Saturday, 15 August 2026

Salah Satu Surganya Lombok : Motoran ke Orong Bukal

 


Bagi sebagian orang mungkin belum mengenal destinasi satu ini. Namanya gak seterkenal Panti Kuta Mandalika, Pantai Senggigi, Gili Trawangan atau Desa Sembalun yang sudah menjadi tujuan utama wisatawan kalau berlibur ke Pulau Lombok. 


Meskipun begitu, destinasi yang sudah saya explore ini ternyata menjadi salah satu destinasi pilihan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara saat ini. Sejak kemunculannya sekitar tahun 2020 di media sosial, para kaum milenial dan gen Z berlomba-lomba datang kesini. Ada yang punya kepentingan buat konten, adu nyali, adu fisik dan banyak juga yang datang untuk menikmati keindahan surga dunia Sang Maha Pencpita yang hadir di Pulau Lombok.


Sudah enam tahun destinasi ini dibuka untuk umum, di pertengahan tahun 2026 akhirnya saya diberi keinginan untuk mengexplore tempat ini yang lokasinya dibilang cukup jauh. Apalagi treknya yang memacu adrenalin. Awalnya gak ada pernah berpikir atau berencana ke destinasi ini karena dari beberapa cerita treknya memang cukup ekstrem. Apalagi saya sudah gak pernah treking ke alam lagi seperti air terjun, perbukitan dan gunung. Berat badan juga sudah naik dan saat ini sukanya motoran ke tempat yang keren dan kulineran saja. Main aman lebih jelasnya, hehehe


Entah gimana ceritanya, kok saya dan rombongan bisa sampai di destinasi ini. Gak ada persiapan apa-apa. Hanya modal atur jadwal dan membawa kebutuhan seadanya. Agenda motoran serba dadakan. Kebetulan saling tegur sapa di chat group. Sudah lama juga kami gak motoran bareng. Terakhir kali saat ke Desa Sembalun, lanjut ke Gumbang Ganang muterin Lombok Timur. Ceritanya bisa kalian baca di beberapa tulisan sebelumnya  !. 






Sabtu pagi, setelah antar anak-anak ke sekolah. Saya menuju tempat kumpul di rumah teman. Disana sudah menunggu beberapa teman yang akan ikut motoran ke Sekotong. Setelah semuanya kumpul, kami segera berangkat menuju destinasi tujuan. 

Sekitar jam sembilan pagi, kami bertujuh memulai perjalanan dari Labuapi, Lombok Barat. Kurang lebih waktu tempuh dua jam perjalanan yang akan kami habiskan di jalan karena gak diburu waktu juga. 

Cuaca pagi yang sangat cerah. Sudah kami siapkan tabir surya karena lokasi yang akan kami tuju cukup terik ditambah kondisi trek yang cukup terjal. 

Kami melewati jalur pintas menuju arah Pelabuhan Lembar. Jalanan aspal yang masih mulus ditambah view perbukitan yang  menguning karena sudah jarang turun hujan. 

Btw, kenapa pilih jalur Sekotong untuk agenda motoran edisi kali ini. Alasannya karena jalur Sekotong merupakan salah satu jalur favorit bagi para riders. Selain jalur Sembalun dan Senggigi, Sekotong memiliki jalur dengan view cakep alias paket lengkap. Ada perbukitan, laut, hutan mangrove dan air terjun yang airnya ada saat musim hujan saja. Kapan-kapan kita bahas.

Di sepanjang perjalanan, saya beberapa kali memperlambat laju motor hanya untuk menikmati pemandangan. Gak perlu terburu-buru karena salah satu alasan melakukan perjalanan dengan motor adalah menikmati suasana perjalanan, bukan hanya ingin cepat sampai ke tempat tujuan.

Setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga dan pakai drama salah jalur segala, akhirnya Orong Bukal semakin dekat. Rasa panas dan lelah perlahan terbayar ketika sampai di tujuan. Ada rasa puas yang sederhana. 

Melewati jalur pinggir laut, menanjak dengan aspal yang cukup mulus. Meskipun di beberapa titik kami melewati sisa-sisa puing bebatuan dan jalanan berlobang akibat bencana longsor beberapa bulan yang lalu. 

Sesampainya di parkiran motor Orong Bukal, kami beristirahat sejenak di berugaq (gazebo) yang masih satu area dengan parkiran. Fasilitas disana bagi saya cukup lengkap. Ada area parkir kendaraan yang tertata rapi, ada kantin makan, ada mushola, kamar mandi dan beberapa berugaq untuk pengunjung beristirahat. 

Orong Bukal merupakan destinasi alam yang ngehits sekitar tahun 2020 lalu hingga sekarang. Lokasinya berada di Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tempat ini terkenal dengan panorama laut biru kehijauan, gugusan pulau kecil, serta perbukitan yang membuatnya sering disebut “Raja Ampatnya Lombok.”

Penyebutan Orong Bukal karena destinasi ini terdapat gua kelelawar "bukal" yang posisinya ada di tebing bukit berbatu. Untuk mencapai kesana, kalian bisa menuruni bukit dan tebing hingga sampai di bibir pantai. Di celah-celah tebingnya terdapat gua kelelawar. Oleh sebab itu warga setempat menyebutnya dengan nama Orong Bukal. Tapi disini harus hati-hati karena hempasan ombat laut lepasnya lumayan kencang. 

Untuk jam berkunjungnya, dari jam enam pagi hingga lima sore. Banyak pengunjung kesini untuk melihat sunrise maupun sunset. Jadi jangan heran lokasi ini cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. 






Setelah kurang lebih lima belas menit istirahat di parkiran motor sambil melakukan peregangan badan, saya dan Mas Den terlebih dahulu memulai trekking. Sedangkan yang lainnya masih menunggu pesanan mie rebus. Saya dan Mas Den sudah sempat makan sebelum berangkat, jadinya masih kenyang. 

Kami berdua duluan jalan, biar nanti mereka nyusul karena kami berdua mau jalan kaki santai saja. Harap-harap cemas semoga masih kuat jalan nanjak dan selamat hingga kembali ke parkiran nantinya.  

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami membeli tiket masuk terlebih dahulu. Harga tiket yaitu 10 ribu per orang baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Ditambah tiket parkir 5 ribu, jadi totalnya 15 ribu. 

Loket tiketnya persis berada di sebelah pintu masuk menuju Orong Bukal. Informasinya jarak dari pintu masuk menuju Orong Bukal kurang lebih 1,5 km. Melewati empat pos yaitu pos 1,2,3 dan 4. Setiap pos memiliki view yang berbeda.

Yuuk kita lanjut jalan menuju pos 1  !. 

Trek pertama yang kami lewati yaitu langsung jalanan menanjak dengan kondisi jalur tanah dan berdebu. Sinar matahari siang itu cukup terik. Untungnya pakai topi dan kacamata hitam. Semoga saja kami bisa melalui segala rintangan sampai pos 1.

Seperti lagunya Ninja Hatori "Mendaki Gunung Lewati Lembah....", bener banget nih. Sudah nanjak, eh ketemu trek menurun dan terjal. Untungnya disediakan tali pengaman untuk berpegangan agar gak tergelincir. 

Habis jalur menurun, lanjut tanjakan lagi hingga sampai pos 1. Meskipun capek sudah terasa, tapi view dari pos 1 sudah cakep banget. Sisi sebelah timur terlihat pantai tebing dan laut lepas. Lautan biru dan di tengah ada pulau kecil yang memiliki menara mercusuar. Sayangnya gak ketangkep sama kamera. 

Di pos 1 ada spot foto menarik untuk dicoba. Fasilitas spot foto terbuat dari kayu yang cukup aman untuk kita mengambil foto. Cukup ramai yang berfoto disini, baik pengunjung lokal maupun para bule yang trekking ke Orong Bukal juga. 










Di pos 1, saya dan Mas Den istirahat sejenak sambil mengatur nafas dan minum. Lumayan sekilo jalan kaki nurunin bukit dan menanjak. Kaki sudah mulai pegal-pegal. Maklum sudah lama gak berkegiatan di alam lagi. 

Sambil menunggu teman-teman yang menyusul di belakang, kami foto-foto dulu disini. Ternyata siang itu banyak juga pengunjung yang ikutan trekking menuju Orong Bukal. Mayoritas anak-anak gen Z dan emak-emak fomo, hehehe. 

Oh ya, buat kalian yang gak kuat jalan, kalian bisa sewa ojek dari pintu parkiran hingga pos 1 saja. Untuk sewanya 25 ribu per sekali jalan. Kalau pulang pergi totalnya 50 ribu. Kalau saya sih ogah mau pakai ojek. Nanggung sekali soalnya, biar dapat pengalaman trekking kalau masih tahan lebih baik jalan kaki saja. Kalau gak kuat, angkat bendera putih. 

Setelah kurang lebih sepuluh menitan nungguin yang lainnya di pos 1, akhirnya teman-teman di belakang sudah sampai. Kami bertujuh lanjut bberjuang berjalan kaki ke pos 2 yang jaraknya gak begitu jauh tapi treknya semakin menantang. 

Dari pos 1 menuju pos 2, jalur didominasi dengan jalanan menurun. Untungnya disini banyak pohon, jadinya gak terkena langsung paparan sinar matahari siang itu. Cukup rindang untuk jalan kaki menuruni bukit. 

Sepanjang jalan, kami sering berpapasan dengan pengunjung lainnya yang balik ke parkiran. Keliatannya mereka dari pagi sudah sampai disini. Gan terasa capek karena menjumpai orang di tengah hutan belantara. 

Setibanya di pos 2, kami langsung lanjut ke pos 3. Jalur semakin curam dan licin. Untungnya banyak tali pengaman disini. Syukurnya, kami selamat sampai di pos 3. Suasananya di pos 3 cukup ramai oleh pengunjung yang melepas lelah sambil bersantai disini. 

Di pos 3, kita bisa melihat view Orong Bukal dari atas bukit. Akhirnya kami sudah sampai di spot foto yang sering saya lihat di media sosial. Rasa lelah dan senang bercampur aduk. Gak hanya melihat dari layar handphone saja, tapi saya masih diberikan kesempatan dan rezeki bisa melihat secara langsung keindahan Orong Bukal. 

Kami memutuskan untuk istirahat dan bersantai di pos 3 saja. Fasilitas disini cukup buat hati tambah senang dan nyaman. Disini ada warung kecil-kecilan yang menjual pop mie, cemilan dan minuman dingin. Warung ini dikelola oleh warga setempat. Yang buat saya senang, disini juga disediakan kantong sampah. Bahkan di setiap jalur yang kami lewati, banyak dijumpai kantong-kantong sampah. 

Disini juga dibangun spot foto dengan background Orong Bukal. Fasilitas lainnya, tersedia bangku-bangku dari papan kayu yang dibangun oleh warga setempat dan desa. Warga desa disini juga sangat ramah oleh pengunjung. Jadinya kami merasa aman berkunjung ke destinasi ini. 

Saya, Mas Den dan Enwal memutuskan untuk bersantai di pos 3 saja, sedangkan yang lainnya lanjut ke pos 4 dan turun ke pantainya. Sebenarnya view yang paling cakep itu di pos 4,tapi apa daya. Saya gak mau memaksakan kondisi fisik. Sampai pos 3 saja sudah bersyukur nafas masih teratur. Hanya kaki saja yang sudah pegal-pegal, hahaha. 






Kurang lebih satu jam lebih kami duduk bersantai di pos 3. Sempat makan pop mie, minum kopi dan cemilan. Gak terasa waktu sudah beranjak ke sore hari. Setelah berfoto-foto sambil cuci mata melihat view cantik, kami memutuskan untuk balik ke parkiran. 

Perjalanan balik dengan jalur yang sama. Tapi medan jalurnya terbalik. Tadinya kebanyakan jalur menurun, sekarang jalurnya menanjak. Untungnya di pos 3, kami menambah tenaga untuk bahan bakar balik ke parkiran. 

Perjuangan belum selesai, kami harus berjuang berjalan kaki menanjak di kondisi jalur yang agak licin. Kaki sudah cukup pegal tapi tenaga masih banyak. Kami berjalan perlahan-lahan sambil menikmati perjalanan. 

Alhamdulillah, satu jam waktu tempuh, kami sampai di parkiran kendaraan dalam kondisi sehat dan selamat. Gak ada yang mengalami cidera meskipun sempat terjatuh di beberapa spot karena jalur yang licin. 

Sampai di parkiran, perut lapar lagi. Tenaga juga sudah habis. Kami harus mengisi bahan bakar untuk pulang ke rumah masing-masing. Perjalan ke rumah masih satu jam lagi. 

Kami memesan nasi goreng di warung. Namanya Warung Cilinaya yang menjual banyak makanan dan minuman dingin. Harga makanan minuman disini juga standar. Pastinya mengenyangkan dan puas. 

Over all, rekommended banget kalau berlibur ke Lombok harus ke Orong Bukal. Fasilitasnya cukup baik dan aman. Disini juga kita membeli tiketnya resmi dan dapat wifi gratis yang cukup kencang pula. 

Tips dari saya buat kalian yang pertama kali mengexplore destinasi ini, pertama harus sehat jiwa dan raga. Kalau agak kurang enak badan, lebih baik tunda dulu. Kedua, siapin keperluan seperti botol minum, sunblok, baju cerah atau putih, kacamata hitam dan topi. Ketiga harus siapin mental dan keberanian. 

So, destinasi ini aman buat kalian kunjungi. Pengelolaannya juga sangat baik antara warga setempat dan pihak desa. Tempatnya juga bersih dan bebas dari sampah. Warga desa yang ramah ,memberi kenyamanan dan rasa aman bagi orang yang berkunjung. 

Apalagi ya yang saya mau ceritakan, sepertinya sudah cukup lengkap. Mungkin bagi kalian yang belum pernah ke Orong Bukal atau yang sudah kesana, bisa diceritakan di kolom komentar !.


Penulis : Lazwardy Perdana Putra



Sunday, 2 August 2026

Balik Ke Lombok Bersama Kapal Favorit : KMP Putri Gianyar



Selesai juga cerita mengexplore Sumbawa Barat dan sekitar. Meskipun gak banyak tempat yang didatangi tapi sudah buat kami puas terutama anak-anak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pulau yang terkenal dengan susu kuda liarnya ini. 


Menginap di Kota Taliwang, jalan-jalan pagi ke Pantai Balad, menyusuri Air Terjun Ai Kalela, hingga sampailah di destinasi terakhir yaitu keliling Pulau Bungin sambil wisata kuliner di Lesehan Apung Bungin. 


Setelah dari Bungin, kami kembali ke penginapan untuk berkemas dan balik ke Lombok. Gak terasa empat hari lamanya di jalan. Syukurnya anak-anak sehat dan waktu tidur mereka juga gak terganggu. 


Sekitar jam dua belas siang, kami check out dari penginapan. Sebelum menuju pelabuhan, kami menyempatkan untuk membeli oleh-oleh buat keluarga di Mataram. Sudah tradisi kalau jalan ke luar kota, pastinya pada nyari oleh-oleh, hehehe. 


Cuaca di Alas siang itu cukup cerah meskipun beberapa jam yang lalu sempat mendung pertanda akan turun hujan. Tapi gak lama kemudian cerah kembali. Berat rasanya mau balik ke Lombok. Pengen rasanya lanjut ke Kota Sumbawa Besar tapi besok sudah masuk kantor kembali. Anak-anak juga masuk sekolah. Next time "Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang. Boleh kita datang ke Sumbawa lagi" (malah pantun). 






Setelah membeli oleh-oleh berupa makanan ringan seperti permen susu dan cemilan "dipang" khas Sumbawa, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Pototano. Gak buru-buru juga, perjalanan balik ke Lombok santai saja.

Perjalanan dari Alas menuju Pototano hanya memakan waktu lima belas menit saja. Melewati jalanan aspal mulus berkelok-kelok dengan di kiri perbukitan dan di sebelah kanan pemandangan laut yang keren.

Kalian boleh coba kalau jalan darat ke Sumbawa dari Lombok, viewnya keren habis. Saya saja yang orang asli Lombok yang sering ke Sumbawa, gak bosen melihat view Sumbawa yang gak ada obatnya. Bisa kalian cek di beberapa tulisan saya terdahulu tentang destinasi di Sumbawa. 

Sekitar jam satu siang, kami sudah berada di Desa Pototano. Mampir dulu di Ind**mrt untuk jajan. Lumayan mahal kalau beli di atas kapal. Setelah itu saya membeli tiket di counter tiket yang ada di pinggir jalan dekat dengan pelabuhan. Untuk harga tiket agak sedikit berbeda dari Kayangan. Kalau dari Kayangan itu harga tiket motor 80 ribu. Kalau dari Pototano harganya 85 ribu (koreksi bila keliru). 

Sebenarnya bisa beli online lewat aplikasi ferizy. Tapi karena lagi males buka aplikasi, kita beli di jalan saja. Hitung-hitung bantu UMKM setempat. Bener gak?. 

Setelah belanjaan beres dan tiket kapal juga sudah di tangan, kami melanjutkan masuk ke dalam  pelabuhan. Suasana Pelabuhan Pototano agak sedikit lengang. Gak sepadat seperti biasanya. Padahal hari itu akhir pekan. 

Terlihat beberapa kendaraan kecil seperti mobil dan travel parkir menunggu giliran masuk ke dalam kapal. Motor juga lumayan banyak yang mengantri tapi masih dibilang gak seramai pada biasanya karena penyeberangan Selat Alas ini terkenal padat. Apalagi kalau di akhir pekan karena banyak pekerja dan mahasiswa yang akan balik ke Mataram setelah pulang kampung. 

Dari kejauhan sudah bersandar kapal di dermaga 1 maupun di dermaga 2. Di dermaga 2 ada kapal ferry bernama KMP Jax, salah satu kapal terbesar di penyeberangan Kayangan - Pototano. Sedangkan di dermaga 1 sedang persiapan bersandar kapal KMP Putri Gianyar. 

Pas banget waktunya kami tiba di Pelabuhan Pototano. Mau naik kapal apapun waktu itu sama-sama kapal favorit. Beruntungnya kami kebagian naik ke KMP Putri Gianyar. Salah satu kapal favorit dan terkenal cepat. Kita masuk kapalnya dulu deh, baru saya mulai mereview kapalnya  !. 





Setelah memasuki lambung kapal, saya memarkirkan motor di car deck. Sedangkan istri dan anak-anak duluan masuk ke ruang atas kapal biar dapat tempat duduk. Suasana penumpang di KMP Putri dariGianyar gak begitu ramai dibandingkan kapal sebelah. Ini namanya beruntung sekali bisa dapat kapal bagus. 

Setelah memarkirkan motor, saya segera menyusul ke ruang penumpang di atas car deck. Cuaca siang itu sangat cerah dan arus Selat Alas kelihatannya bersahabat (semoga saja). Suasana di ruang penumpang cukup lengang. Wah bakalan nyaman nih gak banyak penumpangnya. Enak di kami tapi gak enak di pihak kapalnya, hehehe. 

KMP Putri Gianyar merupakan kapal feri jenis roro (roll-on/roll-off) yang melayani angkutan penumpang, kendaraan, dan logistik antarpulau. Kapal ini dioperasikan oleh PT Jemla Ferry dan telah lama menjadi bagian dari armada penyeberangan di Indonesia.

Sebelumnya kapal ini beroperasi pada lintasan Pelabuhan Padangbai, Bali - Pelabuhan Lembar, Lombok (PP). Berpindah rute sekitar tiga tahun yang lalu hingga sekarang melayani lintasan Pelabuhan Kayangan, Lombok – Pelabuhan Pototano, Sumbawa. 

Kapal ini informasinya dibangun pada tahun 1983 dengan memiliki panjang 62 meter dan lebar 16 meter dan mampu membuat 36 kendaraan sedang dan berat dan sekitar 490 penumpang berdasarkan sumber terpercaya. 

Terdiri dari tiga deck. Dimana deck pertama yaitu area parkir kendaraan (car deck), kemudian di deck kedua ada ruang penumpang kelas ekonomi semua. Di deck paling atas yaitu anjungan, kamar ABK dan area muster station dan ruang terbuka untuk penumpang yang ingin berjemur sambil menikmati sunrise maupun sunset. 







Kita bahas ruang penumpang dulu. Disini ruangnya dibagi beberapa ruang. Ada ruang ber-AC dan ruang terbuka yang cocok bagi bapak-bapak yang ahli hisap. Sedangkan kami lebih memilih beristirahat di ruang ber-AC saja. 

Di dalam ruang penumpang keren habis. Jumlah tempat duduknya lumayan banyak. Ada bentuk kursi sofa yang empuk memanjang dan berhadapan lengkap dengan meja kecil. Ada juga area lesehan tempat kita selonjoran dan tiduran. Lantainya empuk dan enak banget buat melepas lelah. 

Yang paling saya suka dari ruangannya yaitu harum dan dingin. Di dalamnya terdapat beberapa fasilitas seperti ruang ibu menyusui, ruang medis, tempat colokan hp, layar LED buat nonton film yang diputar, kantin yang menjual berbagai macam makanan dan cemilan dan jaket pelampung. 

Ruangannya juga cukup luas. Dari dalam kita bisa melihat view luar dari jendela full kaca semua. Anak-anak pun sangat senang naik kapal ini. Kalau ayah dan bundanya jangan ditanya, pastinya suka juga dong. 





Untuk ruang outdoornya berada di bagian belakang dan deck paling atas. Di belakang ruang indoornya, terdapat beberapa kursi sofa memanjang. Dari sini kita bisa view dari arah buritan kapal. Cocok banget buat kalian yang lagi ada galau kerjaan atau putus cinta, bisa merenung di sini sambil melihat view cantik dari Pelabuhan Pototano. Insyaallah kembali good mood. 

Selain itu yang saya suka dari kapal ini karena kapal ini sangatlah bersih dan menjaga kenyaman penumpang. Tong-tong sampah dengan berbagai macam warna dan fungsinya ada di beberapa sudut kapal. Alat pemadam kebakarannya (APAR) juga lengkap. Ada mushola dan toilet yang bersih dan nyaman. 

Pantas saja kapal ini dulunya melayani penyeberangan Lembar - Padangbai yang waktu tempuhnya kurang lebih lima sampai enam jam tergantung cuaca di tengah laut. Kalau di Pototano - Kayangan yang waktu tempuhnya kurang dari tiga jam, rasanya kurang lama ya. Maunya lama-lama berada di kapal ini, hehehe. 






Sekitar jam dua siang, kapal diberangkatkan gak lama setelah kapal sebelahnya yaitu KMP Jax diberangkatkan juga. Wah, bakalan melihat balapan kapal fery nih di Selat Alas. Moment langka buat saya ada kapal balapan di Selat Alas. 

Kalau sudah melihat proses kapal berangkat, moment yang gak boleh dilewatkan. Sejak kecil kalau naik kapal, saya pastinya suka melihat proses kapal berangkat. Dari ramdoor kapal ditutup. Melihat para pedagang yang berlarian turun dari kapal karena gak semua kapal menerapkan aturan pedagang asongan boleh ikut berlayar sampai ke tanah seberang. 

Saat tali tambat kapal dilepas oleh petugas dermaga lalu para ABK menariknya ke atas kapal. Terkadang, kita juga bisa melihat anak-anak kecil bertelanjang saling berlompatan ke dalam air untuk menangkap uang koin yang dilempar oleh penumpang dari atas kapal saat kapal hendak menjauh dari dermaga. Moment-moment yang sangat saya kenang. Tapi sekarang sudah sangat jarang saya melihat moment itu lagi. 

Saya mengajak anak-anak untuk melihat proses kapal berangkat. Kakak Ken dan Adeq Lala sangat bersemangat. Untuk pertama kalinya saya dan istri mengajak mereka jalan-jalan ke Sumbawa. 

Perlahan-lahan, kapal meninggalkan pelabuhan. Selamat tinggal Pulau Sumbawa, terimakasi sudah menyambut kami selama empat hari dengan ramah. Sampai berjumpa lagi di kesempatan lainnya !. 

Gak langsung kembali ke tempat istirahat, saya dan anak-anak masih menikmati view cantik dari Pelabuhan Pototano. Gak ada bosannya melihat gugusan pulau-pulau yang ada di sekitar pelabuhan. Ada Pulau Kenawa, Pulau Namo, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Kambing dan beberapa pulau gak berpenghuni lainnya. 

Gak salah kalau Pelabuhan Pototano menjadi salah satu pelabuhan terindah di Indonesia. Pelabuhan yang memiliki dua dermaga dan pasir putih. Banyak warga yang berkunjung ke pelabuhan ini untuk berenang karena di sisi barat pelabuhan ada pantai dengan pasir putih dan Bukit Pototano. Dari sini juga kita bisa menyeberang ke beberapa pulau di sekelilingnya. Keren kan !. 




Setelah setengah jam berlayar, saya dan anak-anak balik ke tempat istirahat. Sedangkan istri lagi betah selonjoran di ruang lesehan sambil istirahat dan nonton film. 

Gak banyak kegiatan yang kami lakukan selain istirahat, mengisi tenaga biar kembali fresh setelah beberapa hari ngebolang terus. Anak-anak langsung tidur siang karena kecapean juga. Saya pun ikut tertidur dan gak terasa goyangan kapal yang menghantam arus laut. 

Siang itu arus laut sedang kencang-kencannya. Hal yang wajar karena itu namanya arus air surut. Biasanya sekitar jam dua siang hingga empat sore, air laut surut dan menciptakan arus laut dan gelombang yang cukup buat sebagian penumpang mabuk laut. 

Untungnya kami berempat gak ada yang mabuk laut. Kami menikmati pelayaran hingga kapal mendekat ke Pelabuhan Kayangan. Kurang lebih satu jam pelayaran, posisi kapal sudah dekat dengan Pelabuhan. 

Tadinya mau melihat moment kapal balapan, tapi ketiduran sampai kapal berhenti menunggu antrian masuk pelabuhan. Gak apa-apalah, terpenting kami dan penumpang lainnya selamat sampai tujuan. 

Cukup lama mengantri masuk pelabuhan karena jalan kapal ini cepat banget. Gak heran memang kapal ini menjadi kapal favorit sebagian penumpang yang sering bolak-balik Lombok Sumbawa. Terlihat KMP Jax juga masih mengantri di samping kapal kami. Next time, pengen naik Si Jax ini karena bentuknya yang unik. Berukuran panjang dan memiliki dua anjungan di bagian depan dan belakang. Ukurannya lebih besar daripada Si Putri Gianyar yang kami naiki. 

Setelah satu jam lebih menunggu, akhirnya kapal kami berjalan perlahan-lahan dan bersiap sandar di dermaga satu. Gak sabar ingin menginjakkan kaki kembali di tanah Lombok. Akhirnya cerita perjalanan motoran ke Pulau Sumbawa edisi kali ini saya cukupkan dulu. Sampai berjumpa di cerita tentang Sumbawa yang pastinya lebih seru dengan destinasi baru lainnya. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra