Monday, 13 July 2026

Coffee Shop Favorit Sambil Ngeblog : Toko Kopi Bertiga


Dari beberapa kedai kopi yang pernah saya datangi baik di Kota Mataram maupun di luar Lombok, ada yang sudah gulung tikar dan ada juga yang masih bertahan hingga sekarang. Begitu juga di awal tahun 2026, sudah banyak menjamur coffee shop dengan nama unik dan menawarkan tempat dan menu kopi menarik. 

Gak hanya menjual tempat yang estetik dan nyaman. Tapi yang terpenting juga produk yang dijual juga harus cocok di mulut banyak orang dan harga terjangkau terutama untuk menu kopinya. 

Kalau saya pribadi, mencari coffee shop atau kedai kopi yang tempatnya nyaman untuk nulis. Mau ngopi tapi pengen nyari tempat yang asyik buat meeting atau nulis, di Toko Kopi Bertiga  tempatnya. Nama yang unik dan beda dari lainnya. Salah satu coffee shop yang secara kebetulan saya temukan saat pulang kerja. 

Karena penasaran pengen masuk ke dalam coffee shopnya, akhirnya saya putuskan untuk mampir sebentar. Masih ada waktu luang untuk sekedar melepas penat seharian urus kerjaan di kantor.

Bertiga atau biasa disebut Toko Kopi Bertiga beralamatkan di Jalan Catur Warga no. 23, Kota Mataram. Tepatnya berada di seberang toko hp Ricky Smartphone. 







Yang saya suka dari coffee shop ini yaitu tata letak ruangannya. Dari depan hanya terdapat tembok dan pintu masuk. Jadinya gak terlihat dari luar. 

Terdiri dari tiga ruang, indoor, semi outdoor dan outdoor. Bagi yang ahli hisap paling cocok duduk di ruang semi outdoor dan outdoor. Kalau saya lebih suka duduk di ruang indoornya karena adem dan buat nyaman untuk nulis. 

Masuk ke dalam coffee shopnya, saya disambut oleh salah satu karyawan dengan hangat. Saya langsung melihat daftar menu dan pesan Kopi Bersama seharga 23K dan Banana Cake seharga 16K.

Setelah pesan dan bayar, saya menunggu pesanan dibuat. Sambil menunggu saya memilih tempat duduk yang enak buat kerja. Tempat duduknya berupa meja kayu berukuran segi empat dengan dua buah kursi kayu saling berhadapan. 

Penampakan ruang coffee shopnya juga estetik. Dinding ruang yang disemen kasar dengan tehnik modern. Di sudut ruang berupa dinding kaca transparan dengan roller blind sebagai gorden. 

Dari dalam kita bisa melihat area outdoor berupa taman mini dengan beberapa kursi besi dan dudukan dari semen. Ditambah lagi dengan tanaman-tanaman hias. Di area semi outdoornya terdapat beberapa meja kursi untuk meeting dan nongkrong. Dari sini, kita bisa melihat arus lalu lintas kendaraan di depan coffee shop karena didesain terbuka gitu. 





Dari review ini selesai ditulis, saya sudah dua kali datang kesini. Kalau mau cuci mata lihat yang bening-bening, paling enak datang kesini itu sore atau malam hari. Sedangkan kalau mau nyari tempat yang tenang buat nulis atau kerja di laptop, bisa datangnya siang hari karena lebih sepi dibandingkan sore dan malam. 

Pertama kali datang kesini saya memesan Kopi Bersama. Untuk satu cupnya porsinya lumayan banyak. Soal rasa, lumayan enak. Gak terlalu manis dan terpenting percampuran espresso dan susunya nendang banget. Ditambah gula aren sebagai pemanis, dijamin betah lama-lama duduk disini. 

Datang kedua kali saya memesan manggo punch yaitu perpaduan sirup mangga dengan susu fermentasi alias yakult. So, saat minum terasa sepet-sepet di lidah dan buat seger. Cocok buat nemenin nulis blog karena buat mata melek terus. 

Untuk cemilannya, saya memesan banana cake. Karena suka dengan yang berbau pisang, baik minuman, cemilan atau olahan makanan yang berbahan dasar pisang. 

Buat yang gak doyan kopi, disini ada jenis minuman non kopi. Kalian tinggal pilih yang ada di daftar menu. Btw, disini gak menjual makanan berat seperti rice bowl, atau kentang goreng. Cemilan disini hanya pastry saja semacam cake dan roti karena disini konsepnya toko kopi jadinya gak seperti cafe pada umumnya. 



Over all, salah satu tempat nyaman buat kerja atau nulis versi saya. Tempatnya agak tertutup dari luar. Bagi yang introvert cocok nih buat belajar atau curhat bareng temen dan gebetan. 

Selain nyaman, disini juga free wifi dan sinyalnya kencang banget. Bisa diem-diem download anime atau drakor, hehe. Kalau masuk waktu shalat, disini juga disediakan mushola di bagian belakang. Fasilitas lainnya ada toilet standar cafe kekinian dengan konsep modern. 

Yang mencari ketenangan sambil buka laptop, entah buat nulis, selesaikan tugas atau sekedar ngobrol bareng teman sambil mendengar lagu-lagu kekinian, kalian bisa ke Toko Kopi Bertiga. 

Buka setiap hari dari pukul 07.30 - 23.00 WITA. Buat yang mau minum kopi pagi-pagi, bisa datang kesini. Kalian bisa kepoin akun instagramnya juga di @bertiga.bsm (bukan ngendorse). 

Semakin malam, nongkrong disini semakin asyik. Melihat lampu-lampu coffee shop yang menambah suasana menjadi ingin berlama-lama duduk disini. Tapi karena sudah malam, mari kita pulang karena istri dan anak-anak sudah menunggu di rumah. Hehehe 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Friday, 10 July 2026

Mengexplore Air Terjun Ai Kalela Jereweh : Gak Ada Obat

 


Perjalanan dari Lombok hingga menginjakkan kaki di Jereweh, salah satu kota kecamatan yang ada di Kab.Sumbawa Barat, tenaga masih lebih dari cukup karena sepanjang perjalanan kami merasa bahagia. Ditambah lagi anak-anak semakin semangat diajak melanjutkan perjalanan. Syukurnya kami semua dalam keadaan sehat dengan waktu istirahat yang lebih dari cukup. 

Setelah dari Pantai Balad, kami kembali ke penginapan untuk packing barang. Kebetulan siangnya kami langsung check out dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya. 

Jaraknya kurang lebih dua puluh kilometer dari Kota Taliwang. Ini alasan kami punya rencana berkunjung kesini. Kebetulan juga sudah janjian bareng temen kuliah istri dulu yang rumahnya di Jereweh. 

Hari itu tepat Hari Jumat, kami check out sekitar jam sebelas siang. Target kami, sampainya di Jereweh sebelum shalat Jumat. Kemanapun kita jalan, jangan lupa melaksanakan kewajiban kepada Allah SWT agar perjalanan kita lancar dan selamat sampai balik ke rumah lagi. 

Estimasi kurang lebih lima belas menit motoran dari Taliwang ke Jereweh. Jalur yang kami lewati yaitu Desa Labuan Lalar yang merupakan desa tanah kelahiran nenek dan bapak saya sendiri. Kebetulan keluarga di Labuan Lalar sudah gak ada. Jadinya kami gak sempat mampir. 

Jalur yang kami lewati yaitu jalan yang berkelok-kelok. Melewati pinggir pantai dengan view yang sangat eksotis. View pantai di Sumbawa Barat ini gak kalah dengan Lombok punya. Melewati Desa Labuan Lalar, kurang lebih lima menit berjalan, kami sudah sampai di pertigaan kota kecamatan Jereweh. 





Kami menuju rumah temen istri yang bernama Mbak Afri. Rumahnya gak jauh dari jalan besar. Memasuki perkampungan warga khas Sumbawa dengan rumah-rumah panggung yang masih terjaga dan kita bisa lihat sampai sekarang. 

Sesampainya di depan rumah Mbak Afri, kami disambut dengan hangat. Anak-anak juga gak rewel bertamu ke rumah orang. Istirahat sebentar, saya lanjut menuju Masjid Besar Nurul Ihsan untuk melaksanakan shalat Jumat yang lokasinya gak jauh dari rumah mbaknya. 

Selesai Shalat Jumat, saya balik ke rumah mbaknya. Lanjut makan siang yang sudah dihidangkan oleh tuan rumah. Setelah makan siang, kami sudah janjian bakal mengexplore Air Terjun Ai Kalela. 

Waktu menunjukkan jam setengah dua siang. Kami langsung menuju air terjun yang jaraknya gak begitu jauh dari perkampungan warga. Berhubung ditemani oleh orang sini, jadinya kami merasa aman saja.

Ini kedua kalinya saya sendiri datang ke Ai Kalela. Sudah hampir delapan tahun lamanya sejak pertama kali kesini. Jadinya agak lupa jalur yang dilewati. Seingat saya, kita bakalan lewat jalur tanah di tengah sawah. Belum lagi ada sedikit tanjakan. Pokoknya bakalan seru perjalanan ini. 

Jarak lokasi air terjun dari rumahnya Mbak Afri itu kurang lebih dua kilometer. Keluar perkampungan warga, kami melewari jalur persawahan. Awalnya kondisi jalan aspal mulus, belok ke kiri mendadak kondisi jalan berubah menjadi berbatu dan berdebu.

Untungnya pakai motor Nmax yang ukurannya lebih besar dan ban motor yang terpenting. Tapi disini tantangannya dimulai. Kami harus melewati jalanan berbatu yang sempit. Memasuki kebun warga dan jalanan sempit mulai menanjak. Viewnya sebenarnya keren. Area persawahan yang dikelilingi oleh perbukitan hijau. 

Cuaca juga sangat mendukung. Tapi karena jalanan berdebu dan berbatu, fokus kami hanya gimana caranya keluar dari rintangan ini dengan selamat terutama ban motor gak ada masalah. Itu saja yang saya khawatirkan, semoga ban motor gak ada yang pecah karena beban kami yang cukup berat. Sementara Mbak Afri dan kedua anaknya, santai sekali melewati jalanan berdebu dan berbatu. Mungkin karena orang sini dan sudah biasa datang kesini kali ya.

Kurang lebih lima belas menit waktu yang ditempuh, sampai juga kami di pintu masuk Air Terjun Ai Kalela. Berhubung Hari Jumat dan datangnya siang hari, otomatis sepi pengunjung. Saya memarkirkan motor di area parkir yang sudah disediakan. Disini sudah ada penjaga parkirnya, jadi kendaraan kita sangat aman. 




Terlihat ada beberapa pengunjung yang datang lebih pagi dari kami. Mereka datangnya rombongan, keliatannya dari luar pulau. Selain kami ada warga lokal yang datang kesini buat mandi siang. Terlihat pakaian mereka basah kuyup. Kebanyakan emak-emak yang bawa bocil masing-masing. 

Gak hanya mereka saja, tapi kami membawa para bocil juga. Untungnya mereka aman-aman saja di atas motor. Bahkan di luar ekspektasi saya dan istri, mereka ketawa-ketawa saat motor bergetar karena menginjak batu-batu krikil. 

Setelah memarkirkan motor, kami berjalan kaki menyusuri hutan melewati jalanan tanah. Fasilitas umum disini ada kamar mandi dan toilet untuk berbilas. Hanya saja, kondisinya agak kurang terawat. Disini juga gak ada tiket masuk ke air terjun. Hanya kita bayar sukarela saja kepada bapak penjaga parkirnya. Kurang tau juga kalau weekends, mungkin ada petugas yang menarik uang tiket masuk ke lokasi air terjun.

Perjuangan menuju air terjun belum sampai di parkiran saja. Tapi kami harus menyusuri hutan dengan trek menanjak. Apalagi ini kali pertamanya anak-anak kami bawa ke alam liar. Gak kebayang jalur treknya seperti ini. Dulu sepertinya aman-aman saja. Apa saya sudah lupa ya kondisi treknya seperti ini. Andai masih ingat, mungkin mikir-mikir bawa anak-anak kesini. 

Sekitar seratus meter berjuang menyusuri hutan liar dengan jalanan setapak sempit. Suara air terjun sudah terdengar. Terdengar pula, suara anak-anak yang sedang mandi disini. Gak terasa, Air Terjun Ai Kalela sudah terlihat. Ujian terakhir yaitu menuruni jalanan tanah menuju bawah sungai. Gak semudah itu turun kebawah dalam keadaan bawa anak kecil. Fokus menjaga mereka agar aman sampai bawah. 

Welcome Air Terjun Ai Kalela !. 

Mengenal air terjun ini, banyak warga desa yang menamakan air terjun ini dengan sebutan yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya Air Terjun Ai Koa, Air Terjun Jantup dan nama yang tertulis di papan petunjuk, membuat kami kebingungan yaitu Air Terjun Semporon Tangkil. 

Saya pernah bertanya pada saat datang pertama kali kesini kepada salah satu warga, ternyata Semporon Tangkil adalah sebutan lain dari Air Terjun Ai Kalela dan nama Ai Kalela lebih dikenal oleh warga Jereweh maupun dari luar Jereweh. 






Meskipun saya sudah pernah datang kesini, tapi rasanya bahagia bisa berkunjung lagi ke salah satu air terjun terindah di Pulau Sumbawa. Kolam alami dengan air berwarna hijau toska. Bebatuan yang putih kecokelatan. Air terjun yang jatuh ke kolam alami dengan derasnya. 

Beruntungnya kami datang kesini pas peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Jadi debit air terjunnya masih cukup melimpah. Bebantuan yang umurnya ribuan tahun lalu membentuk sebuah lelukan dan ruang di balik air terjun. Mirip seperti air terjun Mata Jitu yang ada di Pulau Moyo. 

Kolam alaminya cukup dalam dan gak disarankan buat kalian yang gak jago renang untuk berenang di kolam alami ini. Bagi yang bawa anak kecil juga harus ekstra hati-hati. Orang tua jangan sibuk foto-fotoan saja. Ingat jaga anak yang lebih penting  !. 

Untuk airnya cukup dingin dan udara disini sangat sejuk. Sinar matahari menyinari dari balik rimbunnya pepohonan hutan alami. Destinasi alam yang masih cukup dijaga dan belum banyak orang luar yang datang kesini. 

Pointnya tempat seperti ini harus dijaga dari sisi kebersihan, gak ada sampah plastik dimana-mana, gak menebang pohon sembarangan. Gak merusak benda apapun yang ada di sekitar area destinasi. 

Waktu yang pas buat datang kesini saat pagi hari dan selain hari libur sekolah dan kerja. Untuk mendapatkan alaminya itu bisa datang di luar waktu libur panjang juga. Menikmati serasa kolam dan air terjun milik sendiri. 

Btw, istri dan anak-anak sangat bahagia diajak kesini. Awalnya saya menawarkan untuk ke tempat lain yang lebih dekat dengan penginapan di Kota Taliwang. Tapi berhubung mau jalan-jalan ke Jereweh, yasudah kita gass ke Air Terjun Ai Kalela. 

Over all, buat yang akan merencanakan mengexplore Sumbawa Barat, gak ada salahnya berkunjung kesini. Lokasinya gak jauh dari pusat kota kecamatan. Hanya saja dicek kembali kendaraan yang akan dibawa karena jalur menuju kesini masih benar-benar alami. 

Destinasi wisatanya aman dan nyaman. Sepanjang perjalanan dari pusat kota menuju lokasi air terjun jika berpapasan dengan warga desa, mereka pada ramah semua. Begitu juga dengan petugas yang menjaga tempat tersebut juga sangat ramah. 

Saking ramahnya, gak tega kami gak memberikan sekedar untuk beli rokok dan kopi. Bapaknya menerima dengan ramah. Itu yang saya suka kalau mengexplore Pulau Sumbawa, warga lokalnya ramah dan gak segan-segan mau menolong. 

Singkat cerita, setelah menikmati view air terjun Ai Kalela yang menjadi kisah terindah tersendiri bagi anak-anak dan istri. Pastinya akan dikenang sampai mereka besar nanti (kecuali istri yang memang sudah besar). 

Pulang dari air terjun, waktu sudah menuju sore hari. Sebelum ashar, kami berpamitan kepada Mbak Afri dan keluarga. Sayangnya suami mbaknya belum pulang kerja, jadinya gak sempat bertemu. 

Setelah lepas dari Jereweh, kami menuju arah utara yaitu Desa Alas, Kab. Sumbawa. Gimana keseruan cerita kami di Desa Alas, ditunggu ceritanya di minggu depan  !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra






Saturday, 4 July 2026

Jalan-Jalan Pagi di Kota Taliwang : Sumbawa Barat

 


Rencana tiga hari mengexplore Sumbawa Barat, hari pertama kami memilih untuk menginap di Kota Taliwang. Alasannya karena gak jauh dari kota ini terdapat beberapa destinasi wisata alam yang bisa diexplore. Dari wisata kota, kuliner, pantai hingga air terjun. 

Kota ini juga mengalami beberapa perubahan seperti penataan kota yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sudah banyak penginapan yang nyaman dengan harga terjangkau. Mau wisata kuliner juga banyak pilihan. Buat anak-anak juga sangat ramah karena udara disini cukup sejuk karena diapit oleh beberapa perbukitan. 

Sampai di kota ini sekitar jam setengah enam sore. Kami putuskan sesampai di penginapan nanti bersih-bersih dan istirahat sejenak. Lumayan kurang lebih delapan jam motoran dari Mataram sampai di Taliwang. Itupun sudah dipotong sama penyeberangan tiga jam-an. Buat saya dan istri aman-aman saja. Tapi kasihan anak-anak terlihat capek meskipun nyatanya tenaga masih tiga puluh watt, hehehe. 

Sangat penting menjaga stamina dan kesehatan anak-anak karena keesokan harinya, kami akan memulai mengexplore beberapa destinasi wisata alam di Sumbawa Barat. 

Menginap di RIDAY Guest House 

Seminggu sebelum hari keberangkatan, saya mencari penginapan di Kota Taliwang. Ada beberapa pilihan, tapi kami memilih menginap di RIDAY Guest House saja karena kami rasa tempatnya nyaman dan dekat dari pusat kota

Saya memesan lewat whatsapp dimana dapat nomor kontak pemiliknya lewat google maps. Syukurnya nomor yang ada di google maps adalah nomor yang tepat. Responnya juga cepat dan si pemilik sangat ramah. 






Kesan pertama bagi saya dan istri pribadi sangat positif memilih penginapan ini. Kami pesan satu kamar untuk semalam saja karena keesokan harinya kami pindah tempat. Harganya juga cukup murah yaitu 350 ribu untuk kelas guest house. Itupun bisa bayar di tempat saat sudah sampai di penginapan. 

Disini tipe kamarnya hanya satu. Kalian bisa memilih mau yang double bed atau single beds. Kami memilih yang double bed untuk dua orang dewasa dan dua anak-anak. Kamarnya juga cukup nyaman. Ukurannya seperti di kamar rumahan. Fasilitas cukup lengkap, ada AC 1 PK, meja kerja, lemari menyimpan pakaian,  cangkir dan alat pemanas air lengkap dengan kopi sachetan. 

Penampakan guest housenya mirip kos-kosan. Bersih, penataannya rapi. Terdiri dari empat kamar dengan cat tembok serba putih. Ada teras dan dua kursi untuk nongkrong di depan kamar. Kamar mandinya cukup luas dengan adanya water heater, closed duduk, shower, peralatan mandi, handuk dua buah, cermin dan yang saya suka kamar mandinya harum dan lantainya gak licin. 

Wort it banget ada penginapan kelas guest house di kota ini. Lokasinya juga dekat dengan pusat pemerintahan dan Masjid Agung Darussalam Sumbawa Barat dan Tugu Kemutar Telu Center (KTC). 



Riday Guest House ini beralamat di Dusun Kuang, Taliwang, Sumbawa Barat. Dekat dengan area perkantoran. Mau ke pusat keramaian kota juga cukup dekat. 

Buat kalian yang berencana perjalanan tugas dinas atau ada urusan di Kota Taliwang, bisa memilih penginapan ini. Info dari pemilik yang bernama Ibu Rida, penginapannya sering dipesan oleh para pegawai dari luar kota yang sedang melakukan tugas dinas di Sumbawa Barat. 

Di halaman depan penginapan ini juga terdapat area bermain anak-anak. Terdapat ayunan buat bersantai. Anak-anak sangat nyaman menginap disini. Kesan pertama sudah buat kami tersenyum. 

Selain dapat kamar yang cukup bagus dan nyaman, kami juga mendapatkan fasilitas sarapan yang dimasakin langsung oleh asisten rumah tangga si pemilik karena bangunan penginapan ini nyambung dengan bangunan rumah si pemilik. Vibesnya ngekos bareng ibu kost. Hehehe. 

Makan Malam di Rumah Makan Tarasa Taliwang

Setelah mandi dan shalat magrib di kamar, kami keluar untuk mencari makan malam. Kebetulan juga perut sudah memanggil-manggil untuk diisi. Sekalian keliling kota di malam hari karena penasaran melihat suasana Kota Taliwang di malam hari. 

Sempat bingung mau makan apa dan dimana. Muter-muter Kota Taliwang yang gak begitu luas. Terlihat banyak pedagang kaki lima dan warung makan yang buka di tengah pusat keramaian kota. 

Ada serba lalapan, sate dan soto Madura, nasi rendang, bakso, sampai jajanan pasar ada yang buka hingga malam hari. Kota ini cukup ramai dan jangan khawatir untuk mencari segala kebutuhan ada semua disini. Yang penting jangan cari mall saja karena belum ada disini. 

Fasilitas umum seperti masjid agung, rumah sakit, klinik, apotek, bank, ruang terbuka dan SPBU ada disini. Jalan kota juga dalam kondisi baik dengan aspal mulus. Penataan kotanya sangat rapi dan enak dipandang. Trafic light juga berfungsi dengan baik. Warga kota juga sangat taat berlalu lintas. Itu yang saya suka jika datang ke suatu daerah yang dimana warganya sangat cinta kebersihan dan tertib di jalan. 




Muter-muter kota sambil memilih mau makan dimana. Akhirnya kami menjatuhkan pilihan di rumah makan Tarasa. Ini yang dipilih ibunya anak-anak. Biasanya apapun urusan makan di luar, saya serahkan ke istri. Kalau saya makan apa saja mau. Apalagi sudah laper banget. 

Dari depan rumah makan, tempatnya cukup sederhana. Di depan pintunya terpampang daftar menu lengkap dengan foto dan harganya. Jadi kita bisa tau menu apa saja yang ada disini dan harganya berapa. Menurut saya harganya cukup terjangkau. Menu-menunya juga sangat cocok sama anak-anak. 

Kalau saya dan istri memesan nasi goreng ayam, sedangkan anak-anak, kami pesanan nasi goreng telur. Makan yang hangat-hangat di tengah udara malam yang cukup dingin. Soal rasa menurut saya enak banget. Bumbunya berasa, gak banyak minyak dan toping ayamnya cukup banyak. Apalagi diberi kerupuk biar nafsu makan bertambah. 

Untuk minumnya kami memesan es jeruk peras dan jus alpukat. Seger banget habis makan nasi goreng. Porsinya juga lebih dari cukup. Tempatnya cukup nyaman dan bersih karena ada lesehannya. Pelayanannya juga baik dan ramah-ramah. 

Jalan Pagi di KTC Taliwang, Ruang Terbuka Hijau 

Keesokan harinya, bangun pagi kuterus shalat subuh dan gak lupa menggosok gigi. Setelah itu kami berencana untuk jalan pagi di ruang terbuka hijau KTC Taliwang yang jaraknya gak begitu jauh dari penginapan. 

Lokasi pertama yang kamj tuju yaitu lapangan depan pendopo Bupati Kab. Sumbawa Barat.  Disini banyak warga yang berolahraga. Penatataanya juga sangat rapi. Terdapat trotoar mengeliling lapangan pendopo. Disini juga ada panggung permanen yang dipakai untuk acara formal, event atau konser. 

Dari kejauhan telihat perbukitan yang diseluti kabut. Udara pagi yang sejuk dan segar. Jauh dari yang namanya polusi. Suasana perkotaan yang nyaman dan damai. Apalagi warga kota yang sangat ramah terhadap pendatang. 








Setelah muterin lapangan pendopo bupati dan berfoto-foto mengabadikan moment. Kami berjalan menuju ke KTC (Kamuter Telu Center). Disini bisa dibilang mirip seperti Jalan Udayana di Kota Mataram. 

Ruang terbuka hijau dengan dibuatkan trotoar untuk penjalan kaki dan disediakan beberapa bangku panjang untuk warga bersantai. Pohon-pohon rindang membuat warga kota nyaman untuk berolahraga.

Yang saya suka dari KTC adalah suasananya yang tenang. Gak terlalu ramai, tetapi tetap terasa hidup. Sesekali terdengar suara burung dan obrolan ringan para warga yang membuat pagi terasa begitu damai. 

Sepanjang jalan di KTC ini sangat bersih. Terdapat beberapa bak sampah yang disediakan untuk warga yang ingin membuang sampah. Petugas kebersihan juga standby melaksanakan tugasnya setiap hari. 


Bagi saya, jalan pagi bukan hanya soal olahraga, tetapi juga kesempatan untuk menikmati suasana kota dari sisi yang berbeda. Gak perlu terburu-buru, cukup melangkah perlahan sambil menikmati setiap sudut KTC yang mulai dipenuhi aktivitas warga.


Sebelum berpindah ke lokasi lain, kami berfoto terlebih dahulu di depan kantor bupati Kab. Sumbawa Barat dan depan tugu KTC berlatar Masjid Agung Darussalam, Taliwang. 


Penasaran Melihat Deburan Ombak Pantai Balad 

Habis jalan pagi di kawasan KTC Taliwang, kami beralih ke pantai yang jaraknya sekitar sembilan kilometer atau sekitar sepuluh menit dari Kota Taliwang. 

Perjalanan menuju pantai ini terasa menyenangkan. Jalan yang dilalui cukup nyaman dengan pemandangan perbukitan hijau dan perkampungan warga. Jalan menuju pantainya juga cukup baik. Begitu tiba di Pantai Balad, suasananya langsung membuat pikiran terasa lebih ringan.

Saya baru tau di depan Pantai Balad, banyak terdapat penginapan atau homestay dan bungalow yang harganya relatif terjangkau. Kapan-kapan pengen staycation di pantai ini. 

Gak ada pintu masuk resmi menuju pantainya. Kita bisa mengambil jalan tanah sempit yang mengarah ke pantai. Saya gak tau yang mana biasanya jalan masuk menuju pantai yang banyak orang lewati. Tapi melihat dari kejauhan ada sekelompok remaja laki-laki yang sedang berkumpul di salah satu gubuq bambu. Langsung saja kami menuju ke arah mereka. 

Gak ada bayar masuk dan parkir. Bisa dibilang kami gak bayar sepeserpun masuk ke dalam wilayah pantai. Udara pantai sudah tercium dan mengucapkan selamat datang ke kami. 







Setibanya di pinggir pantai, kami memarkirkan motor di depan warung. Setelah itu kami berjalan menuju bibir pantai. Saat itu ombaknya cukup tinggi tapi angin gak terlalu kencang. 

Kami memilih duduk di salah satu bangku kayu panjang milik warung. Pemilik warung sangat ramah kepada kami. Suasana pantainya juga tergolong sepi. 

Pantai ini memiliki pasir yang bersih dengan air laut yang jernih. Meskipun warna pasirnya gak putih alias agak kehitaman. Ombak disini tergolong sedang tergantung cuaca saat itu. Angin laut yang bertiup pelan menjadi teman terbaik untuk melepas penat setelah rutinitas yang padat.

Warna air laut di pantai ini cukup keren. Gradasi hijau toska dan birunya air laut ditambah lagi dengan deburan ombak yang membuat suasana menjadi syahdu. Angin pantai yang sepoi-sepoi dan deretan pohon kelapa yang melambai-lambai. Eksotis sekali !. 

Di sebelah utara terlihat lereng perbukitan dan kawasan perkampungan nelayan. Perahu-perahu nelayan berjejer rapi. Garis Pantai Balad cukup panjang. Dari kejauhan sebelah selatan terlihat deretan perbukitan hijau dan pulau-pulau kecil. 

Saya memilih duduk di salah satu bangku panjang sambil menikmati secangkir kopi susu hangat. Gak perlu banyak aktivitas, cukup memandang laut yang membentang luas, sesekali melihat perahu nelayan yang melintas, rasanya sudah cukup untuk mengisi ulang energi.

Tapi gak berlaku bagi anak-anak, mereka asyik bermain pasir sambil sesekali menunggu ombak datang. Saya dan istri mau gak mau ikut menemani mereka karena ombak pantai saat itu cukup tinggi. 





Over all, aktifitas hari pertama di Kota Taliwang, menuju penginapan, malamnya pergi makan malam di Rumah Makan Tarasa. Keesokan harinya, bangun pagi, lanjut jalan pagi di ruang terbuka hijau KTC Taliwang. Setelah itu lanjut ke Pantai Balad menjadi agenda kami di Kota Taliwang sebelum melanjutkan perjalanan ke Jereweh. 

Jadi saya cukupkan cerita keliling Kota Taliwang dalam tulisan ini. Minggu depan saya lanjutkan cerita menuju destinasi wisata alam lainnya masih di wilayah Sumbawa Barat. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra