan menuju dermaga yang berada di sisi timur pulau. Memarkirkan kendaraan di area parkir depan dermaga yang gak terlalu besar tapi aktivitas warga yang baru pulang melaut cukup ramai disini. 

Berhubung datangnya kepagian, lesehan apungnya belum buka. Untuk bukanya mulai jam sepuluh pagi hingga sepuluh malam. Berarti saya salah informasi karena teman yang tinggal di Sumbawa kalau lesehan ini buka jam sembilan pagi. Gak apa-apa, yang penting lesehannya masih buka, hehehe. 

Itu informasi yang kami dapatkan ketika sampai di dermaga. Salah satu warga desa yang mempersilahkan kami menunggu sejenak di depan salah satu warung. Pemilik warungnya juga yang punya lesehan apung. Kata si ibu, kami diminta tunggu disini karena para karyawan lesehan pada belum datang. 




Kurang lebih setengah jam menunggu, kami dipersilahkan menuju salah satu perahu berwarna biru. Kami gak sendirian, tapi di atas perahu ditemani beberapa karyawan lesehan yang sama-sama akan menuju lesehan yang berada di tengah laut. 

Di atas perahu sudah banyak bahan makanan dan sayuran yang akan dibawa menuju lesehan. Meskipun datangnya kepagian, tapi kami bisa berkeliling desa sambil menyapa para warga dan kawanan kambing.

Disini kambingnya ganas-ganas dan gak ada takutnya. Meskipun sudah diusir, tapi tetap saja mereka mengendus-endus baju saya. Apa dikira belum mandi kali ya ?. Tapi kenyataannya memang belum mandi, hehehe. 

Karena jaraknya gak terlalu jauh dari dermaga, perahu yang kami tumpangi sudah sampai di tepi lesehan. Anak-anak senang sekali naik perahu, bahkan gak pengen turun dari perahu. Satu per satu penumpang turun dari perahu. Perasaan senang gak bisa kami tutupi. Anak-anak sudah heboh gak sabar melihat beberapa ikan dan hewan laut yang berada di dalam kolam. Jangankan anaknya, ayah bundanya gak kalah hebohnya sampai lupa tas bawaan di atas perahu, hehehe. 

Sesampai di lesehan apung, baru kami pengunjung pertama. Gimana gak, kami menuju lesehan naik perahu bareng dengan karyawan lesehannya. Pas banget nih, suasana masih sepi dan tinggal pilih mau duduk dimana. 

Namanya juga lesehan apung, pastinya bangunan lesehannya terapung di permukaan air. Bisa dibilang seratus persen bahan bangunannya dari kayu semua. Terdiri dari bangunan utama beratapkan dari spandek biar gak panas. Tiang-tiang bangunan dari kayu semua. Kolam-kolam ikan yang dilengkapi dengan jaring di bawah kolam agar ikan atau hewan laut lainnya gak kabur. 





Beberapa hewan laut yang kami temui yaitu ikan kerapu, lobster, udang, kepiting, teripang dan masih banyak jenis ikan lainnya yang gak hafal namanya. Untuk keliling kolamnya, kami bisa berjalan di atas drum plastik apung. Meskipun goyang-goyang tapi dijamin aman. 

Biar gak panas, dipasang paranet agar mengurangi sinar matahari langsung. Anak-anak antusias keliling melihat ikan-ikan di lesehan apung ini. Sedangkan istri sedang sibuk memilih menu yang akan kami nikmati untuk menu makan siang. 

Kami memilih duduk di salah satu meja yang menghadap langsung ke laut. Tempat duduknya semuanya lesehan terdiri dari meja panjang kayu dan karpet berwarna biru. Nyaman dan bersih tempat duduknya. 

Sambil menunggu pesanan datang, mata dimanjakan dengan panorama birunya laut dan aktivitas warga sekitar. Saking jernihnya,kami bisa melihat batu karang dari dasar laut. Ini moment yang gak ada obatnya. Suasananya sederhana, tetapi justru itu yang membuat tempat ini terasa begitu nyaman. 

Bangunan lesehan ini bisa bergerak seperti perahu yang berlabuh pada umumnya. Hanya saja diikat oleh beberapa tali agar gak berpindah terlalu jauh dari daratan. Lucu saja pas asyik makan, eh ternyata lesehan apungnya sudah pindah ke Selat Alas, hahahaha

Menu andalan di sini tentu saja olahan seafood yang masih segar. Ikan bakar, cumi, udang, hingga aneka sambal khas Sumbawa terasa semakin nikmat disantap di tengah suasana laut yang tenang. 










Untuk menunya, kami pesan Ikan Singang Kerapu, Ikan Kerapu Bakar, Cumi Goreng, aneka sambal dan sebakul nasi putih. Minumnya Es Jeruk Peras, Jus Alpukat dan Kopi Hitam. 

Ikan Singang Kerapu ini merupakan masakan olahan ikan khas Sumbawa yang memakai kuah bumbu kuning. Biasa kita menyebutkan masakan ikan kuning. Aroma rempah-rempahnya kuat banget. Kuah bumbu kuningnya seger.

Perpaduan rasa asin, asem dan pedas. Enak banget disantap selagi laper-lapernya. Ini merupakan ikan favorit saya sejak kecil. Dulu mama atau nenek, sering buatkan ikan kuah bumbu kuning ini atau bahasa Sumbawanya itu Ikan Singang. 

Selain Singang, kami pesan Ikan Kerapu Bakar untuk anak-anak. Syukurnya mereka sangat menyukainya. Dagingnya gurih, empuk dan gak amis. Ada aroma smoke-nya gitu. Enak banget. 

Menu selanjutnya, ada cumi goreng. Ukuran cuminya besar-besar dan porsinya juga mantap. Bisa untuk empat orang dewasa. Tapi daging cuminya masih alot karena baru saja ditangkap. Jadi belum sempurna bakarnya. 

Berhubung istri pesan setiap menu hanya setengah kilo, jadinya banyak banget. Ikan Singangnya setengah kilo, cumi dan ikan goreng juga setengah kilo. Ini karena lapar apa doyan sampai kebablasan pesannya. 

Untuk minumnya kami pesan jus alpukat pakai susu cokelat kental manis dan es jeruk peras. Pas banget habis makan besar dan pedas, minumnya yang segar-segar. 

Kalau harga, semua menu yang dipesan, kami hanya membayar kurang dari 300 ribu. Cukup terjangkau dengan porsi banyak seperti itu, harga masih ramah di dompet. 


Over all, pelayanan di Lesehan Apung Bungin ini cukup cepat. Apa karena baru kami saja pengunjung yang datang pagi itu. Infonya lesehan apung ini tetap ramai setiap harinya. Pengunjung banyak dari luar kota. Pas melintas di Sumbawa, menyempatkan mampir disini. 

Pemiliknya juga sangat ramah ke kami. Jadinya kami nyaman selama berada di lesehan apung satu-satunya yang masih bertahan disini. Dulu ada dua lesehan disini yang dikelola oleh desa, tapi karena dampak Covid 19, lesehannya terpaksa tutup. 

Lesehan Apung Bungin yang sekarang ini dikelola oleh satu orang. Bisa dibilang lesehan ini milik pribadi. Kalau kalian mau pesan orderan, bisa hubungi dulu ke nomor kontak yang tertera di foto. Jadi, pas datang sudah dihidangkan. 

Selain wisata kuliner, kita juga bisa belajar sejarah dan sosial dari pulau ini. Pulau yang terkenal dengan pulau terpadat di dunia ini. Karena jarak antar rumah yang mepet dan jumlahnya ribuan, makanya pulau ini disebut Pulau Terpadat di Dunia. 

Gak terasa waktu sudah siang hari. Ketika perut sudah kenyang, saatnya balik ke penginapan untuk check out. Pas kami balik, para pengunjung satu per satu datang. Ada yang berdua sama pasangan, ada juga yang rombongan. 

Pas baliknya kami dijemput oleh perahu kayu tadi. Untuk perahunya gratis ya bagi para pengunjung lesehan apung. Jadi gak kena cash lagi. Gimana, menarik bukan datang ke Bungin?. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra 


Saturday, 18 July 2026

Menginap di Homestay Agal : Rekommended Buat Para Riders


Destinasi selanjutnya yang menjadi tujuan kami selama di Sumbawa yaitu salah satu tempat yang namanya cukup terkenal di Alas, Kab. Sumbawa. Tapi sebelum cerita destinasi wisatanya, saya akan mengajak kalian menginap di salah satu penginapan yang terbilang masih baru di daerah Alas, Sumbawa yaitu Agal Homestay. 


Agal Homestay beralamatkan di Jalan Raya Alas - Sumbawa Besar atau di Desa Luar, Kec. Alas, Kab. Sumbawa. Kurang lebih lima belas menit dari Pelabuhan Pototano. Untuk menemukan lokasi penginapan ini gak susah. Lokasinya persis di pinggir jalan besar, sebelah kiri jalan dari Pelabuhan Pototano sebelum Polsek Alas, Sumbawa Besar. 


Bagi yang belum membaca cerita motoran sebelumnya ke Pulau Sumbawa, kalian bisa buka dulu cerita di postingan minggu lalu biar nyambung sama cerita kali ini. Oke, mari kita mulai mereview penginapannya. 


Agal Homestay atau sebutan di google mapsnya Homestay Agal, merupakan penginapan yang menarik buat saya dari pertama kali melihatnya di chanel salah satu youtuber luar. Jujur saja, beberapa kali ke Alas beberapa tahun yang lalu, saya belum pernah mendapatkan penginapan sekelas homestay atau hotel melati. 


Ujung-ujungnya kalau ke Sumbawa bagian barat, nginapnya di Sumbawa Besar yang jaraknya lumayan jauh dari Alas (dua jam perjalanan). Dulu juga pernah ke Alas, tapi menginap di rumah salah satu warga desa. Ceritanya pernah saya tulis. Bisa dicek di daftar blog. 


Bisa baca disini : Melihat Indonesia dari Air Terjun Agal


Kurang lebih satu jam perjalanan dari Jereweh ke Alas melewati view yang sangat cantik. Jalur meliuk-liuk dengan aspal yang mulus. Gak banyak bertemu kendaraan yang melintas. Tapi kalau kawanan sapi atau kerbau paling banyak bertemu sepanjang jalan. 


Sumbawa bagi saya pribadi menjadi salah satu pulau favorit buat motoran atau touring bareng teman. Apalagi kalau bawa anak-anak dan istri, gak ada obatnya. Pergi jauh tapi gak kepikiran anak istri di rumah karena bareng mereka. Dua kali lipat kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri. 


Setiap kali sebut Pulau Sumbawa, dibayangan kita pastinya terpintas Pulau Kebawa, Desa Mantar, Air Terjun Mata Jitu, Pulau Bungin, Gunung Tambora dan masih banyak lainnya. Gak hanya dari domestik saja, tapi dari mancanegara banyak yang datang ke pulau yang terkenal dengan susu kuda liar dan madunya ini. 


Cuaca siang menjelang sore cukup cerah. Angin juga gak begitu kencang. Melewati daerah perbukitan, jalan yang meliuk-liuk dan menanjak. Sejauh mata memandang dimanjakan oleh panorama alam Indonesia timur, perbukitan yang hijau kekuningan, padang rumput yang hijau, hewan-hewan ternak liar yang dibiarkan mencari makan sendiri oleh si pemilik dan rumah-rumah panggung khas Suku Bajo dan Bugis. 






Satu jam waktu tempuh, sampailah kami di pintu gerbang Homestay Agal. Kalian gak perlu kesulitan mencari penginapan ini. Sudah ada plank bertuliskan Agal Homestay di depan pitu gerbangnya. Memasuki halaman depan yang cukup luas. Memarkirkan motor dan memastikan anak-anak sudah bangun. Sepanjang perjalanan mereka berdua ketiduran. Resiko kalau motoran siang hari bawa anak-anak. 


Btw, kami belum pesan kamar karena saya kesulitan mendapatkan nomor kontak adminnya. Semoga saja masih ada kamar kosong. Setelah menanyakan ke bagian recepsionis, ternyata masih ada kamar kosong. 


Disini kamarnya ada dua tipe. Kamar yang ada water heater dan kamar yang gak ada. Harganya pun berbeda. Kalau yang ada water heaternya seharga 350 ribu sedangkan yang gak ada seharga 250 ribu per malam (dikroscek kalau salah). Kami mengambil yang gak pakai water heater biar tekan budget juga. 


Untuk penampakan homestay bisa dibilang cukup rapi dan tertata baik. Terlihat nyaman dan bersih terutama di bagian depan. Ada area parkir kendaraan yang cukup luas. Bisa menampung sekitar sepuluh mobil. Ada pohon-pohon juga sehingga gak terlalu panas. 


Bangunan homestaynya memanjang. Terdiri dari sepuluh kamar dengan teras depan yang langsung menghadap ke halaman depan. Kami kebagian di kamar nomor empat. Posisinya persis di depan halaman. Ada dua kursi dan satu meja dari kayu. 






Kamarnya mirip kamar rumahan. Lengkap dengan dua tempat tidur terpisah, satu meja panjang, ada televisi tapi sudah gak berfungsi. Ada kamar mandi dalam yang bersih dan cukup luas. Disediakan dua handuk dan perlengkapan mandi seperti sabun dan shampo juga. Semua kamarnya ada AC-nya yang cukup adem. Lantainya keramik standar rumahan gitu. 


Di samping kamar kami, ada bangunan unik dari kayu yaitu rumah panggung minimalis bertuliskan "Homestay Agal". Di bawahnya ada semacam gazebo buat bersantai dan di lantai dua ada kamar kecil yang dihubungkan dengan tangga kayu. Disini kita bisa foto-foto. 


Masih satu area dengan homestaynya, ada cafe yang cukup nyaman untuk bersantai sambil ngopi. Tempatnya juga asyik. Ada beberapa meja dengan diberi payung sebagai pelindung dari hujan dan buah mangga jatuh, hehehe. Disini kita bisa memesan beberapa menu makanan dan minuman. 


Berhubung sudah kelaperan, kami memesan Es Ketan Hitam Thailand 15K, Matcha Latte 20K, Manggo Milk 15K, Pisang Goreng Krispi 15K dan Kentang Goreng 15K.







Menu rekommended buat dicoba kalau datang kesini yaitu Es Ketan Hitam Thailand. Kuah santannya gurih, ketan hitamnya renyah dan ada toping es cream vanilla dan durennya. Enak banget dan porsinya banyak. 


Sore-sore di depan teras kamar, kami menikmati menu yang dipesan. Rasa capek seharian explore Sumbawa Barat dari jalan pagi keliling kota, main air di Pantai Balad, trekking menuju air terjun Ai Kalela hingga motoran ke Alas, jadi hilang seketika. Lumayan merefresh badan biar besok pagi kembali segar dan lebih semangat ke destinasi selanjutnya. 


Karena sore itu kami putuskan gak kemana-mana. Jadinya dimanfaatkan untuk istirahat total di homestay. Keesokan paginya, kami bangun pagi untuk berolahraga jalan santai di depan homestay. Udara pagi di Desa Alas sangat sejuk. Depan homestay terdapat hamparan sawah luas dan deretan pegunungan yang subur. 


Gak jauh dari homestay terdapat salah satu air terjun bernama Air Terjun Agal. Salah satu air terjun terindah di Pulau Sumbawa. Mungkin ini alasan si pemilik homestay memberi nama Agal biar sama terkenalnya sama air terjun yang ada di Desa Marente, Alas tersebut. 


Oh ya, biaya menginap disini sudah sama sarapan untuk dua orang. Tapi sarapannya nasi bungkus. Terkesan sangat sederhana tapi nasi bungkusnya diluar dugaan. Nasinya pulen, porsinya banyak, lauknya juga beragam. Ada ayam goreng, mie mihun, sayur bokah, ada kuah opor. Enak banget dan mengenyangkan. 





Untuk minumnya kami pesan secangkir kopi hitam panas dan teh manis. Disini yang saya suka adalah teh manisnya. Aroma tehnya mengingatkan saya kalau ngeteh di Jawa. Perpaduan manis dan harum. Ngeteh pagi-pagi buat pikiran tenang dan semangat buat ngexplore destinasi hari itu. 


Over all, menginap di Homestay Agal gak mengecewakan. Untuk booking saran saya bisa kontak langsung adminnya. Bisa juga langsung datang tapi kalau beruntung bisa langsung dapat kamar. Penginapannya juga aman, saking amannya saya parkirkan motor di depan kamar, hehehe. 


Untuk urusan administrasi gak ribet. Gak minta akte nikah karena kami jelas bawa anak-anak, hehehe. Hanya minta KTP saja untuk jaminan dan akan dikembalikan saat check out keesokan harinya. Untuk urusan check out juga gak ribet yang harus jam dua belas siang. Bisa dinego, yang penting kelihatan lagi packing-packing barang. Terpenting jangan kebablasan jalan-jalannya sampai lupa mau check out. 


Yang menginap disini kebanyakan tamu yang sedang melintas baik yang dari arah timur maupun yang dari arah barat. Gak hanya domestik saja, tamu dari luar negeri pun banyak yang menginap disini. Lokasinya juga sangat strategis dan cocok buat tempat persinggaham atau transit apabila sedang melakukan perjalanan jauh. 


Mau ke Pulau Moyo atau ke Labuan Bajo, bisa bermalam disini untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Karena tujuan kami menginap di Homestay Agal yaitu akan mengexplore salah satu destinasi yang ada di daerah Alas. Untuk ceritanya saya lanjutkan minggu depan. Ditunggu saja ya!. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra