Saturday, 28 February 2026

Touring Santai dan Ngopi Asyik di Teras Sawah Resto & Guest House Syariah Sembalun


Sabtu pagi di Bulan Februari, hujan turun dengan derasnya. Setelah bangun tidur, saya bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap berangkat ke arah timur. Tepatnya ke rumah Mas Deni yang berada daerah Kotaraja, Lombok Timur.

Dari Mataram, saya gak sendirian. Si Enwal, Kadek dan Mas Deni sendiri ikut gabung dalam perjalanan touring ke Lombok Timur. Agenda pagi itu kami berempat akan touring ke salah satu destinasi yang cukup jauh dari Kota Mataram. Tapi menuju ke lokasi, kami akan mampir dulu di Desa Sembalun. 

Baik wisatawan domestik maupun mancanegara pastinya sudah familiar dengan Desa Sembalun. Apalagi sekarang desa tertinggi di Pulau Lombok ini sudah banyak perubahan dimana sudah banyak dibuka penginapan yang menawarkan view kece seperti glamping, homestay maupun cabin. 

Begitu juga dengan cafe dan resto yang jumlahnya sudah puluhan di Sembalun dengan menawarkan tempat yang nyaman dengan view khas alam Desa Sembalun. Salah satu yang akan kami datangi yaitu Teras Sawah Resto & Guest House Syariah.

Menunggu hujan reda hingga jam delapan pagi. Saya memutuskan untuk jalan dari rumah. Sedangkan ketiga teman tadi sudah jalan duluan. Kami berempat sepakat kumpul di SPBU sekitar Narmada, Lombok Barat. 

Setelah berpamitan sama anak istri, saya gass motor dalam keadaan jalan basah dan langit masih mendung. Alhamdulillah, hujan sudah agak reda. Selalu pakai jas hujan agar pakaian gak basah dan masuk angin. 

Perjalanan di pagi hari cukup ramai lancar. Banyak kendaraan yang akan keluar kota. Harus hati-hati berkendara di sepanjang jalur Mataram - Lombok Timur karena kendaraan besar seperti bus lintas pulau, truk dan paling banyak ya motor. Apalagi jalur Lombok Timur ini terkenal dengan pengemudi motor yang bandel karena sering gak pakai helm. Bawa motor juga ugal-ugalan, sorry ya itu faktanya di lapangan. 

Setengah jam perjalanan, sampailah saya di titik kumpul yang sudah disepakati. Mereka bertiga sudah sampai duluan dan menunggu saya datang. Oke, setelah personel lengkap, kami isi bensin full tank agar perjalanan lancar sampai tujuan. Setelah itu kami lanjut gas menuju rumahnya Mas Den sebagai cek point selanjutnya. 

Waktu tempuh satu jam perjalanan, sampailah kami di rumahnya Mas Den. Ini kedua kalinya saya kesini. Sesampainya disana, kami disambut dengan keluarga Mas Den. Disuguhi cemilan dan sarapan. Sambilan istirahat sebelum melewati tanjakan dan jalan yang berliku. 

Setengah jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sembalun. Cuaca pagi itu cerah berawan meskipun angin cukup kencang. Sekitar jam sebelas pagi, kami berangkat. 

Melewati beberapa daerah seperti Pasar Aikmel, kemudian mengambil jalur ke arah Desa Suela. Sesampainya di pertigaan Desa Suela, kami belok ke kiri menuju arah Desa Sapit dan Desa Sembalun. 

Untuk jalur dari Suela ke arah Sembalun cukup baik dengan kondisi jalan aspal yang menanjak. Melewati Kebun Raya Lemor dengan jalan mulus dengan kiri kanan hutan belantara. Uniknya disini, kami melewati Rumah Sakit Umum Daerah Selaparang. Salah satu rumah sakit milik Pemda Kab. Lombok Timur yang baru diresmikan beberapa tahun yang lalu. 




Setelah bertemu dengan pertigaan yang mengarah ke Desa Sapit, kami jalan lurus terus menuju Desa Sembalun. Disini jalanannya sudah menanjak sampai Puncak Pusuk Sembalun. Kiri kanan hutan belantara dengan jalanan yang meliuk-liuk. Disini saya sering berjumpa dengan para anak-anak muda yang membawa tas caril. Sepertinya mereka akan mendaki salah satu Sevent Summits yang ada di Sembalun. Salah satunya yang sudah pernah saya daki yaitu Bukit Pergasingan. 

Jalanan masih dalam kondisi basah. Harus ekstra hati-hati, apalagi sesampainya di Puncak Pusuk, kabut tebal menyambut kami. Di atas puncak Pusuk, sudah ramai sekali dengan para pengunjung yang beristirahat sambil berfoto. Kendaraan bermotor berjejer rapi di pinggir jalan. Tenda-tenda pedagang juga dibanjiri pengunjung. 

Kami gak berhenti di Puncak Pusuk karena sudah gak sabaran sampai di Teras Sawah. Dari puncak, jalanan berubah menjadi jalanan menurun yang cukup terjal. Beberapa hari sebelumnya, lokasi jalanan menurun ini terjadi tanah longsor saat hujan deras. Bekasnya masih terlihat meskipun sudah dibersihkan oleh petugas. So, harus tetap ekstra hati-hati. 

Welcome Sembalun !.

Sudah cukup lama gak ke Sembalun lewat jalur timur. Terakhir kali ke desa ini saat menginap di salah satu penginapan bernama Sembalun Kita Cottage bersama anak-anak dan istri melewati jalur utara. 

Setelah menuruni jalanan terjal, kami sudah tiba di Sembalun Bumbung. Disini kita banyak menjumpai perkebunan strauberry. Biasanya di pinggir jalan, kita banyak menjumpai pedagang strauberry. Tapi saat kemarin, kami gak menjumpai strauberry karena belum musim. Sayang sekali ya. 

Gak jauh lagi, kami segera tiba di Teras Sawah. Lokasi restonya tepat di pinggir jalan utama. Tepatnya di sebelah kanan apabila dari jalur timur. Sesampainya di lokasi, terlihat cafenya masih cukup sepi. Setelah memarkirkan motor, kami langsung masuk menuju meja kasir untuk memesan minuman. 




Teras Sawah beralamatkan di Jalan Raya Sembalun Lawang no.11, Sembalun Bumbung. Lokasinya sangat strategis. Dekat dengan beberapa penginapan dan wahana bermain. Di depan restonya ada penginapan Taman Hijau Rinjani dan wahana bermain Taman Surga. 

Infonya resto ini sering didatangi oleh artis ibukota seperti Desta, Gading Martin, Vincent, Ariel Noah beberapa tahun yang lalu. Wisatawan juga banyak yang singgah makan maupun ngopi disini. Tempatnya emang asyik banget. 

Penampakan restonya cukup simple. Bangunan memanjang ke samping dan dominan kayu dengan ruang semi outdoor. Meja kayu berjejer rapi. Restonyaa terdiri dari dua lantai yang dihubungkan dengan tangga kayu. Atap bangunan berbentuk joglo. View resto ini keren. Duduk di resto ini, kita bisa melihat kawah perbukitan hijau, persawahan dan perkebunan. Melihat aktivitas para petani yang sedang bekerja di sawah. 




Sesuai namanya, Teras Sawah memang menawarkan suasana wisata kuliner dengan latar hamparan sawah yang luas. Tempat duduknya cukup nyaman, ada area semi outdoor yang jadi favorit karena bisa langsung menikmati pemandangan.

Angin sepoi-sepoi dengan suara alam bikin suasana makin syahdu. Cocok banget buat
nongkrong bareng teman, ngopi santai habis touring, quality time bareng keluarga atau sekadar me-time sambil menikmati suasana.

Setelah memesan minuman dan cemilan, kami memutuskan untuk bersantai di lantai dua. Disini kondisinya masih sepi, lebih sepi daripada di lantai satu. Meja kursi kayu masih gak berpenghuni. Kami bebas memilih tempat. Paling enak duduk santai di pinggir pagar kayu bangunan resto. 

Selain resto, tersedia juga guest house dengan konsep syariah. Cocok buat yang ingin menginap dengan suasana tenang jauh dari keramaian kota. Lingkungannya terasa nyaman dan lebih privat. Lokasi guest housenya berada di bawah restonya. Untuk menuju kamarnya, kita menuruni tangga. Tepat di pinggir sawah lokasi kamarnya. Jumlah kamarnya kurang lebih sepuluh kamar dengan fasilitas penginapan standar. 



Kerennya, kamarnya menghadap ke arah timur. Jadinya kita bisa menikmati sunrise di saat pagi hari sambil memandang beberapa bukit yang termasuk kedalam Sevent Summit Sembalun. Untuk harga per kamarnya kalian bisa cek di platform online seperti tiket.com, booking.com atau trip.com. Harganya bisa bervariasi di setiap platformnya. 

Satu lantai dengan guest housenya, fasilitas lainnya ada kamar mandi, toilet dan mushola yang cukup bersih. Wah, jadi betah menginap disini. 

Gak menunggu waktu lama, orderan kami sudah datang. Saya memesan segelas Vietnam Drip Coffee dengan sedikit manis pastinya. Sedangkan yang lainnya tetap memesan susu jahe hangat. Btw, saya heran kenapa mereka gak pesan kopi ya. Padahal kan tema riding kami kan nyari tempat ngopi yang kece. Ini sudah kedua kali lhoo ya !. 

Untuk cemilannya, kami pesan pisang goreng. Lagi-lagi kami gak pesan menu berat karena kami sudah makan banyak di rumahnya Mas Den. Jadinya pesan minuman dan cemilan saja. 




Khusus Vietnam Dripnya saya rasa cukup enak. Jenis kopi yang digunakan yaitu robusta. Cara menyeduh kopi itu dengan metode khas Vietnam menggunakan alat saring berupa saringan logan kecil bernama phin untuk menghasilkan kopi kental dengan tetesan lambat. 

Biasanya kopi ini menggunakan dark roast atau kopi panggang gelap dan disajikan di atas susu kental manis sehingga menciptakan perpaduan rasa pahit dan manis. Disajikan dalam bentuk panas atau dingin. Kali ini saya pesan yang panas saja karena udara di Sembalun sudah dingin banget. Segelas Vietnam Drip seharga 20 ribu. 

Sedangkan minuman yang lain beragam ya harganya. Dari kopi-kopian, minuman dingin hingga jus harganya kisaran 15 ribu  sampai 30 ribu. 

Untuk cemilannya kami pesan Pisang Goreng Cokelat Keju. Untuk porsinya cukup besar dan mengenyangkan. Cocok dijadikan cemilan saat bersantai sambil ngopi. Harga seporsi Pisang Goreng Cokelat Keju yaitu 23 ribu. 

Selain itu, menu disini cukup lengkap. Dari makanan dan snack kisaran harganya 20 ribu hingga 40 ribu. Awalnya tadi saya berminat pesan Indomie Rebus karena udara di Desa Sembalun cukup dingin apalagi suasana hujan gene. Tapi karena perut gak kompromi, saya urungkan buat pesan. Next time kalau datang kesini lagi, pasti pesan Indomie Rebus. 





Saat duduk santai menikmati ngopi dan cemilan, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Suasananya tambah syahdu sekali. Puncak-puncak bukit tertutup kabut tebal. Angin dingin yang berhembus menyapa kulit. Kopi yang tadinya panas, perlahan-lahan menjadi dingin. Mau panas maupun dingin Vietnam Drip Coffee tetap nikmat di mulut. 

Sambil menikmati hujan, kami berempat ngobrol-ngobrol santai. Awalnya dilema mau meneruskan perjalanan ke tujuan utama. Tapi dengan modal nekat dan kami sudah menyiapkan jas hujan di dalam jok motor. Akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah utara. 

Bisa tebak tujuan kami selanjutnya kemana ?. Kalian bisa baca ceritanya di tulisan saya sebelumnya. Setelah menunggu hujan reda, kami meneruskan perjalanan menuju Desa Obel-Obel melalui jalur utara. 

Sebelum itu, saya menyempatkan mampir di salah satu tenda sayur-sayuran Sembalun yang banyak di pinggir jalan. Beberapa sayuran saya beli seperti edamame, sawi, wortel, kentang, dan daun bawang. Disini sayurannya segar karena baru dipetik. Harganya juga bisa ditawar bagi yang pintar nawar seperti saya, hehehe.

Touring dan ngopi ke Teras Sawah Resto & Guest House Syariah jadi salah satu pengalaman santai yang layak diulang di waktu lain. Tempatnya nyaman, view-nya juara, suasananya tenang, dan cocok untuk berbagai suasana.


Kadang yang kita butuhkan memang bukan perjalanan jauh, tapi tempat sederhana dengan pemandangan hijau dan secangkir kopi hangat.

Kalau kalian sedang mencari destinasi touring santai di Lombok Timur, tempat ini bisa banget masuk daftar kunjungan berikutnya. Jarak dari Mataram ke Teras Sembalun yaitu 93 kilometer dengan waktu tempuh 2 jam 30 menit. 

Info lebih lengkapnya kalian bisa kunjungi aku instagramnya (@terassawah). Buka dari jam sembilan pagi hingga sembilan malam. 

Btw, setelah semua sayuran pesanan istri sudah dibeli, kami melanjutkan riding ke lokasi selanjutnya. Jangan lupa mampir di tulisan sebelumnya ya !.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 21 February 2026

Touring Dadakan ke Gumbang Ganang : Hutan Asri dan Mata Air nan Jernih


Sudah dua minggu hiatus dari nulis blog karena kesibukan kerjaan, akhirnya kembali lagi dengan dunia perblogkan. Bisa dibilang ini tulisan pertama di Bulan Februari dan cerita dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan. Asyiik. 


Mungkin banyak yang sudah gak sabar dengan cerita saya selanjutnya atau ada yang sudah kangen juga (kepedean). Pas banget yang pengen saya ceritakan ini bisa kalian catat untuk referensi tempat ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka.


Bisa dibilang ini tempatnya cukup jauh dari Kota Mataram bahkan tempatnya cukup pelosok. Tapi buat kalian yang hobi motoran atau ada agenda touring di Bulan Ramadhan, bisa dijadikan tujuan menjelajah Pulau Lombok.


Btw, kalau sudah bercerita tentang destinasi wisata Pulau Lombok, emang gak ada habisnya. Ada saja yang baru bermunculan dan viral di media sosial. Sebut saja Gumbang Ganang. Salah satu tempat yang berada di Desa Obel-Obel, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. 


Kalau nyari di google maps, lokasinya persis di atas Desa Sembalun alias bagian utara dari peta Pulau Lombok. Kalau dari Kota Mataram membutuhkan waktu kurang lebih dua sampai tiga jam perjalanan. Tempat ini paling dekat dengan Desa Sembalun, Lombok Timur tapi kita harus turun gunung dulu dari Sembalun menuju lokasi. 


Saya dan teman-teman melakukan touring yang kedua kali setelah touring ke Desa Sapit di bulan lalu. Ceritanya bisa kalian baca di tulisan sebelumnya !. 


Masih dengan formasi sebelumnya. Saya, Mas Den, Enwal dan Kadek. Kami berempat awalnya berencana touring ke Desa Sembalun, tapi berhubung ada godaan buat ke Desa Obel-Obel, yasudah kita gass saja. 


Untuk cerita Desa Sembalun saya langkahi dulu ya. Ditunggu cerita Desa Sembalun setelah cerita Gumbang Ganang ini. Mungkin buat kalian yang sering pantengin reel Instagram saya, pastinya sudah bisa menebak tujuan kami di Desa Sembalun. Yang jelas ditunggu cerita lengkapnya. 


Siang itu cuaca berubah menjadi mendung dan hujan turun cukup lebat. Menunggu beberapa jam di Sembalun, akhirnya hujanpun reda. Menerawang langit ke arah utara, sepertinya sudah gak hujan lagi. Kami lanjut gass ke Desa Obel-Obel melalui jalur utara. 




Itulah enaknya touring di Lombok. Mau lewat jalan manapun pastinya akan nyambung. Jalur Desa Sembalun juga cukup menjadi favorit bagi yang hobi motoran karena desa ini menghubungkan jalur timur dan utara Pulau Lombok. 


Menuruni jalur yang berkelok-kelok dari Sembalun, kemudian sampai di Desa Sajang. Kami berhenti sejenak di jalur ini untuk berfoto dan ambil video. View jalur ini salah satu paling keren disini. Jalan mulus berkelok, ada jembatan, rimbunnya hutan dan sesekali bertemu dengan kawanan pengikut "songgokong" yang menunggu tuannya pulang mencari kitab suci ke barat (yang paham pasti tau).  Vibesnya mirip jalur hutan di Jepang meskipun belum pernah motoran ke Jepang, hehehe. 


Setelah berhenti sejenak, kami melanjutkan perjalanan masih dengan jalur menurun berkelok. Setelah sampai di pertigaan Kokoq Puteq (artinya: Sungai yang airnya berwarna keputihan), kami mengambil jalur lurus menuju Desa Obel-Obel. Sedangkan belok ke kiri, kita menuju Senaru, Bayan hingga ke Gili Trawangan Kab.Lombok Utara.


Dari pertigaan ini jalurnya sudah gak menurun. Posisi kami sudah berada di ujung utara. Melewati jalur sempit pinggiran pantai. Disini kondisi jalannya cukup mulus dan bergelombang. Pinggiran jalan masih ditumbuhi semak-semak. Harus ekstra hati-hati bila motoran disini. Menurunkan kecepatan sambil menikmati suasana. 


Sudah lama rasanya gak melintas di jalur ini. Kurang lebih sudah delapan tahun semenjak gempa Lombok di tahun 2018. Saat itu saya dan teman-teman mengantar bantuan ke salah satu desa di Kecamatan Sambelia. Ceritanya bisa kalian baca di blog ini juga. 


Kurang lebih sudah satu jam berkendara, akhirnya kami sudah sampai di Desa Obel-Obel. Suasana desanya cukup sepi dan sangat jarang berpapasan dengan kendaraan. Tapi disini letak serunya membawa motor di atas jalan yang meliuk-liuk tanpa banyak kendaraan yang melintas. 




Kami gak perlu membuka google maps untuk mencari lokasi yang dituju. Setelah memasuki Desa Obel-Obel, itu tandanya tujuan kami sudah dekat. Di sebelah kanan jalan utama, terdapat plank petunjuk bertuliskan Gumbang Ganang.  Kami tinggal belok ke kanan dan menyusuri jalanan bebatuan dan area persawahan. Jaraknya gak begitu jauh dari jalan utama. Untuk motor matic masih aman lewat jalur ini. 


Rasa capek motoran dari Kota Mataram ke Desa Obel-Obel via Desa Sembalun hilang seketika setelah melihat view kece dari destinasi ini. Perpaduan hutan yang asri, perbukitan, persawahan dan aliran sungai seperti muara yang jernih. Tau gini, bawa pakaian ganti tadi. Pengennya nyemplung ke dalam sungai dengan rimbun pohon yang terbilang umurnya lebih tua dari kakek nenek saya sendiri. 


Setelah membayar tiket masuk 5 ribu rupiah per orang (sudah termasuk kendaraan), kami mencari area parkir motor. Setelah memarkirkan motor, kami lanjut berjalan menuju tepi sungai yang mirip seperti muara. Penataannya rapi sekali. Dari pinggiran sungai yang disemen. Kemudian diberi jembatan kayu untuk spot berfoto. 






Gumbang Ganang adalah destinasi wisata alam berupa embung mata air alami yang terletak di Desa Obel-Obel, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Destinasi ini menonjol sebagai wisata air dengan pemandangan hutan, perbukitan, dan pepohonan purba yang rimbun, sehingga menciptakan suasana sejuk dan tenang bagi pengunjung


Dasar sungainya pun terlihat jelas dengan bebatuan dan air yang jernih. Merasakan airnya cukup dingin karena disini menjadi sumber mata air untuk kehidupan di desa ini. Salah satu manfaatnya paling penting untuk lingkungan, persawahan dan perkebunan. 


Selain itu kita bisa menyewa perahu bebek dan perahu kayu yang muat untuk dua orang dewasa. Kita dikenakan tarif 10 ribu untuk orang dewasa dan 5 ribu rupiah untuk anak-anak. 


Wahana lainnya disini ada kolam renang yang cukup besar. Gak dikenakan tarif lagi karena ini sudah termasuk biaya masuk tadi sebesar 5 ribu rupiah. Selain itu yang menjadi daya tarik buat kami datang kesini selain sungainya yaitu ada permainan kereta api. Sebenarnya ini wahana untuk anak-anak, tapi orang dewasa juga diperbolehkan naik untuk mendampingi anak-anaknya. 


Kereta api yang terdiri dari empat gerbong dan satu lokomotif ini berdiri di atas rel besi kereta pada umumnya. Lokasi relnya ada di area persawahan. Kereta api ini didesain semirip mungkin untuk berjalan di atas rel di tengah persawahan. Benar-benar sangat menarik. Kereta api di playground mall-mall besar pasti kalah sama ini. 


Kami berempat saja tergoda buat naik. Awalnya sih saya gak mau naik,tapi karena bujuk rayu teman lainnya, akhirnya saya duduk di paling depan alias duduk di lokomotifnya. Hahaha. 




Untuk naik keretanya, kami dikenakan tarif 15 ribu rupiah orang dewasa sedangkan 10 ribu rupiah anak-anak selama tiga putaran. Berhubung kami bilang datang dari Kota Mataram, kami dikasi bonus dua putaran. Kata masnya yang pegang kendali kereta, "jauh-jauh dari kota, sayang sekali hanya tiga putaran". Masnya baik sekali. 


Setelah puas muter-muter sawah naik kereta, kami bersantai sejenak di tepi sungai. Disini enak banget buat nenangin pikiran. Suasananya tenang gitu. Untungnya siang itu gak ramai pengunjung datang. Jadinya masih bisa menikmati suasana. 





Buat kalian yang kelaparan, disini ada kedai makan. Beragam menu dijual disini. Tempat buat ngopi juga sangat cocok. Tempat ini juga cukup bersih. Di beberapa titik disediakan tempat sampah. Benar-benar dikelola dengan baik. 


Waktu sudah sore saja. Cerita hari ini belum selesai, setelah satu setengah jam berada di destinasi ini, kami melanjutkan pulang balik ke rumah Mas Den. Tapi jalur yang kami lalui berbeda. Kami mencoba untuk muterin Pulau Lombok bagian timur. Lewat Desa Blanting, Dara Kunci, kota kecamatan Sambelia, Labuan Lombok, Pringgabaya, Aikmel dan sampai di rumah Mas Den. Waktu tempuhnya hampir dua jam. Lumayan jauh muternya gara-gara penasaran, hahahaha. 


Over all, destinasi Gumbang Ganang menawarkan view yang keren dengan harga yang terjangkau. Masuk ke destinasinya terbilang cukup mengeluarkan duit 5 ribu saja. Wahana di dalamnya juga cukup baik kondisinya. Dari perahu bebek, perahu kayu, kolam renang, kolam alami dan kereta yang bisa kalian coba semua dengan harga terjangkau. 


Ini gak terlepas dari pengelolaan destinasi ini yang langsung dikelola oleh Pokdarwis Maju Bersama bekerja sama dengan BUMDes Desa Obel-Obel, dan pengembangan awalnya merupakan inisiatif masyarakat setempat.


Apalagi mendapat dukungan dari program PLN Peduli turut membantu penataan kawasan, wahana, dan promosi destinasi ini. 


Bukanya setiap hari dari pagi hingga sore kecuali kedai makan yang sampai malam. Kata pengelolanya, paling ramai pengunjung datang kesini yaitu pas akhir pekan. Meskipun cukup jauh dari Kota Mataram, destinasi ini wajib kalian kunjungi. Apalagi buat kalian yang kebetulan habis ngecamp di Desa Sembalun, pulangnya bisa mampir kesini. 


Penulis : Lazwardy Journal


Friday, 30 January 2026

Touring Perdana di Awal Tahun : Ngopi di Atas Awan Desa Sapit



Ini dia cerita yang sudah ditunggu-tunggu. Cerita di awal tahun 2026 bersama teman-teman motor baru. Kalian yang sudah pernah berkunjung ke reel saya di facebook Didit Lombok, pastinya sudah melihat potongan video saya touring sambil ngopi ke salah satu kedai kopi yang ada di Desa Sapit. 

Bisa dibilang ide ini lahir dari saya dan Mas Den yang membentuk club motor kecil-kecilan. Dimana anggotanya dari teman satu kantor dan memiliki motor Yamaha. Anggotanya masih beberapa orang saja  tanpa paksaan untuk gabung. Kami terbuka untuk siapa saja yang mau gabung. Mau bapak atau wanita juga boleh. Asalkan mau ikutan touring.

Bisa dibilang club motor ini sudah enam bulan berdiri. Tapi belum juga ada kegiatan touring. Hanya ngobrol-ngobrol ringan di dalam grup whatsApp maupun saat nongkrong bareng di area tempat kerja. Untuk nama club motornya, nanti saya spill di akhir tulisan.

Kebetulan juga kami satu frekuensi dimana dalam keseharian di dalam grup whatsApp, kami sering membahas tentang motor khususnya Yamaha. Seperti perawatan NMAX, Aerox dan motor lainnya. Dan akhir-akhir ini kami sudah ngelist, tempat-tempat yang akan kami explore.

Berhubung waktu libur kami bisa berbarengan karena ada yang ngeshift. Akhirnya saya dan Mas Den memutuskan untuk touring ke Desa Sapit. Tepatnya ke salah satu kedai kopi baru yang saat ini sedang nge-hits di media sosial. 

Sabtu pagi tanggal 17 Januari 2026, saya bersiap-siap berangkat ke tempat kerja karena kami akan kumpul disana. Dari sekian anggota, hanya empat orang yang bisa ikutan. Ada saya, Elwal, Kadek dan Mas Den sendiri. Untuk Mas Den, beliau menunggu di daerah Masbagik, Lombok Timur karena kami akan melewati jalur tersebut. 

Sudah berkumpul di tempat kerja, saya bertiga sekitar jam delapan pagi mulai jalan ke Lombok Timur. Jalur yang dilewati yaitu Kota Mataram menuju daerah Narmada, lanjut ke arah Kopang dan bertemu dengan Mas Den di daerah Masbagik, Lombok Timur. 

Situasi dan kondisi lalu lintas pagi itu cukup padat karena jalur yang kami lewati adalah jalur terpadat di Pulau Lombok karena menghubungkan empat kabupaten/kota, Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Apalagi hari itu merupakan akhir pekan dimana warga kota banyak yang keluar daerah untuk pulang kampung dan berlibur. 



Hampir satu setengah jam perjalanan akhirnya kami sampai di daerah Masbagik untuk bertemu dengan Mas Den. Beliau sudah menunggu kami di pinggir jalan. Setelah bertemu, kami diajak untuk ke rumahnya yang lokasinya cukup dekat dengan tempat kami bertemu.

Di rumah Mas Den, kami istirahat dan sarapan meskipun kami sudah sarapan sebelum berangkat tadi. Istri beliau sudah menyiapkan beberapa masakan dan cemilan buat kami. Makasi Mas Den dan keluarga sudah repot-repot. 

Menu sarapan kedua kami pagi itu ada nasi putih, pelecing kangkung, tahu tempe goreng, ikan goreng dan kerupuk. Untuk cemilannya ada berbagai jenis jajanan pasar. Gak lupa di akhir sarapan, kami ngopi-ngopi dulu.

Setelah satu jam beristirahat di rumah Mas Den, kami berempat melanjutkan perjalanan ke Desa Sapit yang waktu tempuhnya kurang lebih satu jam melewati beberapa jalan pintas desa. Jalur yang kami lewati yaitu Desa Lenek, Aikmel, lalu mengambil jalur lurus di perempatan Pasar Aikmel menuju arah Desa Suela, kemudian gas pooll menuju jalur Desa Sembalun.

Di cerita ini, kami gak sampai touring ke Desa Sembalun. Melewati Kebun Raya Lemor dan sekitar dua kilometer, kami sampai di pertigaan Desa Sapit. Berbelok ke kanan menuju Desa Sapit, sedangkan kalau lurus kita mengarah ke Desa Sembalun.

Sapit merupakan desa yang terletak di Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini dikenal karena keindahan alamnya, kekayaan budaya, dan aktivitas masyarakatnya.

Berada di lereng Gunung Rinjani, dengan ketinggian sekitar 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut. Udara di desa ini sangat sejuk dan pemandangan alam pedesaan yang indah.

Sebagian besar mata pencaharian warga desa sini yaitu petani tradisional dengan komoditas pertanian yang terkenal yaitu kopi (robusta dan arabica). Selain itu ada padi, jagung, tembakau dan rempah-rempah.

Desa ini sangat dikenal dengan produk kopinya yaitu Kopi Sapit. Oleh karena itu, alasan kami datang kesini untuk mencari kopi sambil duduk santai menikmati alam pedesaan. Ada trasering sawah, perbukitan, view puncak Gunung Rinjani dan sunrise maupun sunsetnya.



Sekitar jam sebelas pagi, kami sampai di desa ini. Kondisi jalan sesampainya di desa ini cukup menantang. Jalanan beraspal dan naik turun karena desa ini berada di lereng gunung. Kabut juga sering menyelimuti desa ini.

Disini banyak sekali kedai kopi. Sebelum berangkat, saya mencari dulu mau ke kedai kopi mana. Kami pilih saja kedai kopi yang lokasinya paling atas.

Berada di area perkampungan warga dengan jalan yang menanjak dan menurun. Ada rumah warga yang berada di atas dan di bawah jalan. Ngebayangin kalau hujan deras air yang mengalir seperti sungai melewati jalanan sempit.

Di pertigaan Masjid Sulul Muttaqin Sapit, ada papan petunjuk bertuliskan "Welcome to Sapit Village" dan Serata Coffee & Camp di sudut pertigaan. Kami mengikuti jalanan kecil menuju Serata Coffee & Camp.

Jalanan menanjak dengan aspal yang gak rata. Sedikit bergelombang dan berbatu. Harus ekstra hati-hati saat menanjak. Mengatur gas motor jangan sampai gagal nanjak karena dari pertigaan hingga sampai di kedainya, jalannya menanjak terus.

Melewati trasering persawahan hijau dan perkebunan warga. Meskipun menanjak, jalannya aman untuk motor dan mobil. Terpenting kendaraan harus dalam kondisi baik.

Gak terasa menanjak, kami sudah berada di ketinggian kurang lebih 1000 meter di atas permukaan laut. Terlihat Selat Alas di sisi sebelah timur. Puncak Gunung Rinjani yang tertutup oleh awan tebal. Area hutan belantara Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

Gak jarang pula berpapasan dengan warga desa yang beraktivitas pagi itu. Kurang lebih satu jam perjalanan dari rumahnya Mas Den, kami sudah sampai di Serata Coffee & Camp yang lokasinya berada persis di sebelah kiri jalan.

Posisi kedai kopi ini di ujung jalan yang bisa dilalui motor dan mobil. Selebihnya, sudah jalanan setapak orang yang akan melakukan pendakian ke salah satu Bukit yang ada di daerah Sembalun. Kapan-kapan kita bahas !.




Sesampainya di lokasi, kami memarkirkan motor di tempat parkir motor yang sudah disediakan. Tempat parkirnya cukup luas. Apalagi area ngecampnya yang luas sekali.

Ada beberapa tempat nongkrong. Terlihat ada meja kayu panjang dengan kursi kayu yang berada di pinggiran area camping. Ada juga bangunan seperti pendopo yang saat itu belum difungsikan. 

Bangunan lainnya yaitu kedai kopinya sendiri yang cukup estetik. Ada bar kecil-kecilan dimana tempat pengunjung untuk memesan minuman dan cemilan. Karyawan disini juga ramah-ramah. Gak pelit informasi kepada pengunjung. Selain itu ada bangunan kamar mandi permanen. Dan bangunan dapur untuk memasak. 

Serata Coffee & Camp selain menjadi kedai kopi, tempat ini juga sebagai tempat pengunjung untuk membuka tenda dan ngecamp. 

Kita bisa membangun tenda di area rumput yang cukup luas. Bisa membangun tenda bebas dimana saja. Asalkan jangan bangun tenda di pinggiran tebing saja karena bisa berbahaya. 

Kedai kopi ini mulai buka di tahun lalu. Bisa dibilang masih tergolong baru. Apalagi kedai kopinya baru tiga bulan dibangun menjadi lebih bagus lagi.




Sampai di kedai kopinya, kami langsung memesan minuman. Pastinya saya memesan kopi. Yang saya pesan yaitu Vietnam Drip. Sedangkan lainnya memesan susu putih dan susu jahe. Gak paham saya kenapa mereka pesan susu. Padahal kan tujuan utama kesini untuk ngopi. Ngapain kalian nyusu kesini, hehehe.

Setelah memesan minuman dan cemilan pisang goreng dan tempe mendoan, kami mencari tempat untuk duduk bersantai sambil ngobrol ngalor ngidul.

Disini kita bisa membawa tenda sendiri atau menyewa tenda untuk ngecamp. Dari informasi yang saya tanyakan sama owner-nya, untuk sewa tenda disini dikenakan tarif 60 ribu per tenda. Bisa untuk empat orang dewasa atau satu keluarga. Sedangkan kalau bawa tenda sendiri dikenakan sewa lahan yaitu 25 ribu per orang. Untuk anak-anak umur dibawah 10 tahun gak dikenakan biaya alias gratis.

Next time, bisa kita coba camping disini. Pastinya seru dan asyik bareng keluarga atau temen. 

Untuk udara disini cukup sejuk dan berkabut. So, bawa jaket tebel biar gak kedinginan. Meskipun gak sesejuk di Desa Sembalun, tapi it's oke untuk datang buat ngopi atau bermalam disini. Untuk kedainya bisa dibilang buka hampir dua puluh empat jam. 

Kalian tau gak, karyawan disini hampir gak pernah turun ke desa meskipun mereka asli warga sini. Kata mereka, seminggu sekali mereka turun untuk membeli beberapa kebutuhan dari kedai kopi ini. 

Ohya, untuk bersantai di area rumput, kami mengambil alas tikar yang sudah disiapkan. Gak ada tambahan biaya sewa tikar karena kami sudah pesan minuman. 

Kami mengambil dua tikar untuk berempat. Mengambil posisi di tengah biar mudah untuk mengambil dokumentasi. Saat kami sampai di lokasi, ada dua rombongan keluarga yang mendirikan tenda berukuran besar. Sepertinya mereka sudah bermalam disini sejak kemarin. 

Selain kami berempat, ada juga rombongan lainnya yang datang buat ngopi-ngopi juga. Sebagian besar pengunjung berasal dari luar daerah seperti Kota Mataram atau wisatawan domestik yang kebetulan mampir ke desa ini. 




Cuaca siang itu cukup mendukung. Agak mendung dan berkabut, tapi gak ada hujan. Hanya gerimis sesekali dengan durasi yang gak lama. Masih aman buat kami yang bersantai di atas tikar. 

Ngobrol ngalor ngidul, akhirnya pesanan kami datang. Ada segelas Vietnam Drip, susu jahe, susu putih, pisang goreng dan mendoan tempe. Berhubung sudah makan berat tadi di rumah Mas Den, kami gak pesan makanan berat. 

Untuk kopi Vietnam Dripnya saya pesan yang agak sedikit manis. Soal rasa, strong banget kopinya. Aromanya juga enak. Ini pertama kalinya saya memesan kopi Vietnam. Bikin ketagihan, kalau datang kesini lagi, bakalan pesan kopi yang sama. 

Untuk cemilannya, saya pesan pisang goreng dan tempe mendoan. Pisang gorengnya enak banget. Gak banyak tepung tapi gurih. Enak banget dimakan selagi hangat. Apalagi ditambah dengan minum kopi. 

Untuk harga, disini saya kaget banget. Meskipun jauh dari kota. Ditambah lagi lokasinya yang butuh effort datang kesini pakai drama jalan menanjak dengan kondisi jalan yang kurang mulus. Tapi soal harga menurut saya terjangkau banget.

Kopi Vietnam Drip saja harganya hanya 15 ribu. Cemilannya serba 10 ribu dengan porsi besar. Minuman lainnya juga dimulai dari 7 ribu hingga 15 ribu. Gak mahal kan !. Rekommended buat kalian yang ingin motoran jauh, bisa datang ke Serata Coffee & Camp. Bukanya hampir dua puluh empat jam. 

Motoran jauh dari Kota Mataram, rasanya rugi banget kalau kesini hanya sebentar. Jadinya kami menghabiskan waktu dari siang hingga sore hari sambil bermain kartu Uno. Berharap bisa melihat puncak Gunung Rinjani dari dekat tapi sayangnya hingga kami balik ke Mataram, puncaknya selalu tertutupi awan mendung.



Kata owner tempat ini, paling pas datang kesini kalau sekalian ngecamp. Saat pagi hari kalian bisa menikmati moment sunrise. Pasti akan terlihat jelas puncak Gunung Rinjani dari dekat. Dengan catatan cuaca saat itu sedang cerah. 

Artinya kami disuruh kembali lagi kesini untuk mencoba ngecamp. Apalagi masih banyak tempat yang belum kami explore dari desa ini. Next time, harus kembali lagi buat ngopi dan mencari Kopi Sapit buat dibawa pulang.

Biar gak panjang ceritanya, saya cukupkan tulisannya sampai disini dulu untuk touring ke Desa Sapit. Karena ada salah satu netizen saya bilang, tulisan saya terlalu panjang buat dibaca. Namanya juga cerita, pastinya panjang dong. Tapi gak apa-apa dah buat tulisan pendek biar dibaca sama mereka (malah curhat).

Over all, Serata Coffee & Camp rekommended buat didatangi. Memiliki tempat yang keren. Viewnya persawahan, pegunungan dan perkebunan kopi. Udara disini juga sejuk. Menyiapkan area buat camping. Pelayanannya cukup baik. Ada fasilitas mushola dan kamar mandinya juga bersih.

Terakhir, saya sarankan kalau datang kesini, persiapkan kendaraan kalian dan lihat kondisi cuaca. Terpenting ban motor dan pengereman harus dalam kondisi baik. Khusus motor matic, cek dulu CVT dan vibelt motor kalian. Jangan sampai mesin motor mati disaat menanjak. Itu saja dari saya. Ditunggu di cerita touring club motor kami "EMBG" lainnya !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra