Langit Bali siang itu yang awalnya cerah jadi agak mendung. Pertanda di bagian utara akan turun hujan. Dari arah Mengwi ke Bedugul gak terlalu padat kendaraan. Jadinya saya bisa menggeber motor agak kencang agar cepat sampai.
Terlihat kendaraan yang dari arah berlawanan sudah basah. Wah, agak cemas karena pastinya akan kedapatan hujan juga. Sesampainya di pertigaan jalanan kecil menuju cafenya, kondisi sudah gerimis.
Dari jalan utama, saya berbelok ke arah jalan kecil memasuki perkampungan warga desa. Nama kampungnya yaitu Banjar Kerobokan, Mekarsari, Kec. Baturiti, Tabanan. Kondisi jalanan disini cukup baik. Aspal mulus penampakan perkampungan disini juga bersih dan tertata rapi khas kampung Bali.
Selain Air Terjun Campuhan yang akan dituju, gak jauh dari perkampungan ini juga terdapat destinasi wisata alam bernama Air Terjun Leke-Leke. Dari pertigaan menuju Air Terjun Leke-Leke, kita berbelok ke kiri menuju arah River Flow Cafe.
Keluar dari perkampungan, kita bertemu dengan jalanan berkelok-kelok dan sedikit menanjak. Kiri-kanan terlihat area perkebunan warga. Pepohonan rindang dengan perbukitan hijau yang sudah tertutup kabur. Hawa dingin sudah terasa. Udara sejuk khas perbukitan membuat hati dan pikiran menjadi syahdu. Rasanya sudah berada jauh dari keramaian.
Kurang lebih menempuh dua jam perjalanan, saya sudah sampai di area parkir pintu masuk menuju Air Terjun Campuhan dan River Flow Cafe. Suasana benar-benar hening dan gak banyak orang yang saya temui. Hanya beberapa motor saja yang terparkir.
Area parkir kendaraan cukup luas. Setelah memarkirkan motor, saya membawa barang secukupnya saja. Sisanya saya taruh di dalam jok motor.
Untuk masuk ke area air terjun, kita membeli tiket masuk di loket sebesar 10 ribu saja. Itu sudah bebas mengexplore air terjun dan cafenya. Tapi untuk pembelian makanan dan minuman di cafenya, tetap bayar lagi sesuai menu yang dipesan.
Dari loket, kita harus berjalan kaki menyusuri jalanan setapak. Terdapat gapura masuk ke dalam. Kurang lebih lima puluh meter lagi, kita bakalan sampai di lokasi.
Terlihat taman kecil penuh dengan rerumputan hijau. Bangunan tua yang gak berpenghuni. Agak horor auranya pas melewati bangunan tersebut. Demi cafe estetik dengan view air terjunnya, rasa takut agak berkurang. Mana sendirian lagi, gak terlihat tanda-tanda akan berpapasan dengan pengunjung lainnya. Apa salah waktu datang kesini ?,pikir saya saat itu.
Sore itu hujan sudah mulai turun. Saya percepat langkah biar gak basah kuyup. Gak enaknya saat itu kaki agak sakit karena kelamaan pakai sepatu. Agak sedikit bengkak di area ibu jari dan sakit sekali. Untungnya masih kuat berjalan.
Suara air yang cukup deras sudah terdengar samar-samar. Tandanya sebentar lagi kita akan sampai. Dari kejauhan sudah terlihat cafenya. Sebelum sampai, saya harus menyeberangi sungai kecil melalui jembatan kayu. Kalau cuaca cerah bakalan bagus buat spot foto.
Setelah melewati jembatan kayu, akhirnya sampai juga di River Flow Cafe. Tepat di depannya Air Terjun Campuhan. Dipisahkan oleh sungai kecil dengan air yang cukup jernih. Ini namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlewati.
Suasana hening sekali. Hanya ada saya dan tiga orang pengunjung. Itupun mereka satu rombongan keluarga. Kebetulan ini masih hari biasa dan waktu juga sudah menuju sore hari. Sekitar jam empat sore saya baru sampai sini.
Penampakan cafenya saya suka. Terdapat beberapa tempat duduk dari semen beton. Bangku-bangku besi juga tertata rapi. Bangunannya dibuat konsep outdoor dan bertingkat. Hanya terdapat bangunan outlet berbentuk kotak bercat putih untuk tempat memesan minuman.
Di tingkat paling atas terdapat tempat duduk beratapkan kanopi. Syukurnya masih ada sisa tempat duduk disana. Jadinya bisa terlindung dari hujan yang turun sore itu.
Berlokasi di kawasan Air Terjun Campuhan, River Flow menawarkan konsep yang sederhana tapi justru menjadi daya tarik tersendiri. Begitu sampai, yang langsung terasa bukan aroma kopi duluan, tapi suara aliran air dan suasana alam yang bikin waktu terasa melambat.
Area duduknya dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar. Tidak terasa berlebihan atau terlalu ramai dekorasi. Bahkan memiliki nuansa terbuka dengan pemandangan hijau di sekelilingnya yang membuat tempat ini nyaman untuk bersantai menghabiskan waktu seharian.
Karena kesini tujuannya ingin ngopi santai sambil menikmati air terjun, saya memesan Coffee Late hangat dengan harga 22 ribu. Ditambah lagi dengan hujan turun dengan derasnya, rasanya syahdu sekali. Rasa ragu dan lelah motoran di tengah keramaian Kota Denpasar hilang begitu saja.
Benar-benar menenangkan. Jauh dari sinyal internet dan benar-benar rasanya menyatu dengan alam. Langit semakin gelap, hujanpun turun semakin deras. Saya mencoba tetap menikmati sisa moment-moment yang ada meskipun sempat khawatir juga kalau hujan gak reda sampai malam, bakalan kemaleman sampai Padangbai.
View dari cafe ini gak ada obatnya. Mungkin ini satu-satunya cafe dengan konsep menyatu dengan alam yaitu Air Terjun Campuhan dengan kolam alami tempat bermain air.
Menikmati aliran sungai dengan air jernih, mengalir dengan deras di sela-sela bebatuan. Kolam alami yang berukuran gak terlalu lebar. Air terjun yang begitu deras, suara kicauan burung dan hujan membuat suasana begitu menenangkan dan syahdu.
Gak nyesel datang kesini meskipun berjumpa dengan hujan dan kaki kurang bersahabat. Benar-benar pengalaman yang sangat seru. Lain waktu kalau motoran ke Bali lagi, bakalan datang kesini lagi bareng anak-anak dan istri.
Dengan tiket masuk 10 ribu ditambah pesan Coffee Late 22 ribu jadi total 32 ribu sudah bisa menikmati alam Air Terjun Campuhan sambil duduk santai di River Flow Cafe.
Selain Caffe Latte, masih banyak minuman lainnya baik panas maupun dingin. Menu berat sampai snack juga ada buat menikmati minum kopi. Harganya pun ramah di kantong.
Over all, tempatnya bersih dan tertata rapi. Beberapa titik ada tempat sampah. Toilet juga bersih. Aman dan nyaman bagi pengunjung. Agak sedikit horor sih kalau baliknya kemalaman karena lokasinya benar-benar di dalam hutan dan di lereng perbukitan.
Untuk Air Terjunnya buka dari jam tujuh pagi sampai lima sore. Sedangkan untuk River Flow Cafenya buka dari jam tujuh pagi hingga sepuluh malam. Berani juga ya karyawan cafenya stay disini hingga malam hari. Hehehe.
Waktu sudah menunjukkan jam lima sore. Jadwal kapal balik ke Lombok saya ambil yang jam depalan malam. Ada waktu dua jam perjalanan menuju Pelabuhan Padangbai. Beruntungnya, hujan juga sudah mulai reda.
Bisa dibilang beruntung bisa kesini di waktu yang gak ramai pengunjung. Biasanya di waktu libur kerja dan anak sekolah, cafe ini selalu ramai dikunjungi. Yuuk, kapan lagi kesini kalau kalian datang berlibur ke Bali.
Penulis : Lazwardy Perdana Putra