Thursday, 4 June 2026

Ngopi Santai bersama Air Terjun Campuhan : River Flow Cafe


Kalau lagi cari tempat di Bali yang suasananya lebih adem, jauh dari hiruk pikuk keramaian Kuta dan jalanan Kota Denpasar yang macet, saya menemukan salah satu spot yang cocok buat menghabiskan waktu seharian yaitu Air Terjun Campuhan. 


Lokasinya berada gak jauh dari Danau Ulun Danu Beratan, Bedugul. Waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan dari kawasan Seminyak dan Legian menggunakan kendaraan pribadi. 


Bisa baca disini : Menginap Rasa camping di Taman Danu Glamping Bedugul


Tempat ini memiliki nuansa yang sederhana tapi justru itu daya tariknya. Suara aliran sungai, kicauan burung, pepohonan hijau, dan suasana yang bikin pengen duduk lama tanpa diburu oleh waktu. 


Berawal dari iseng-iseng buka instagram. Lalu secara kebetulan muncul di beranda reel salah satu kedai kopi dengan view cantik dari air terjun. Nama kedai kopinya River Flow Cafe. Pas melihat titik lokasinya yang aksesnya gak terlalu susah, kok jadi tertarik buat kesana. 






Perjalanan siang itu dimulai dari Grand Mercure Hotel Seminyak Bali. Setelah check out dari hotel, saatnya mulai mengexplore Bali. Kalau pulang langsung ke Lombok, rasanya sayang banget sudah jauh-jauh motoran ke Bali hanya untuk menghadiri acara dan stay di hotel saja. 

Sebelum pulang ke rumah, saya sudah punya rencana buat ridding tipis dulu. Kebetulan juga motoran sendirian, jadi bebas mau kemana saja. 

Setelah makan siang di salah satu tempat makan yang cukup ramai di kawasan Badung, saya melanjutkan perjalanan ke arah utara. Kondisi lalu lintas dari Badung ke arah Denpasar cukup padat merayap. Apalagi lagi long weekend jadinya harap bersabar.

Google maps saya aktifkan untuk membantu perjalanan agar gak tersesat. Sudah sering motoran ke Bali tapi masih gak hafal jalan. Tau sendiri kondisi jalan di Bali itu penuh dengan percabangan, tapi disitulah keunikan Bali. 

Kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya saya keluar dari Kota Denpasar, menuju arah Mengwi. Dari pertigaan Mengwi, mengambil arah jalan lintas provinsi yaitu destinasi wisata alam Ulun Danu Beratan, Bedugul dan Kab. Singaraja. 

Langit Bali siang itu yang awalnya cerah jadi agak mendung. Pertanda di bagian utara akan turun hujan. Dari arah Mengwi ke Bedugul gak terlalu padat kendaraan. Jadinya saya bisa menggeber motor agak kencang agar cepat sampai. 

Terlihat kendaraan yang dari arah berlawanan sudah basah. Wah, agak cemas karena pastinya akan kedapatan hujan juga. Sesampainya di pertigaan jalanan kecil menuju cafenya, kondisi sudah gerimis. 

Dari jalan utama, saya berbelok ke arah jalan kecil memasuki perkampungan warga desa. Nama kampungnya yaitu Banjar Kerobokan, Mekarsari, Kec. Baturiti, Tabanan. Kondisi jalanan disini cukup baik. Aspal mulus penampakan perkampungan disini juga bersih dan tertata rapi khas kampung Bali. 

Selain Air Terjun Campuhan yang akan dituju, gak jauh dari perkampungan ini juga terdapat destinasi wisata alam bernama Air Terjun Leke-Leke. Dari pertigaan menuju Air Terjun Leke-Leke, kita berbelok ke kiri menuju arah River Flow Cafe. 

Keluar dari perkampungan, kita bertemu dengan jalanan berkelok-kelok dan sedikit menanjak. Kiri-kanan terlihat area perkebunan warga. Pepohonan rindang dengan perbukitan hijau yang sudah tertutup kabur. Hawa dingin sudah terasa. Udara sejuk khas perbukitan membuat hati dan pikiran menjadi syahdu. Rasanya sudah berada jauh dari keramaian. 

Kurang lebih menempuh dua jam perjalanan, saya sudah sampai di area parkir pintu masuk menuju Air Terjun Campuhan dan River Flow Cafe. Suasana benar-benar hening dan gak banyak orang yang saya temui. Hanya beberapa motor saja yang terparkir. 

Area parkir kendaraan cukup luas. Setelah memarkirkan motor, saya membawa barang secukupnya saja. Sisanya saya taruh di dalam jok motor. 











Untuk masuk ke area air terjun, kita membeli tiket masuk di loket  sebesar 10 ribu saja. Itu sudah bebas mengexplore air terjun dan cafenya. Tapi untuk pembelian makanan dan minuman di cafenya, tetap bayar lagi sesuai menu yang dipesan. 

Dari loket, kita harus berjalan kaki menyusuri jalanan setapak. Terdapat gapura masuk ke dalam. Kurang lebih lima puluh meter lagi, kita bakalan sampai di lokasi. 

Terlihat taman kecil penuh dengan rerumputan hijau. Bangunan tua yang gak berpenghuni. Agak horor auranya pas melewati bangunan tersebut. Demi cafe estetik dengan view air terjunnya, rasa takut agak berkurang. Mana sendirian lagi, gak terlihat tanda-tanda akan berpapasan dengan pengunjung lainnya. Apa salah waktu datang kesini ?,pikir saya saat itu. 

Sore itu hujan sudah mulai turun. Saya percepat langkah biar gak basah kuyup. Gak enaknya saat itu kaki agak sakit karena kelamaan pakai sepatu. Agak sedikit bengkak di area ibu jari dan sakit sekali. Untungnya masih kuat berjalan. 

Suara air yang cukup deras sudah terdengar samar-samar. Tandanya sebentar lagi kita akan sampai. Dari kejauhan sudah terlihat cafenya. Sebelum sampai, saya harus menyeberangi sungai kecil melalui jembatan kayu. Kalau cuaca cerah bakalan bagus buat spot foto. 

Setelah melewati jembatan kayu, akhirnya sampai juga di River Flow Cafe. Tepat di depannya Air Terjun Campuhan. Dipisahkan oleh sungai kecil dengan air yang cukup jernih. Ini namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. 

Suasana hening sekali. Hanya ada saya dan tiga orang pengunjung. Itupun mereka satu rombongan keluarga. Kebetulan ini masih hari biasa dan waktu juga sudah menuju sore hari. Sekitar jam empat sore saya baru sampai sini. 

Penampakan cafenya saya suka. Terdapat beberapa tempat duduk dari semen beton. Bangku-bangku besi juga tertata rapi. Bangunannya dibuat konsep outdoor dan bertingkat. Hanya terdapat bangunan outlet berbentuk kotak bercat putih untuk tempat memesan minuman. 

Di tingkat paling atas terdapat tempat duduk beratapkan kanopi. Syukurnya masih ada sisa tempat duduk disana. Jadinya bisa terlindung dari hujan yang turun sore itu. 



Berlokasi di kawasan Air Terjun Campuhan, River Flow menawarkan konsep yang sederhana tapi justru menjadi daya tarik tersendiri. Begitu sampai, yang langsung terasa bukan aroma kopi duluan, tapi suara aliran air dan suasana alam yang bikin waktu terasa melambat.

Area duduknya dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar. Tidak terasa berlebihan atau terlalu ramai dekorasi. Bahkan memiliki nuansa terbuka dengan pemandangan hijau di sekelilingnya yang membuat tempat ini nyaman untuk bersantai menghabiskan waktu seharian. 

Karena kesini tujuannya ingin ngopi santai sambil menikmati air terjun, saya memesan Coffee Late hangat dengan harga 22 ribu. Ditambah lagi dengan hujan turun dengan derasnya, rasanya syahdu sekali. Rasa ragu dan lelah motoran di tengah keramaian Kota Denpasar hilang begitu saja. 

Benar-benar menenangkan. Jauh dari sinyal internet dan benar-benar rasanya menyatu dengan alam. Langit semakin gelap, hujanpun turun semakin deras. Saya mencoba tetap menikmati sisa moment-moment yang ada meskipun sempat khawatir juga kalau hujan gak reda sampai malam, bakalan kemaleman sampai Padangbai.



View dari cafe ini gak ada obatnya. Mungkin ini satu-satunya cafe dengan konsep menyatu dengan alam yaitu Air Terjun Campuhan dengan kolam alami tempat bermain air. 

Menikmati aliran sungai dengan air jernih, mengalir dengan deras di sela-sela bebatuan. Kolam alami yang berukuran gak terlalu lebar. Air terjun yang begitu deras, suara kicauan burung dan hujan membuat suasana begitu menenangkan dan syahdu. 

Gak nyesel datang kesini meskipun berjumpa dengan hujan dan kaki kurang bersahabat. Benar-benar pengalaman yang sangat seru. Lain waktu kalau motoran ke Bali lagi, bakalan datang kesini lagi bareng anak-anak dan istri. 

Dengan tiket masuk 10 ribu ditambah pesan Coffee Late 22 ribu jadi total 32 ribu sudah bisa menikmati alam Air Terjun Campuhan sambil duduk santai di River Flow Cafe. 

Selain Caffe Latte, masih banyak minuman lainnya baik panas maupun dingin. Menu berat sampai snack juga ada buat menikmati minum kopi. Harganya pun ramah di kantong. 

Over all, tempatnya bersih dan tertata rapi. Beberapa titik ada tempat sampah. Toilet juga bersih. Aman dan nyaman bagi pengunjung. Agak sedikit horor sih kalau baliknya kemalaman karena lokasinya benar-benar di dalam hutan dan di lereng perbukitan. 

Untuk Air Terjunnya buka dari jam tujuh pagi sampai lima sore. Sedangkan untuk River Flow Cafenya buka dari jam tujuh pagi hingga sepuluh malam.  Berani juga ya karyawan cafenya stay disini hingga malam hari. Hehehe. 

Waktu sudah menunjukkan jam lima sore. Jadwal kapal balik ke Lombok saya ambil yang jam depalan malam. Ada waktu dua jam  perjalanan menuju Pelabuhan Padangbai. Beruntungnya, hujan juga sudah mulai reda. 

Bisa dibilang beruntung bisa kesini di waktu yang gak ramai pengunjung. Biasanya di waktu libur kerja dan anak sekolah, cafe ini selalu ramai dikunjungi. Yuuk, kapan lagi kesini kalau kalian datang berlibur ke Bali. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 28 May 2026

Menginap di Grand Mercure Hotel Seminyak, Bali : Ramai Bulenya !

 


Bali selalu punya cara untuk membuat siapa saja ingin kembali. Mulai dari pantai yang indah, sunset yang menenangkan, sampai pilihan hotel yang menawarkan pengalaman menginap berkelas. Salah satu hotel yang menarik perhatian di kawasan Seminyak adalah Grand Mercure Seminyak Bali

Hotel ini cocok untuk bagi kalian jiwa traveler yang ingin menikmati suasana Bali dengan sentuhan modern, nyaman, dan tetap dekat dengan berbagai destinasi favorit. Saya punya cerita menginap di hotel ini di bulan lalu. 

Gimana asyiknya menginap di salah satu hotel bintang lima di kawasan Seminyak yang terkenal dengan suasana pantai dan tourist mancanegaranya, yuuk kita jalan-jalan bareng!. 




Lokasi hotel ini di Jalan Arjuna no. 40, Seminyak. Kurang lebih waktu tempuh hanya sepuluh menit dari bandara dan pusat Kota Denpasar. 

Terletak di kawasan Seminyak, Kuta, hotel ini punya lokasi yang sangat strategis. Hanya beberapa menit menuju Pantai Double Six dan berbagai beach club terkenal di Seminyak. Selain itu, akses menuju area kuliner, cafe, dan pusat hiburan malam juga sangat mudah.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati Bali tanpa harus sering terjebak perjalanan jauh, lokasi hotel ini menjadi nilai tambah tersendiri. Cocok untuk staycation, honeymoon, maupun perjalanan bisnis.

Pas tau bakalan menginap disini saat melaksanakan tugas dinas menghadiri pertemuan pameran dan business matching yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI, saya pun dibuat tersenyum sumringah. Ini pertama kalinya saya menginap di hotel bintang lima dengan view pantai. Katrok juga ya anak kampung seperti saya bisa menginap di hotel mewah!. 

Biasanya kalau ke Bali bareng keluarga, staycationnya di hotel-hotel low budget seperti hotel kapsul atau glamping. Penasaran juga gimana rasanya kasur empuk hotel bintang lima ini. Rasanya jadi orang kaya dua hari. Hahaha. 




Saat pertama masuk lobby hotel, suasana modern langsung terasa. Interiornya memadukan nuansa kontemporer dengan sentuhan khas Bali yang hangat. Area lobby terlihat luas, bersih, dan memberikan kesan premium tanpa terasa berlebihan.

Pelayanan staff juga ramah dan responsif. Proses check in terasa cepat sehingga tamu bisa langsung menikmati fasilitas hotel tanpa menunggu lama.

Terlihat siang ini banyak tourist dari berbagai negara menginap disini. Apalagi hotel ini berada di jantungnya keramaian di Kuta, Bali. Siapa yang gak pernah ke kawasan Seminyak kalau liburan ke Bali. Bisa dibilang hukumnya wajib kesini.

Uniknya hotel ini berada di jalanan sempit kawasan Seminyak. Bisa dibilang tiap hari sudah langganan macet. Masih ingat bila menjelang pergantian tahun. Kawasan ini sudah pasti macet. Gak jauh dari hotel ini banyak toko-toko suvenir, cafe, hotel lainnya dan tempat hiburan malam. Kalau mau nyari padatnya Bali, datang kesini deh!. 








Saat awal sampai di hotel ini, saya sudah gak sabaran untuk menuju ke kamarnya, merasakan kasur empuk sambil nonton TV dan main hp. Wifinya cukup kenceng juga lhoo. 

Syukurnya panitia sudah menanggung semua akomodasi peserta dari transport, penginapan, konsumsi dan uang saku. Beruntung sekali lokasi acaranya di Seminyak. Berharap juga acaranya di daerah Nusa Dua sana, hahaha. Dikasi hati minta jantung nih namanya. 

Saya dan peserta lainnya, mendapat jatah menginap di kamar kelas superior roomnya. Tipenya yang twin bed, dimana saya gak sendirian di kamar tapi akan berbagi dengan peserta lainnya. Kebetulan saya sudah dapat teman satu kamar yaitu Mas Tyo. Bareng-bareng dari Kota Mataram biar asyik ngobrolnya. 

Kamar di Grand Mercure Bali Seminyak dirancang dengan konsep modern minimalis. Tempat tidur yang nyaman, pencahayaan hangat, serta desain interior yang elegan membuat suasana istirahat terasa lebih maksimal.

Saya kebetulan dapat kamar yang langsung menghadap ke jalan depan hotel. Ukuran kamarnya cukup luas. Ada beberapa fasilitas hotel pada umumnya antara lain; smart TV, wifi kencang, coffee and tea maker, bathroom modern, balkon dengan dua kursi malas dan meja kayu. 



Salah satu spot favorit di hotel ini adalah area kolam renangnya. Desainnya modern dengan suasana tropis khas Bali. Cocok untuk berenang santai di pagi atau sore hari sambil menikmati udara Seminyak.

Area poolside juga instagramable dan nyaman untuk bersantai. Tidak heran banyak tamu menghabiskan waktu cukup lama di area ini. Terutama saya yang gak sengaja setelah balik dari pantai Double Six, berkeliling sejenak di area poolsidenya. Suasana ramai dengan alunan musik latin. Vibesnya seperti di Hawai meskipun belum pernah kesana. 

Sayangnya saya gak bawa pakaian renang. Jadinya gak sempah nyobain renang di kolam renangnya. Disini ukuran kolam renangnya luas banget. Dikelilingi oleh taman dan resto hotel. Setelah ini saya akan mengajak kalian mereview suasana restonya. 





Nah sampai juga di bagian icip-icip menu yang dihidangkan di resto hotel ini. Kali ini saya dan tamu lainnya dapat jatah sarapan. Sebelum acara di hari kedua dimulai, saya dan peserta lainnya sarapan dulu di bagian restonya. 

Lokasi restonya berada di lantai satu, samping kolam renang dan lobby. Suasana tropis alam Bali cukup terasa. Kami disambut oleh para karyawan resto berpakaian Khas Bali baik wanita maupun laki-laki. Saat memasuki restonya, terdengar juga musik instrumen Bali yang cukup familiar di telinga yaitu karya Gus Teja. Salah satu seniman Bali yang terkenal dengan musik-musik instrumen tradisional Balinya. 

Para tamu yang menginap disambut oleh staf hotel dengan penuh senyum dan ramah. Gak pandang bulu baik tamu domestik maupun mancanegara mereka layani dengan baik. Gak segan mereka menjelaskan berbagai menu sarapan pagi itu. Salah satu staf hotel si mbak cantik menemani kami berkeliling menjelaskan apa saja menu yang dihidangkan. 

Sampai saya grogi dibuat. Bukannya fokus ke menunya, tapi gagal fokus lihat mbaknya yang cantik ala wanita khas Bali yang terkenal dengan kecantikannya, Asyiik (semoga istri gak baca bagian ini). 

Lanjut ke cerita  !. 

Hotel ini menyediakan pilihan menu sarapan yang cukup beragam, mulai dari makanan nusantara hingga western. Area restorannya juga nyaman dengan suasana yang santai. Cocok untuk memulai hari sebelum menjelajah destinasi wisata alam Bali. 

Dimanapun hotelnya, yang pastinya saya mencari menu sarapan ala nusantara dulu. Nasi goreng menjadi menu pilihan wajib. Saya mengambil nasi goreng dengan toping dua telur mata sapi yang dibuat langsung oleh chef-chef terbaik hotel ini. 

Ditambah masakan khas Bali pastinya yaitu Ayam Betutu. Jujur, saya baru pertama kali makan Ayam Betutu. Mirip seperti Ayam Opor atau Rendang. Tapi bumbu yang khas dari Ayam Betutu yaitu Base Genepnya. Aroma bumbunya yang nendang banget. Emang namanya bumbu masakan Bali itu juara dah. 






Selain itu ada beberapa menu lainnya yang gak bisa saya sebut satu per satu. Seperti daging lada hitam, ada kentang goreng, dan cemilan seperti donat, kue-kue enak lainnya. 

Sebagai penutup saya mengambil jus nanas yang seger banget. Beneran enak sekali jusnya. Gak banyak gula, manisnya alami dari buah nanasnya. Selain itu gak lupa upacara minum kopi. Saya pesan satu cangkir capucinno panas. 

Sarapan pagi yang berkualitas. Duduk santai,ngobrol bareng teman, sarapan sambil menikmati view kolam renang dari balik jendela. Banyak pilihan tempat duduk yang bisa kalian tempati. Ada sofa panjang di pinggir kaca jendela yang lebar. Ada juga tempat bersantai di pinggir kolam. 

Pelayanan resto di hotel ini juara dah. Emang tingkat sumber daya manusianya benar-benar nomor satu. Kalau mau belajar dan meningkatkan skill di dunia perhotelan, pasti pilihannya ke Bali. Penguasaan bahasa Inggris mereka juga luar biasa fasihnya. Belum lagi bahasa-bahasa asing lainnya. 

Over all, ini bukan saya ngendorse, bagi saya pribadi menginap di hotel ini sangat senang. Pelayanannya gak perlu kita ragukan lagi. Sayangnya kemarin kita para peserta check innya jam empat sore yang seharusnya susah bisa check in jam dua siang. Kurang lama sih menurut saya merasakan semua fasilitas dari hotel ini, hehehe. 

Buat kalian yang akan berlibur ke Bali bareng keluarga dengan budget lebih. Bisa mencoba menginap di Grand Mercure Seminyak. Hotel bintang lima yang berada di kawasan pantai Seminyak ini cukup rekommended. Akses ke hotel ini juga gak terlalu jauh dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. 

Dengan harga per kamar disini kisaran satu juta hingga dua juta rupiah (harga bisa berubah-ubah di aplikasi), kalian bisa menikmati semua fasilitas yang ada di hotel ini. Tunggu apa lagi  !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 21 May 2026

Menghadiri Pameran dan Business Matching Peningkatan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri : Seminyak, Bali


Motoran ke Bali, kali ini bukan dalam rangka liburan. Tapi menghadiri sebuah acara yang cukup menarik yaitu Pameran dan Business Matching Peningkatan Penggunaan Alat Kesehatan Produk Dalam Negeri yang diadakan oleh Direktorat Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI yang berlokasi di Hotel Grand Mercure Seminyak, Bali. 

Acara ini sudah pernah saya ikuti dua kali. Pertama kalau gak salah tahun 2022 di Senggigi, Lombok dan tahun ini, di Seminyak, Bali. Pertemuan di dibagi beberapa zona. Nah kebetulan Bali dan Lombok merupakan zona Bali dan Nusa Tenggara. 

Setelah dapat disposisi dari pimpinan untuk berangkat ke Bali, saya cukup senang karena bisa ke Bali lagi. Gak sia-siakan moment, saya putuskan untuk ke Bali bawa motor sendiri. 

Gimana menariknya acara ini, yuuk dibaca ceritanya sampai selesai!. 




Acara ini berlangsung dari tanggal 29 - 30 April. Meskipun dua hari tapi rundown acaranya cukup padat. Kita sebagai peserta diharuskan registrasi satu jam sebelum acara dimulai yaitu sekitar jam dua belas siang. 

Panitia acara menanggung seluruh kebutuhan peserta, dari penginapan, transportasi hingga konsumsi. Jadinya seluruh peserta menginap di hotel yang sama dengan acara. Saya sangat senang bisa menginap di salah satu hotel bintang lima yang ada di daerah Seminyak. Untuk review hotelnya, akan dibahas di cerita selanjutnya. Ditunggu saja!. 

Saya tiba di hotel sekitar jam satu siang. Agak telat satu jam karena kapal telat sandar ditambah kejebak macet di Kota Denpasar. Langit Bali siang itu cukup terik. Lumayan bawa motor panas-panasan dari Pelabuhan Padangbai ke Seminyak. Mana pakai drama kapal mogok di tengah laut. 

Bisa baca disini : Motoran Ke Bali Lagi

Setelah parkirkan motor di parkiran bawah hotel, saya langsung menuju lobi hotel. Naik tangga ke lantai dua tempat acara berlangsung. Suasana sudah ramai sekali. Ada puluhan stand vendor sudah berjejer rapi di luar ruang pertemuan. Para peserta sudah berkumpul di depan ruangan. Ada yang langsung berkeliling di area pameran dan ada juga yang masih sibuk registrasi. 



Karena datangnya kesiangan alias telat satu jam dari jadwal resgistrasi, saya langsung menyelesaikan registrasi. Setelah beres, saya berkeliling pameran sambil mencari teman-teman dari NTB juga. Ada sekitar lima puluh empat satker yang diundang antara lain satker dinas kesehatan, rumah sakit pemerintah dan laboratorium kesehatan pemerintah se-pulau Bali, NTB dan Jawa Timur. 

Infonya pada akhir Maret 2026, kegiatan serupa telah dilaksanakan di Bekasi, Jawa Barat. Dengan dukungan dari Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI). Pameran dan business matching kembali diselenggarakan di Bali. 

Karena keasyikan berkeliling pameran dan melihat beberapa produk alat kesehatan di beberapa vendor, saya pun lupa mengambil jatah makan siang yang sudah disiapkan oleh panitia. Mari kita makan siang dulu kalau gitu !. 

Sekitar jam satu siang lebih, acara dibuka oleh panitia, sekaligus sambutan dan pengantar diskusi oleh Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan, bapak Jefri Ardiyanto. Beliau menyampaikan bahwa ketahanan kesehatan Indonesia sebelumnya masih lemah akibat tingginya ketergantungan terhadap alat kesehatan impor yang mencapai sekitar 88 % transaksi alat kesehatan impor. Tapi melalui berbagai cara yang dilakukan saat ini telah terjadi peningkatan penggunaan produk dalam negeri dengan target substitusi transaksi alat kesehatan impor hingga 30 %.



Setelah sambutan-sambutan, acara dimulai dengan diskusi panel terkait pengadaan dan pengawasan alat kesehatan. Acara hari itu selesai sekitar jam empat sore. Para peserta dipersilahkan untuk beristirahat sejenak di kamar yang sudah disediakan oleh panitia. 

Saya kebetulan sekamar dengan salah satu teman satu kota yaitu Mas Tyo. Kamarnya pun gak jauh dari ruang acara. Jadinya gak capek turun naik lift. Untuk kamar hotelnya kita bahas di tulisan berikutnya ya. Khusus mereview hotel tempat saya menginap !. 

Acara dimulai lagi jam tujuh malam. Masih ada waktu sekitar dua jam untuk istirahat. Bukannya istirahat, saya pergunakan waktu untuk jalan-jalan ke pantai depan hotel. Lumayan bisa lihat view senja di Pantai Seminyak. 

Sekitar jam tujuh malam. Acara pembukaan dimulai. Sebelumnya kami makan malam terlebih dahulu. Setelah itu menyimak rangkaian acara pembukaan. 

Acara pembukaan malam itu diawali oleh sambutan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, L. Rizka Andalusia. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa salah satu tantangan utama adalah mewujudkan sistem ketahanan alat kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan. Dimana kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi oleh produksi nasional. 

Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat penggantian alat kesehatan impor dengan produk dalam negeri. 

***
Setelah selesai acara pembukaan, sesi malam itu ditutup dengan foto bersama dan seluruh peserta diperkenankan untuk meninggalkan ruangan. Saya dan teman-teman lainnya, melanjutkan berkeliling di pameran. Disana saya pribadi banyak berjumpa dengan vendor-vendor baru yang belum pernah saya kenal sebelumnya. 

Alat-alat yang dibawa juga cukup menarik. Pastinya saya mencari alat kesehatan dan bahan media habis pakai yang dibutuhkan oleh rumah sakit tempat saya bertugas. Suasana malam itu di pameran cukup ramai. Apalagi ada tujuh puluh vendor yang berpartisipasi dalam pameran alat kesehatan yang diadakan ASPAKI. Pastinya alat kesehatan yang dipamerkan yaitu Alat Kesehatan Dalam Negeri yang ber-TKDN. Cukup menarik!. 




Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan sesi Business Matching dimana pertemuan langsung antara pengguna dan penyedia untuk menjembatani kebutuhan dan solusi produk dalam negeri. 

Gak hanya itu saja, pertemuan pengguna dan penyedia untuk membangun hubungan yang baik dalam rangka memenuhi kebutuhan satker khususnya rumah sakit tempat saya bertugas. 

Ada tujuh puluh vendor yang berinteraksi dengan pengguna atau satker. Dimana dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berlangsung selama satu jam. Dilanjutkan sesi kedua selama satu jam juga. 

Overall, saya cukup antusias bisa mengikuti kegiatan ini dari hari pertama hingga akhir. Banyak ilmu yang didapat. Apalagi ini bukan dunia baru yang saya temukan. Dinamika penggunaan alat kesehatan di negeri ini cukup baik menurut saya pribadi. Sudah banyak produsen dalam negeri yang berlomba-lomba menciptakan alat kesehatan dalam negeri yang gak kalah kualitasnya dari produk luar. Dari sisi harga juga jauh cukup terjangkau dan murah. 

Dan kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman teknis dan regulasi terkait pengadaan alat kesehatan. Mengidentifikasi kebutuhan spesifik fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat dan sebagian Jawa Timur. Serta mendorong peningkatan penyerapan produk dalam negeri melalui e-katalog. 

Sebagai bentuk apresiasi, Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan kebutuhan rumah sakit di Provinsi Bali dengan transaksi e-purchasing alat kesehatan dalam negeri tertinggi pada tahun 2025.

Kementerian Kesehatan terus berkomitmen memperkuat ketahanan alat kesehatan nasional dan mendorong kemandirian sektor kesehatan Indonesia. 

Semoga kedepannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut. Harapan setiap tahun diadakan dengan tujuan agar pengguna mudah menemukan alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang ber-TKDN dan terverifikasi. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra