Thursday, 28 May 2026

Menginap di Grand Mercure Hotel Seminyak, Bali : Ramai Bulenya !

 


Bali selalu punya cara untuk membuat siapa saja ingin kembali. Mulai dari pantai yang indah, sunset yang menenangkan, sampai pilihan hotel yang menawarkan pengalaman menginap berkelas. Salah satu hotel yang menarik perhatian di kawasan Seminyak adalah Grand Mercure Seminyak Bali

Hotel ini cocok untuk bagi kalian jiwa traveler yang ingin menikmati suasana Bali dengan sentuhan modern, nyaman, dan tetap dekat dengan berbagai destinasi favorit. Saya punya cerita menginap di hotel ini di bulan lalu. 

Gimana asyiknya menginap di salah satu hotel bintang lima di kawasan Seminyak yang terkenal dengan suasana pantai dan tourist mancanegaranya, yuuk kita jalan-jalan bareng!. 




Lokasi hotel ini di Jalan Arjuna no. 40, Seminyak. Kurang lebih waktu tempuh hanya sepuluh menit dari bandara dan pusat Kota Denpasar. 

Terletak di kawasan Seminyak, Kuta, hotel ini punya lokasi yang sangat strategis. Hanya beberapa menit menuju Pantai Double Six dan berbagai beach club terkenal di Seminyak. Selain itu, akses menuju area kuliner, cafe, dan pusat hiburan malam juga sangat mudah.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati Bali tanpa harus sering terjebak perjalanan jauh, lokasi hotel ini menjadi nilai tambah tersendiri. Cocok untuk staycation, honeymoon, maupun perjalanan bisnis.

Pas tau bakalan menginap disini saat melaksanakan tugas dinas menghadiri pertemuan pameran dan business matching yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI, saya pun dibuat tersenyum sumringah. Ini pertama kalinya saya menginap di hotel bintang lima dengan view pantai. Katrok juga ya anak kampung seperti saya bisa menginap di hotel mewah!. 

Biasanya kalau ke Bali bareng keluarga, staycationnya di hotel-hotel low budget seperti hotel kapsul atau glamping. Penasaran juga gimana rasanya kasur empuk hotel bintang lima ini. Rasanya jadi orang kaya dua hari. Hahaha. 




Saat pertama masuk lobby hotel, suasana modern langsung terasa. Interiornya memadukan nuansa kontemporer dengan sentuhan khas Bali yang hangat. Area lobby terlihat luas, bersih, dan memberikan kesan premium tanpa terasa berlebihan.

Pelayanan staff juga ramah dan responsif. Proses check in terasa cepat sehingga tamu bisa langsung menikmati fasilitas hotel tanpa menunggu lama.

Terlihat siang ini banyak tourist dari berbagai negara menginap disini. Apalagi hotel ini berada di jantungnya keramaian di Kuta, Bali. Siapa yang gak pernah ke kawasan Seminyak kalau liburan ke Bali. Bisa dibilang hukumnya wajib kesini.

Uniknya hotel ini berada di jalanan sempit kawasan Seminyak. Bisa dibilang tiap hari sudah langganan macet. Masih ingat bila menjelang pergantian tahun. Kawasan ini sudah pasti macet. Gak jauh dari hotel ini banyak toko-toko suvenir, cafe, hotel lainnya dan tempat hiburan malam. Kalau mau nyari padatnya Bali, datang kesini deh!. 








Saat awal sampai di hotel ini, saya sudah gak sabaran untuk menuju ke kamarnya, merasakan kasur empuk sambil nonton TV dan main hp. Wifinya cukup kenceng juga lhoo. 

Syukurnya panitia sudah menanggung semua akomodasi peserta dari transport, penginapan, konsumsi dan uang saku. Beruntung sekali lokasi acaranya di Seminyak. Berharap juga acaranya di daerah Nusa Dua sana, hahaha. Dikasi hati minta jantung nih namanya. 

Saya dan peserta lainnya, mendapat jatah menginap di kamar kelas superior roomnya. Tipenya yang twin bed, dimana saya gak sendirian di kamar tapi akan berbagi dengan peserta lainnya. Kebetulan saya sudah dapat teman satu kamar yaitu Mas Tyo. Bareng-bareng dari Kota Mataram biar asyik ngobrolnya. 

Kamar di Grand Mercure Bali Seminyak dirancang dengan konsep modern minimalis. Tempat tidur yang nyaman, pencahayaan hangat, serta desain interior yang elegan membuat suasana istirahat terasa lebih maksimal.

Saya kebetulan dapat kamar yang langsung menghadap ke jalan depan hotel. Ukuran kamarnya cukup luas. Ada beberapa fasilitas hotel pada umumnya antara lain; smart TV, wifi kencang, coffee and tea maker, bathroom modern, balkon dengan dua kursi malas dan meja kayu. 



Salah satu spot favorit di hotel ini adalah area kolam renangnya. Desainnya modern dengan suasana tropis khas Bali. Cocok untuk berenang santai di pagi atau sore hari sambil menikmati udara Seminyak.

Area poolside juga instagramable dan nyaman untuk bersantai. Tidak heran banyak tamu menghabiskan waktu cukup lama di area ini. Terutama saya yang gak sengaja setelah balik dari pantai Double Six, berkeliling sejenak di area poolsidenya. Suasana ramai dengan alunan musik latin. Vibesnya seperti di Hawai meskipun belum pernah kesana. 

Sayangnya saya gak bawa pakaian renang. Jadinya gak sempah nyobain renang di kolam renangnya. Disini ukuran kolam renangnya luas banget. Dikelilingi oleh taman dan resto hotel. Setelah ini saya akan mengajak kalian mereview suasana restonya. 





Nah sampai juga di bagian icip-icip menu yang dihidangkan di resto hotel ini. Kali ini saya dan tamu lainnya dapat jatah sarapan. Sebelum acara di hari kedua dimulai, saya dan peserta lainnya sarapan dulu di bagian restonya. 

Lokasi restonya berada di lantai satu, samping kolam renang dan lobby. Suasana tropis alam Bali cukup terasa. Kami disambut oleh para karyawan resto berpakaian Khas Bali baik wanita maupun laki-laki. Saat memasuki restonya, terdengar juga musik instrumen Bali yang cukup familiar di telinga yaitu karya Gus Teja. Salah satu seniman Bali yang terkenal dengan musik-musik instrumen tradisional Balinya. 

Para tamu yang menginap disambut oleh staf hotel dengan penuh senyum dan ramah. Gak pandang bulu baik tamu domestik maupun mancanegara mereka layani dengan baik. Gak segan mereka menjelaskan berbagai menu sarapan pagi itu. Salah satu staf hotel si mbak cantik menemani kami berkeliling menjelaskan apa saja menu yang dihidangkan. 

Sampai saya grogi dibuat. Bukannya fokus ke menunya, tapi gagal fokus lihat mbaknya yang cantik ala wanita khas Bali yang terkenal dengan kecantikannya, Asyiik (semoga istri gak baca bagian ini). 

Lanjut ke cerita  !. 

Hotel ini menyediakan pilihan menu sarapan yang cukup beragam, mulai dari makanan nusantara hingga western. Area restorannya juga nyaman dengan suasana yang santai. Cocok untuk memulai hari sebelum menjelajah destinasi wisata alam Bali. 

Dimanapun hotelnya, yang pastinya saya mencari menu sarapan ala nusantara dulu. Nasi goreng menjadi menu pilihan wajib. Saya mengambil nasi goreng dengan toping dua telur mata sapi yang dibuat langsung oleh chef-chef terbaik hotel ini. 

Ditambah masakan khas Bali pastinya yaitu Ayam Betutu. Jujur, saya baru pertama kali makan Ayam Betutu. Mirip seperti Ayam Opor atau Rendang. Tapi bumbu yang khas dari Ayam Betutu yaitu Base Genepnya. Aroma bumbunya yang nendang banget. Emang namanya bumbu masakan Bali itu juara dah. 






Selain itu ada beberapa menu lainnya yang gak bisa saya sebut satu per satu. Seperti daging lada hitam, ada kentang goreng, dan cemilan seperti donat, kue-kue enak lainnya. 

Sebagai penutup saya mengambil jus nanas yang seger banget. Beneran enak sekali jusnya. Gak banyak gula, manisnya alami dari buah nanasnya. Selain itu gak lupa upacara minum kopi. Saya pesan satu cangkir capucinno panas. 

Sarapan pagi yang berkualitas. Duduk santai,ngobrol bareng teman, sarapan sambil menikmati view kolam renang dari balik jendela. Banyak pilihan tempat duduk yang bisa kalian tempati. Ada sofa panjang di pinggir kaca jendela yang lebar. Ada juga tempat bersantai di pinggir kolam. 

Pelayanan resto di hotel ini juara dah. Emang tingkat sumber daya manusianya benar-benar nomor satu. Kalau mau belajar dan meningkatkan skill di dunia perhotelan, pasti pilihannya ke Bali. Penguasaan bahasa Inggris mereka juga luar biasa fasihnya. Belum lagi bahasa-bahasa asing lainnya. 

Over all, ini bukan saya ngendorse, bagi saya pribadi menginap di hotel ini sangat senang. Pelayanannya gak perlu kita ragukan lagi. Sayangnya kemarin kita para peserta check innya jam empat sore yang seharusnya susah bisa check in jam dua siang. Kurang lama sih menurut saya merasakan semua fasilitas dari hotel ini, hehehe. 

Buat kalian yang akan berlibur ke Bali bareng keluarga dengan budget lebih. Bisa mencoba menginap di Grand Mercure Seminyak. Hotel bintang lima yang berada di kawasan pantai Seminyak ini cukup rekommended. Akses ke hotel ini juga gak terlalu jauh dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. 

Dengan harga per kamar disini kisaran satu juta hingga dua juta rupiah (harga bisa berubah-ubah di aplikasi), kalian bisa menikmati semua fasilitas yang ada di hotel ini. Tunggu apa lagi  !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 21 May 2026

Menghadiri Pameran dan Business Matching Peningkatan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri : Seminyak, Bali


Motoran ke Bali, kali ini bukan dalam rangka liburan. Tapi menghadiri sebuah acara yang cukup menarik yaitu Pameran dan Business Matching Peningkatan Penggunaan Alat Kesehatan Produk Dalam Negeri yang diadakan oleh Direktorat Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI yang berlokasi di Hotel Grand Mercure Seminyak, Bali. 

Acara ini sudah pernah saya ikuti dua kali. Pertama kalau gak salah tahun 2022 di Senggigi, Lombok dan tahun ini, di Seminyak, Bali. Pertemuan di dibagi beberapa zona. Nah kebetulan Bali dan Lombok merupakan zona Bali dan Nusa Tenggara. 

Setelah dapat disposisi dari pimpinan untuk berangkat ke Bali, saya cukup senang karena bisa ke Bali lagi. Gak sia-siakan moment, saya putuskan untuk ke Bali bawa motor sendiri. 

Gimana menariknya acara ini, yuuk dibaca ceritanya sampai selesai!. 




Acara ini berlangsung dari tanggal 29 - 30 April. Meskipun dua hari tapi rundown acaranya cukup padat. Kita sebagai peserta diharuskan registrasi satu jam sebelum acara dimulai yaitu sekitar jam dua belas siang. 

Panitia acara menanggung seluruh kebutuhan peserta, dari penginapan, transportasi hingga konsumsi. Jadinya seluruh peserta menginap di hotel yang sama dengan acara. Saya sangat senang bisa menginap di salah satu hotel bintang lima yang ada di daerah Seminyak. Untuk review hotelnya, akan dibahas di cerita selanjutnya. Ditunggu saja!. 

Saya tiba di hotel sekitar jam satu siang. Agak telat satu jam karena kapal telat sandar ditambah kejebak macet di Kota Denpasar. Langit Bali siang itu cukup terik. Lumayan bawa motor panas-panasan dari Pelabuhan Padangbai ke Seminyak. Mana pakai drama kapal mogok di tengah laut. 

Bisa baca disini : Motoran Ke Bali Lagi

Setelah parkirkan motor di parkiran bawah hotel, saya langsung menuju lobi hotel. Naik tangga ke lantai dua tempat acara berlangsung. Suasana sudah ramai sekali. Ada puluhan stand vendor sudah berjejer rapi di luar ruang pertemuan. Para peserta sudah berkumpul di depan ruangan. Ada yang langsung berkeliling di area pameran dan ada juga yang masih sibuk registrasi. 



Karena datangnya kesiangan alias telat satu jam dari jadwal resgistrasi, saya langsung menyelesaikan registrasi. Setelah beres, saya berkeliling pameran sambil mencari teman-teman dari NTB juga. Ada sekitar lima puluh empat satker yang diundang antara lain satker dinas kesehatan, rumah sakit pemerintah dan laboratorium kesehatan pemerintah se-pulau Bali, NTB dan Jawa Timur. 

Infonya pada akhir Maret 2026, kegiatan serupa telah dilaksanakan di Bekasi, Jawa Barat. Dengan dukungan dari Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI). Pameran dan business matching kembali diselenggarakan di Bali. 

Karena keasyikan berkeliling pameran dan melihat beberapa produk alat kesehatan di beberapa vendor, saya pun lupa mengambil jatah makan siang yang sudah disiapkan oleh panitia. Mari kita makan siang dulu kalau gitu !. 

Sekitar jam satu siang lebih, acara dibuka oleh panitia, sekaligus sambutan dan pengantar diskusi oleh Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan, bapak Jefri Ardiyanto. Beliau menyampaikan bahwa ketahanan kesehatan Indonesia sebelumnya masih lemah akibat tingginya ketergantungan terhadap alat kesehatan impor yang mencapai sekitar 88 % transaksi alat kesehatan impor. Tapi melalui berbagai cara yang dilakukan saat ini telah terjadi peningkatan penggunaan produk dalam negeri dengan target substitusi transaksi alat kesehatan impor hingga 30 %.



Setelah sambutan-sambutan, acara dimulai dengan diskusi panel terkait pengadaan dan pengawasan alat kesehatan. Acara hari itu selesai sekitar jam empat sore. Para peserta dipersilahkan untuk beristirahat sejenak di kamar yang sudah disediakan oleh panitia. 

Saya kebetulan sekamar dengan salah satu teman satu kota yaitu Mas Tyo. Kamarnya pun gak jauh dari ruang acara. Jadinya gak capek turun naik lift. Untuk kamar hotelnya kita bahas di tulisan berikutnya ya. Khusus mereview hotel tempat saya menginap !. 

Acara dimulai lagi jam tujuh malam. Masih ada waktu sekitar dua jam untuk istirahat. Bukannya istirahat, saya pergunakan waktu untuk jalan-jalan ke pantai depan hotel. Lumayan bisa lihat view senja di Pantai Seminyak. 

Sekitar jam tujuh malam. Acara pembukaan dimulai. Sebelumnya kami makan malam terlebih dahulu. Setelah itu menyimak rangkaian acara pembukaan. 

Acara pembukaan malam itu diawali oleh sambutan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, L. Rizka Andalusia. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa salah satu tantangan utama adalah mewujudkan sistem ketahanan alat kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan. Dimana kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi oleh produksi nasional. 

Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat penggantian alat kesehatan impor dengan produk dalam negeri. 

***
Setelah selesai acara pembukaan, sesi malam itu ditutup dengan foto bersama dan seluruh peserta diperkenankan untuk meninggalkan ruangan. Saya dan teman-teman lainnya, melanjutkan berkeliling di pameran. Disana saya pribadi banyak berjumpa dengan vendor-vendor baru yang belum pernah saya kenal sebelumnya. 

Alat-alat yang dibawa juga cukup menarik. Pastinya saya mencari alat kesehatan dan bahan media habis pakai yang dibutuhkan oleh rumah sakit tempat saya bertugas. Suasana malam itu di pameran cukup ramai. Apalagi ada tujuh puluh vendor yang berpartisipasi dalam pameran alat kesehatan yang diadakan ASPAKI. Pastinya alat kesehatan yang dipamerkan yaitu Alat Kesehatan Dalam Negeri yang ber-TKDN. Cukup menarik!. 




Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan sesi Business Matching dimana pertemuan langsung antara pengguna dan penyedia untuk menjembatani kebutuhan dan solusi produk dalam negeri. 

Gak hanya itu saja, pertemuan pengguna dan penyedia untuk membangun hubungan yang baik dalam rangka memenuhi kebutuhan satker khususnya rumah sakit tempat saya bertugas. 

Ada tujuh puluh vendor yang berinteraksi dengan pengguna atau satker. Dimana dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berlangsung selama satu jam. Dilanjutkan sesi kedua selama satu jam juga. 

Overall, saya cukup antusias bisa mengikuti kegiatan ini dari hari pertama hingga akhir. Banyak ilmu yang didapat. Apalagi ini bukan dunia baru yang saya temukan. Dinamika penggunaan alat kesehatan di negeri ini cukup baik menurut saya pribadi. Sudah banyak produsen dalam negeri yang berlomba-lomba menciptakan alat kesehatan dalam negeri yang gak kalah kualitasnya dari produk luar. Dari sisi harga juga jauh cukup terjangkau dan murah. 

Dan kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman teknis dan regulasi terkait pengadaan alat kesehatan. Mengidentifikasi kebutuhan spesifik fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat dan sebagian Jawa Timur. Serta mendorong peningkatan penyerapan produk dalam negeri melalui e-katalog. 

Sebagai bentuk apresiasi, Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan kebutuhan rumah sakit di Provinsi Bali dengan transaksi e-purchasing alat kesehatan dalam negeri tertinggi pada tahun 2025.

Kementerian Kesehatan terus berkomitmen memperkuat ketahanan alat kesehatan nasional dan mendorong kemandirian sektor kesehatan Indonesia. 

Semoga kedepannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut. Harapan setiap tahun diadakan dengan tujuan agar pengguna mudah menemukan alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang ber-TKDN dan terverifikasi. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 9 May 2026

Motoran ke Pulau Bali Lagi : KMP Caitlyn


Bisa dibilang ini adalah motoran dadakan ke Bali. Ditugaskan untuk menghadiri salah satu acara di daerah Seminyak, Kuta. Surat tugas sudah ditandatangani pimpinan, saya pun bersiap-siap berangkat. 


Kali ini saya ridding sendirian. Sebenarnya bisa ajak anak istri, tapi modal buat ke Balinya butuh budget besar. Panitia kegiatan hanya menanggung satu orang peserta saja. Awalnya mau pakai pesawat, tapi karena acaranya di Bali, sayang sekali hanya terbang sebentar saja. Biar seru, kita motoran sekalian bisa jalan-jalan dengan kendaraan sendiri.


Acaranya hanya dua hari saja dan kebetulan lanjut dengan long weekends. Sempat tergoda mau nambah hari di Bali, tapi kalau gak bareng anak istri rasanya kurang seru. Saya putuskan selesai acara nanti, langsung balik ke Lombok. 


Tepat di hari keberangkatan, saya memilih jalan tengah malam agar sampai Kota Denpasar keesokan paginya. Rencana berangkat jam dua pagi dari rumah, ngejar kapal yang berangkat jam empat pagi dari Pelabuhan Lembar. 


Sebelum berangkat, saya beli tiket via aplikasi ferizy di handphone. Caranya gak susah, tinggal buka website ferizy.com. Pilih dari pelabuhan asal ke pelabuhan tujuan. Saya memilih dari Pelabuhan Lembar, tujuan Pelabuhan Padangbai. 


Selanjutnya pilih jenis kendaraan bagi yang bawa kendaraan. Lalu menginput jumlah penumpang yang akan berangkat. Ikutin saja petunjuk untuk pengisian di aplikasinya. Selesai semua diisi, lalu proses pembayaran sesuai jenis transaksi pembayaran. Catatan pentingnya, nomor kendaraan yang diinput di aplkasi harus sama dengan kendaraan yang akan naik ke dalam kapal. 


Selain lewat webiste atau aplikasinya, kalian juga bisa beli langsung ke konter-konter tiket yang ada di pinggir jalan menuju pelabuhan. Mereka buka dua puluh empat jam. Jadinya gak khawatir gak bisa beli tiket online. 


Setelah e-tiket dikirim ke email, tidur dulu sebelum bangun tengah malam nanti. Lumayan bisa tidur dulu di rumah. Takutnya di kapal nanti gak bisa tidur nyenyak. 


Sekitar jam dua pagi, saya bangun dan bersiap-siap jalan. Anak-anak masih tertidur lelap, sedangkan istri ikut bangun sambil menyiapkan segala keperluan saya di perjalanan nanti. 


Sekitar jam setengah tiga pagi, saya mulai jalan dari rumah. Kurang lebih hanya lima belas menitan waktu tempuh dari rumah ke pelabuhan. Suasananya di jalan sepi bebas hambatan. Untungnya sepanjang jalan aman-aman saja. 


Cuaca juga cukup baik. Gak ada tanda-tanda mau turun hujan. Sesampainya di pintu masuk pelabuhan, suasana kembali ramai oleh kesibukan petugas pelabuhan. Ada warung yang buka dua puluh empat jam. Suasana yang saya rindukan bila akan menyeberang ke pulau seberang. 


Sesampainya di loket tiket, saya memperlihatkan e-tiket ke petugas. Tinggal scan barcode, boarding pass sudah tercetak. Selanjutnya, saya menuju ke dermaga I untuk masuk ke dalam kapal. Kebetulan kapalnya sudah stanby di dermaga. Gak ada antrian baik kendaraan besar maupun kecil. 




Ini enaknya jalan ke Bali ngambil waktu tengah malam. Gak ramai penumpang, jadi gak bakalan khawatir gak kebagian tempat duduk. Masuk ke dalam lambung kapal bersama si Bluemax. Terlihat lambung kapal masih kosong melompong. 


Kapal yang saya naiki yaitu KMP Caityln milik dari PT. Munic Line. Kapal ini masih satu perusahaan dengan KMP Munic I yang pernah saya dan keluarga naiki pas motoran ke Bali dua tahun yang lalu. 


Bisa baca disini : Balik ke Lombok dengan KMP Munic I


Ini pertama kalinya saya menaiki kapal ini. Sebelumnya KMP Caitlyn melayani rute Pelabuhan Merak, Banten menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. 


Kalau gak salah mulai awal tahun 2026, kapal ini pindah rute melayani penyeberangan Lembar - Padangbai. Nambah lagi kapal besar di Selat Lombok setelah KMP Munic I yang terlebih dahulu pindah ke Lembar - Padangbai. 


Naik kapal jam tiga pagi. Suasana di atas kapal masih sepi penumpang. Terlihat kurang dari sepuluh motor yang terparkir di deck lantai dua dan satu mini bus. Di deck lantai satu khusus untuk bus besar dan truk berukuran besar. 


Kapal ini cukup besar. Memiliki dua lantai untuk parkir kendaraan. Ada tiga lantai ruang penumpang untuk kelas duduk ekonomi, ruang VIP dan ruang tidur untuk supir. Fasilitas lainnya ada toilet di setiap lantainya. Ada mushola, ruang terbuka, kantin, muster station atau titik kumpul. Sekoci dua buah, dan peralatan keselamatan lainnya. 






Untuk ruang penumpang semuanya ada ACnya kecuali kursi yang di luar, ACnya dari angin laut yang sepoi-sepoi. Ruang penumpangnya luas banget terutama ruang VIP di lantai tiga tempat saya istirahat. Kursinya empuk semua terbuat dari kain beludru yang dilapisi oleh plastik transparan. 


Ada kursi yang berhadapan, ada juga ada yang panjang. Cocok sekali untuk tidur selonjoran disaat sepi penumpang. Kalau lagi ramai penumpang, jangan egois ya. Beri tempat duduk bagi yang belum dapat. 


Selain kursi, ada juga area lesehan. Disini ukuran lesehannya cukup luas. Lantainya juga bersih dan gak ada matrasnya. Semua fasilitas di atas kapal gratis ya !. Kalau ada oknum yang meminta bayaran sewa, itu pelanggaran. Kita bisa lapor petugas pelabuhan atau posting saja di media sosial seperti teman saya dulu yang berdebat sama oknum di atas kapal masalah kasur yang disewakan untuk penumpang. Padahal itu fasilitas gratis penumpang. 


Oke lanjut! 


Waktu menunjukkan jam empat pagi. Ada tanda-tanda kapal mau berangkat. Satu per satu truk dan puso besar masuk ke dalam lambung kapal. Gak lama kemudian, rumdoor kapal ditutup. KMP Caitlyn segera diberangkatkan. Sampai kapal berangkat pun suasana di ruang VIP penumpang masih sepi. Hanya ada beberapa penumpang saja termasuk saya sendiri. 


Saya mengambil tempat duduk di pojokan. Tepat di samping kaca lebar. Di depannya kita bisa melihat bagian depan kapal. Di sebelah jendela, kita bisa melihat view cantik Selat Lombok nantinya kalau sudah terang.


Karena ngantuk sekali dan di luar juga masih gelap, saya putuskan untuk tidur sejenak. Lampu kelap-kelip pelabuhan terlintas seolah berjalan. Kapal sudah meninggalkan dermaga dan berjalan per lahan-lahan keluar dari Teluk Lembar. Mata pun terpejam dan saya terbangun ketika kapal sudah berlayar kurang lebih dua jam. 





Langit sudah agak terang meskipun matahari belum terbit. Saya langsung shalat subuh terlebih dahulu kemudian berkeliling kapal sambil menikmati view cantik dari Selat Lombok. Di sebelah timur, kita sudah melihat langit berwarna orange pertanda matahari akan terbit. Deretan perbukitan Pulau Lombok yang mempesona. Air laut yang cukup tenang. 


Sedangkan di sebelah barat, sudah terlihat puncak Gunung Agung yang berada di Pulau Bali. Perjalanan sudah memakan waktu tempuh dua jam. Kurang lebih sekitar dua jam lagi kapal akan sampai di Padangbai. 


Sambil menikmati pemandangan, saya pun melihat deretan perahu nelayan yang sedang memancing di tengah laut. Ikan-ikan kecil pun terlihat berenang di permukaan air. Ada juga yang loncat seolah ingin terbang tinggi. Saya gak tau nama ikannya. Yang pastinya, saya menanti salah satu ikan favorit kalau berlayar di lautan yaitu lumba-lumba. Biasanya lumba-lumba akan muncul menemani perjalanan kapal. Tapi belum beruntung bisa melihat mereka. 


Sampailah di cerita membingungkan. Gak tau kenapa, tiba-tiba kapal berjalan pelan gak seperti biasanya. Dan akhirnya kapal gak jalan sama sekali. Anehnya, kelistrikan di dalam kapal gak ikutan mati. Cerobong asap kapal juga masih terdengar. Anggapan saya saat itu, mesin kapal dalam keadaan gak baik-baik saja. 




Keadaan saat itu kami terombang-ambing di tengah Selat Lombok. Posisi masih di antara Pulau Lombok dan Nusa Penida. Entah saya gak tau penyebab kapal berhenti tapi mesin masih menyala. Penumpang lainnya pun masih tenang dan tertidur lelap. Saya yang tadinya penasaran, akhirnya balik ke tempat duduk untuk melanjutkan tidur. 


Duduk santai di kursi sambil memandang ke arah luar jendela. Kapal masih posisi diam. Terkena gelombang laut dan oleng kanan dan kiri. Kondisi gelombang masih normal. Sesekali kapal membunyikan bel. Ada mungkin dua kali bunyikan bel. Gak ada pengumuman apapun. Saya mencoba untuk tenang. 


Akhirnya saya beranggapan kapal ini sedang menunggu kapal barang yang berukuran panjang dan besar melintas di hadapan kapal. Atau sedang menghindari jaring tangkap nelayan yang sedang memancing. Bisa saja kan?. Tapi ini pertama kali saya alami. Ini yang buat saya agak sedikit tenang. 


Waktu menunjukkan jam delapan pagi, kapal mulai jalan perlahan-lahan. Kapal ini lelet sekali atau saat itu ada yang gak beres di bagian mesin kapal ya?. Syukurnya, kapalnya bisa jalan saja meskipun lambat. 


Pastinya gagal menuju daerah Ubud. Padahal sengaja berangkat tengah malam biar bisa mampir ke salah satu destinasi wisata di Ubud. Target awal sampai di Padangbai jam sembilan pagi tapi kenyataannya jam sepuluh pagi kapal baru sampai Padangbai dan itupun ngantri untuk sandar di dermaga. 


It's oke, saya atur rencana kedua. Setelah turun dari kapal, langsung ke arah Kota Denpasar. Mungkin ada satu jam mampir di salah satu kedai kopi buat santai-santai sejenak sebelum menuju ke hotel tempat acara. 





Kenyataannya, baru jam setengah dua belas siang, saya dan penumpang lainnya baru turun kapal. Total kurang lebih tujuh jam memakan waktu tempuh dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Padangbai. Yasudah, saya langsung ke hotel saja karena acara dibuka sekitar jam satu siang. 


Kurang lebih dua jam perjalanan dari Pelabuhan Padangbai ke daerah Seminyak, Kuta. Kebayang pastinya nanti bakal kena macet di daerah Renon dan Legian. Kita nikmatin saja perjalanan ini !. 


Bawa santai saja, baru saja jalan masak langsung bad mood. Memang yang sudah kita rencanakan belum tentu sama seperti yang kita dapatkan. Pegang selalu prinsip itu di perjalanan, hehehe. 


Over all, perjalanan kali ini memang saya sengaja ingin naik KMP Caitlyn karena sebelumnya belum pernah dicoba. Sebenarnya kapal ini cukup besar di rutenya. Terdapat dua deck parkiran kendaraan. Ruang penumpangnya juga sangat nyaman. ACnya dingin dan ruangannya harum. Toilet juga bersih. Kapal legend bekas dari kapal Jepang ini dibuat sekitar tahun 1986. Jadinya cukup lama juga. 


Memiliki panjang 78,6 meter dengan lebar 17,5 meter. Berat total 757 ton. Sumbernya dari marine trafic dan mbah google. Bisa dibilang kapal ini salah satu kapal roro terbesar di rute Lembar - Padangbai selain Munic I, Athayana, Parama Kalyani dan Dharma Ferry VIII. 


Pastinya setiap kapal memiliki kelebihan dan kekurangan. Tergantung selera kita mau naik kapal yang mana. Jelasnya ketika kita naik kapal itu, pasti punya cerita tersendiri dan berkesan. 



Setelah turun dari kapal, saya melanjutkan perjalanan menuju arah Kota Denpasar. Cuaca siang itu sangat cerah sekali. Sesampainya di daerah Sanur, saya berbelok ke arah Renon dan sampai di hotel pas jam satu siang dengan segala drama kena macet di daerah Kuta. 


Cerita kali ini saya cukupkan sampai disini. Tunggu saja kelanjutan di part kedua yaitu review hotel dan acaranya. Pastinya jangan bosan ya!. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra