Saturday, 31 October 2026

Nonton Race Moto3 Dari Sudut Yang Berbeda : Sirkuit Internasional Mandalika


Gak terasa Motogp Mandalika sudah digelar selama lima tahun. Setiap tahunnya, mata selalu tertuju ke Pulau Lombok. Saya yang anak kampung sini saja masih gak nyangka, Motogp bisa digelar di Lombok. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, kita mampu berbicara di dunia bahwa Indonesia juga punya sirkuit yang indah di dunia. Salah satunya, Sirkuit Internasional Mandalika. 

Kalian pastinya sudah mengetahui lokasi sirkuit ini. Sirkuit Internasional Mandalika terletak di kawasan KEK Mandalika, Kuta, Kab. Lombok Tengah. Sirkuit ini mulai dibangun sekitar tahun 2019 dan diresmikan di tahun 2021. Sirkuit Internasional Mandalika memiliki panjang lintasan kurang lebih 4,3 kilometer dengan memiliki 17 tikungan. Sudah melahirkan juara kelas Motogp yang berbeda di setiap tahunnya. 

Di tahun ini awalnya saya gak berencana untuk nonton langsung ke sirkuit karena pengalaman yang sebelum-sebelumnya. Dimana kita rela panas-panasan saat menuju sirkuit. Parkiran kendaraan yang jaraknya cukup jauh. Rebutan suttle bareng penonton lainnya di saat sedang ramai-ramainya. Berjemur di atas tribun saat balapan dimulai. So, persiapan kalau ke sirkuit itu butuh effort lebih. Apalagi jarak dari rumah ke sirkuit cukup jauh. Kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan motor atau mobil. Itu kalau situasi normal, kalau ketemu macet bisa dua jam-an. 


Dua hari menjelang balapan tepatnya di Hari Jumat, saya mendapatkan tiket dari salah satu teman. Tiketnya berbentuk gelang seperti biasanya. Tapi warnanya berbeda yaitu warna hijau. Tahun sebelumnya, saya mendapatkan tiket berwarna merah. Artinya mendapatkan tribun di area tengah sirkuit. 


Bisa baca disini  : Nonton Motogp Mandalika 2025


Sedangkan warna hijau, kita mendapatkan zona di luar sirkuit. Tepatnya di gate 3 atau zona I,J,K dan L. Kebetulan saya mendapatkan zona I atau kita biasa menyebutnya tribun merah putih karena kursi tribunnya perpaduan warna merah dan putih seperti warna bendera Indonesia. 


Mendadak saya senang sekali dapat tiket di zona I. Selama empat tahun nonton langsung, baru tahun ini dapat nonton di zona I. Posisi tribunnya ada di sebelah barat sirkuit atau berada di tikungan 15,16 dan 17. Sebenarnya banyak yang mengincar tribun ini karena dari sini, mata dapat melihat para pembalap mencapai garis finish karena tribun ini berhadapan langsung dengan lintasan panjang dan tikungan mematikan sebelum garis finish. 


Tapi karena tribun ini merupakan tribun beratapkan langit, jadinya orang-orang agak ragu mau nonton balapan sambil berjemur. Kalau bule mah suka di tempat seperti ini karena kulit mereka putih. Lah kalau saya sudah hitam gini, bisa-bisa kayak ikan teri yang sudah dijemur berminggu-minggu nanti. Bukannya tambah hitam tapi kulit jadi kering. 


Tiket Motogp kali ini berlaku untuk tiga hari. Dimulai hari Jumat hingga race di Hari Minggu. Berbeda di tahun pertama digelar, tiket gelang dibedakan per harinya. Harganya pun berbeda ketiga harinya. Tapi kalau sekarang harga sudah termasuk nonton tiga hari. Terserah mau ke sirkuit kapan. Tiga hari juga gak masalah. Yang penting jangan hari Senin karena yang kalian lihat nantinya, panitia lagi bongkar panggung konser. 


Berhubung jarak dari rumah cukup jauh, saya pergi nontonnya di Hari Minggu saja. Itupun rencananya mau nonton balapan kelas Moto3 saja. Mau lihat secara langsung Veda Pratama balapan di sirkuit. Pembalap kebanggaan Indonesia diharapkan mampu naik podium di rumah sendiri. 


Cuaca di Minggu pagi cukup cerah. Kebayang nanti di sirkuit pasti terik banget. Persiapan buat nonton sudah beres. Dari topi, kacamata hitam, baju warna putih, sunblock, dan terpenting bawa botol termos satu liter yang isinya air mineral es. 


Berangkat dari rumah jam sembilan pagi menggunakan motor. Estimasi sampai di sirkuit sebelum race Moto3 yang jadwalnya dimulai jam dua belas siang. Sepanjang jalan By Pass BIZAM, kondisi lalu lintas ramai lancar. Motor dan mobil pun cukup ramai yang melintas. Begitu juga dengan beberapa club motor yang datang dari luar Lombok sedang berkumpul di salah satu SPBU jalur lintas sirkuit. 


Gak begitu terburu-buru, saya bawa motor santai saja. Oh ya saya berangkat berdua bareng adik, tapi bawa motor masing-masing. Tribunnya nontonnya pun sama. Setibanya di bundaran bandara BIZAM, lalu lintas cukup padat. Disini penonton yang memiliki gelang di zona VIP, paddock, A, B, C, D, E, F, G dan H diarahkan melalui By Pass Mandalika atau mengarah ke Pantai Tanjung Aan. Sedangkan bergelang hijau di zona I, J, K dan L diarahkan melalui jalur Desa Sade dan Kuta Mandalika. 


Untuk jarak ke sirkuit  kurang lebih sama. Tapi untungnya yang bergelang hijau, parkir kendaraannya gak jauh dari tribun. Oke, saya pun melalui jalur Desa Sade. Sudah lama rasanya gak melalui Desa Sade. Kondisi lalu lintas arah Desa Sade gak begitu ramai dibandingkan melalui jalur By Pass Mandalika. 






Singkat cerita, melewati Desa Sade yang sedang proses pembangunan kembali paska musibah kebakaran hebat yang menghanguskan hampir seluruh rumah adat beberapa bulan yang lalu. Sampai di Bundaran Kuta Mandalika, petugas standby mengarahkan kendaraan yang akan memasuki area parkir. Saya pun diminta untuk jalan terus hingga Hotel Pullman, salah satu hotel bintang lima yang baru dibuka di daerah Kuta Mandalika. 


Sedangkan ada puluhan kendaraan yang mengarah ke arah berbeda. Sempat bingung tapi masih mengikuti instruksi petugas. Akhirnya sampai juga di salah satu area parkir tepat di persimpangan yang akan mengarah ke Hotel Pullman. Terlihat ratusan kendaraan roda dua sudah terparkir. Petugas sudah standby disini. 


Tanpa ragu saya masuk ke area parkir dan dipandu oleh salah satu petugas parkir. Untuk masuk ke area parkir, kita membayar 20 ribu per motor. Ini parkir resmi dan pastinya aman karena dijaga ketat oleh petugas. 


Setelah memarkirkan motor, saya berjalan menuju ke tempat shelter bertuliskan Gate 3. Tapi anehnya, disini banyak bapak-bapak ojek yang menawarkan mengantar penonton hingga sampai di tribun. Awalnya saya menolak tawaran bapak ojek. Pas di shelter, saya bertanya ke salah satu petugas untuk suttlenya datangnya lama apa gak. Ternyata petugasnya menyarankan untuk saya berjalan kaki karena jarak ke tribun gak begitu jauh. 


Sekarang bukan masalah jaraknya yang dekat tapi saat itu panas banget. Gak sanggup rasanya untuk jalan kaki karena saya harus menjaga kondisi tubuh agar gak dehidrasi. Lumayan juga jalan kaki saat sinar matahari sedang terik-teriknya. 


Akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek saja seharga sepuluh ribu rupiah. Mau naik ojek mana pun, tetap harganya dipatok sepuluh ribu. Gak ada aturan tawar menawar ya. Ini harga yang sudah disepakati sesama bapak-bapak ojek. 


Naik ojek sepuluh ribu eh ternyata bener, jaraknya hanya seratus meter saja. Gak apa-apalah. Hitung-hitung bagi rezeki kepada bapak ojek. Turun dari ojek, saya berjalan menuju Gate 3. Di kiri kanan trotoar, banyak sekali pedagang jersey bertema Motogp. Dari penjual kaos, jersey tim, kain pantai dan topi. Saya hanya melihat sepintas saja. Gak tertarik buat beli karena pastinya harga saat event itu jauh lebih mahal. 





Sesampainya di Gate 3,saya langsung menuju area pengecekan tiket dan barang bawaan. Disini suasananya gak terlalu ramai seperti di gate lain yang berada di area tengah sirkuit. Enak juga ternyata, menghemat waktu dan tenaga. 


Pengecekan tiket dan barang bawaan begitu ketat. Satu per satu penonton dicek barang bawaannya. Petugas meminta tas bawaan dibuka dan memeriksa apa saja yang dibawa. Gak ada drama barang bawaan disita petugas, saya langsung menuju tribun yang jaraknya hanya beberapa langkah dari pintu masuk. 


Tribun zona I sudah terlihat ramai. Sampai di tribun sedang berlangsung balapan Asia Talents Cup. Sorak sorai penonton terdengar riuh. Pembalap asal Indonesia yang saya lupa namanya keluar jadi juara dan naik podium. Saya gak langsung naik ke tribun karena lagi menyimpan tenaga buat nanti race Moto3. 


Kebayang panas banget di atas tribun. Nengok ke langit, gak ada satupun awan putih terlihat. Gila ini bisa buat kita gosong kalau berlama-lama di atas tribun. Saya dan adik memutuskan duduk santai di bawah tribun. Gak hanya kami berdua saja, tapi penonton lainnya pun ikutan bersantai di bawah tribun besi dan baja. Kalau balapannya sudah mau dimulai baru kita naik ke tribun. Asyik juga, ada kesan tersendiri nonton di tribun ini. Hehehe. 






Di bawah tribun ada yang makan siang, ngopi, ngemil dan tidur siang. Niat banget ada yang sempat-sempatnya tidur siang. Emang enak kalau duduk di bawah tribun. 


Kurang lebih setengah jam sebelum race Moto3 dimulai, ada parade pembalap Motogp yang memutari sirkuit sambil menyapa para penonton di tribun. Mereka naik di atas sebuah minibus tanpa atap. Memakai jersey tim masing-masing. Melambaikan tangan dan melepaskan senyuman hangat. 


Hampir seluruh pembalap saya kenal. Ada abang Pecco, Jorge Martin, Pedro Acosta, dan si calon juara dunia tahun ini yaitu abang Marc Marquez yang masih mencari wangsit buat menaklukkan Sirkuit Mandalika. Semoga dia bisa menaklukkan sirkuit ini setelah "Disembek" sama Mamiq Iqbal (Gubernur Prov.Nusa Tenggara Barat) saat baru tiba di Lombok. 


Saya dan adik, naik ke atas tribun dan duduk di bagian tengah karena di bagian atas sudah dipenuhi penonton yang sudah dari tadi duduk berjemur. Saya menuju tribun yang paling selatan karena dari sini kita bisa melihat lintasan lurus dan garis finish. 


Dari kejauhan terlihat tribun zona A dan B, paddock dan tribun zona H. Di sisi selatan terlihat tribun zona J dan K sudang sesak oleh penonton. Tribunnya beratap jadinya enak nonton disana. Next time, tahun depan semoga bisa dapat tiket di tribun J,K atau L. Dari pagi sampai sore pastinya bakalan betah duduk tanpa harus panas-panasan.


Setelah parade pembalap Motogp selesai, saya turun dari tribun lagi dan duduk di bawah kolong tribun buat menghindari sinar matahari yang sangat terik. Nyempatin beli air mineral lagi di depan tribun. Ada beberapa stand yang buka. Dari menjual minuman, makanan dan pernak pernik bertemakan Motogp. Fasilitas umum lainnya yang disediakan oleh panitia yaitu toilet portabel yang jumlahnya cukup banyak. Ada juga tenda mushola bagi yang muslim untuk melaksanakan shalat Dzuhur karena kalau ke masjid, kita harus keluar sirkuit lagi dan jaraknya cukup jauh.





Waktu sudah menunjukkan jam dua belas kurang, suara motor yang digeber terdengar dari paddock. Tandanya sebentar lagi race Moto3 segera dimulai. Para penonton yang berada di bawah kolong tribun berbondong-bondong naik ke atas tribun. Saya pun ikutan naik dan ternyata kursi sudah hampir terisi penuh. Untungnya di bagian tengah masih ada kursi tersisa. Siapa cepat dia yang dapat.


Gak peduli siang itu terkena teriknya matahari. Untungnya langit agak berawan. Angin laut berhembus ke arah kami. Cukup membuat suasana menjadi sedikit sejuk. Sorak sorai penonton dari berbagai tribun terdengar meriah. Layar LED raksasa yang berada di beberapa titik terlihat persiapan race di garis start. 


Kok saya deg-deg kan ya. Ada rasa haru dan bangga bisa melihat Veda Ega Pratama bisa melangkah sejauh ini. Penonton lainnya juga agak tegang dan berharap Veda bisa meraih podium. Peluang besar bisa menang di rumah sendiri. Seluruh bangsa Indonesia berdoa yang terbaik buat Veda Pratama.


Saya yang sudah menggunakan jersey Timnas Indonesia, mendukung penuh Veda Ega Pratama bisa mengharumkan Indonesia di rumah sendiri. Semoga gak terjatuh saja dan bisa finish di barisan terdepan. Helikopter Dorna sudah terbang tinggi di atas Sirkuit Mandalika. Suara komentator berbahasa Indonesia terdengar di speaker yang ada di beberapa sudut pagar sirkuit.


Ketika pembalap sudah berada di posisinya masing-masing dan akan bersiap memulai balapan. Terdengar suara penonton yang meneriakkan "Veda" Veda" membuat seluruh sirkuit menggema meneriakkan nama Veda Pratama.


Lampu hijau sudah menyala,suara motor yang digeber terdengar sangat berisik. Pembalap sudah adu ketangkasan menaklukkan tikungan demi tikungan Sirkuit Mandalika. Para pembalap saling salip menyalip. Veda sempat berada di posisi kedua sehingga kita semua bersorak senang. Sayangnya sampai di akhir balapan, Veda finish di posisi enam. 


Pembalap yang keluar menjadi juara yaitu Maximo Quiles, pembalap asal Spanyol yang sekaligus memastikan mengunci gelar juara dunia kelas Moto3 musim 2026 di Sirkuit Mandalika. Meskipun gagal naik podium, kami semua bangga Veda bisa di posisi enam dan masih berada di rangking sepuluh besar dunia di kelas Moto3. Luar biasa buat Veda Pratama.


Balapan yang sangat seru sampai saya gak merasakan panasnya matahari dari atas tribun. Seluruh mata tertuju ke Veda Ega Pratama. Lap demi lap kami menantikan Veda masih berada di barisan terdepan bersaing bersama para pembalap favorit dari berbagai belahan dunia. Berharap bisa sukses sampai garis finish.


Menurut saya, di tahun depan Veda Ega Pratama bisa berkembang lagi menjadi pembalap yang mampu bersaing dengan pembalap dunia lainnya di kelas Moto3. Ini tahun pertamanya di kelas Moto3, semoga tahun depan dan seterusnya, Veda bisa sampai di kelas Motogp. Good Job Veda !.


Jadi, masih kapok nonton Motogp ke Sirkuit Internasional Mandalika lagi !. Ditunggu di tahun depan. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 24 October 2026

Spot Foto Cantik di Kopi Susu Kuta Lombok


Langit sedang cerah-cerahnya. Terik sinar matahari yang cukup menyengat. Untungnya masih dibantu dengan hembusan angin dari arah laut saat saya dan ribuan penonton berada di atas tribun. 


Saat itu saya dan ribuan penonton sedang menantikan pembalap kebanggaan Indonesia di race kelas Moto3. Ya benar, saya sudah gak sabar melihat secara langsung aksi Veda Ega Pratama menggeber motornya di atas aspal Sirkuit Internasional Mandalika. 


Singkat cerita, kurang lebih satu jam berada di atas tribun beratapkan langit untuk menyaksikan keseruan race di kelas Moto3. Untuk keseruan nonton racenya, nanti saya tulis ceritanya di postingan berikutnya.


Btw, saya memutuskan untuk gak melanjutkan menonton kelas Moto2 dan MotoGP di atas tribun. Siang yang sangat terik sampai mengeringkan tenggorokan. Meskipun ribuan penonton menantikan satu pembalap lagi asal Indonesia di kelas Moto2, tapi saya gak begitu tertarik menontonnya. Begitu juga dengan MotoGP, musim ini bagi saya MotoGP sudah membosankan. Apalagi saya bukan fans fanatik Marc Marquez. Tapi lagi-lagi MotoGP bagi saya sangat membosankan. 


Setelah selesai balapan di kelas Moto3, saya balik ke parkiran motor yang jaraknya gak begitu jauh. Berjalan kaki sekitar dua ratus meter dari pintu masuk (Gate 3), saya sudah tiba di parkiran kendaraan. 


Gak seperti di tahun-tahun sebelumnya kalau nonton MotoGP di Mandalika, pastinya pakai drama adu sikut sama penonton lainnya saat rebutan naik ke dalam suttle. Gak pakai acara jalan kaki puluhan kilometer untuk menuju tribun. Tahun ini gak seberat tahun lalu. 






Setelah mengambil motor di parkiran kendaraan, saya gak langsung pulang ke rumah. Pengen ngopi di dekat-dekat sirkuit saja. Apalagi siang yang terik ini, minum yang dingin-dingin sepertinya asyik. Mencari cafe atau kedai kopi sekitaran Kuta Mandalika cukup banyak pilihan. Tapi kebanyakan cafe-cafe disini pengunjungnya para bule semua. Suasananya juga sepeti cafe-cafe yang ada di Gili Trawangan dan di Legian Bali. 


Setelah keluar dari area sirkuit, saya menuju Jalan Raya Kuta. Kondisi jalanan arah keluar sirkuit agak lengang, tapi yang akan menuju sirkuit kondisinya macet parah. Penonton baru pada datang, sedangkan saya sudah pulang duluan. 


Melalui jalur seperti biasanya. Belok ke kiri, menuju arah Masjid Nurul Bilad. Salah satu masjid terbesar di Pulau Lombok dan menjadi daya tarik destinasi wisata religi di daerah Kuta Mandalika. Gak jauh dari masjid, saya sudah berada pusat keramaian Kuta. Sepanjang jalan berjejer cafe-cafe dari kecil sampai besar. Gak hanya cafe, beberapa penginapan seperti homestay, bungalow dan hotel ada disini. 


Buat yang berlibur serta berencana untuk stay di Kuta Mandalika, banyak pilihan penginapan dengan budget yang bervariasi dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Kalian tinggal memilih sesuai selera.


Paling enak datang kesini, di sore hingga malam hari karena banyak hiburan yang ada. Dari live music di beberapa cafe dan pastinya suasana sore hari di Kuta pastinya asyik sambil menikmati terbenamnya matahari.


Tujuan saya kali ini yaitu Kopi Susu Kuta Lombok. Salah satu cafe atau tempat ngopi yang beberapa waktu lalu sempat ngehits dan ramai di media sosial. Banyak saya lihat deretan foto anak-anak muda yang datang kesini. Entah datang hanya untuk berfoto saja atau nongkrong disini sambil mencoba makanan dan minuman. 


Saya pun gak mau kalah. Meskipun umur sudah tiga puluhan tapi gak mau kalah sama anak-anak muda jaman sekarang. Untuk menuju lokasi gak begitu sulit. Tinggal buka google maps, ketik Kopi Susu Kuta Lombok dan kita tinggal ikutin petunjuknya.


Kebetulan pas lagi berada di daerah Kuta, jadinya sempatin mampir disini. Kalau gak nonton MotoGP, saya sudah jarang sekali motoran ke Kuta dan sekitar. Lumayan juga kalau dari dari rumah bila pengen kesini. Berat di bensin juga, hehehe (malah curhat). 


Kopi Susu Kuta Lombok beralamatkan di Jalan Raya Kuta no.1, Kuta, Kec.Pujut, Kab.Lombok Tengah. Alasan saya tertarik untuk datang kesini yaitu penampakannya yang etnic dan exotic. Mengingatkan saya saat bersantai di salah satu cafe yang ada di Gili Trawangan. Vibesnya dengan suasana tropikal dan berada di pinggir pantai. Angin pantai cukup terasa disaat saya berada di depan cafe ini.


Suasana yang cukup ramai. Jalan Raya Kuta pun dipadati oleh tamu-tamu mancanegara yang terlihat berjalan kaki di sepanjang jalan. Suara musik pun terdengar dari cafe-cafe yang sudah buka siang itu. Seperti bukan di daerah sendiri. Saya merasa minoritas disini. Apalagi sedang ada event MotoGP, jadinya daerah Kuta sangat ramai sekali.








Setibanya di depan cafe, saya memarkirkan motor di tempat parkiran yang ukurannya gak begitu luas. Ada beberapa mobil dan motor yang sudah terparkir. Kebetulan posisi cafe ini berada dekat sekali dengan pantai. Aroma angin laut cukup tercium segar sampai di paru-paru.

Penampakan Kopi Susu Kuta Lombok cukup menarik buat dijelajahi. Bangunan dua lantai dengan taman cukup luas di tengah bangunan. Gak hanya cafe saja disini. Ada toko yang menjual berbagai souvenir khas Lombok dan baju kaos yang harganya kalian sudah pasti tau kalau di tempat wisata seperti apa. Selain itu, ada mini market,  money changer dan beberapa toko souvenir lainnya.

Di area spot foto ini, banyak sekali anak-anak muda yang berfoto ala model (selebgram). Backgroundnya juga pas banget untuk mengambil foto keren. Tanpa malu-malu dengan berpakaian ala model, mereka antusias untuk bergaya. Apalagi ditambah dengan topi pantai dan kacamata hitam. Kita bisa cuci mata disini, karena sebagian besar yang berfoto disini para kaum wanita yang bening-bening, hehehe.

Setelah kepoin ada apa saja di area ini, saya lanjut menuju cafenya. Suasana siang itu cukup ramai. Bangunan bergaya etnic dengan dua lantai. Dimana di setiap lantainya ada meja kursi berbagai pilihan. Saya memilih duduk di lantai satu dekat dengan area parkir dan banyak pepohonan seperti pohon kelapa dan tanaman hias. Karena datangnya sendirian, jadi memilih meja yang berukuran kecil untuk dua orang saja. 

Selain itu ada juga meja kursi untuk empat hingga enam orang. Ada juga sofa panjang untuk kalian yang akan bersantai sambil menikmati suasana Kuta. Sayangnya dari cafe ini, kita gak bisa melihat pantai karena tertutup oleh bangunan lainnya. Padahal jarak dari cafe ke pantainya cukup dekat. 

Lampu-lampu hias dari rotan kemudian beberapa perabotan juga dari kayu dan rotan menambah kesan etnic dari cafe ini. Pelayanan juga sejauh ini cukup cepat dan baik. Saat saya masuk ke dalam cafe, seorang bapak-bapak berambut gondrong berpakaian santai dengan baju pantai menghampiri saya dan menanyakan mau duduk dimana. Dia juga menyarankan untuk duduk yang nyaman buat saya sendiri, Tapi kembali lagi yang menentukan tamunya.

Bapaknya ramah sekali dan murah senyum. Wajahnya sih seperti wajah orang India. Logat bahasa Indonesianya juga agak kurang lancar. Apa jangan-jangan dia benar berasal dari India atau Bangladesh ?, nebak-nebak sendiri.

Di lantai satu ada beberapa meja kursi untuk tamu. Dari sini kita bisa melihat barista dengan tangan lincahnya membuat beberapa menu minuman, salah satunya minuman kopi. Ada juga spot foto yang menjadi favorit tamu disini yaitu berfoto di tulisan Kopi Susu Kuta Lombok di salah satu dinding dalam bangunan. Sayangnya pas waktu itu, tempatnya sudah keduluan tamu lainnya. 

Menuju ke lantai dua, kita menaiki tangga yang cukup lebar. Di lantai dua lebih ramai dibandingkan di lantai satu. Apa karena view dari lantai dua lebih menarik daripada lantai satu. Menurut saya sama saja, tapi disini angin pantainya cukup terasa sepoi-sepoi. Beberapa tempat duduk juga seperti sofanya sangat menarik di lantai dua. Sayangnya lagi-lagi sudah diambil sama tamu yang lebih dulu sampai disini.







Setelah memilih tempat duduk, saya mulai memesan menu. Cek daftar menu yang disodorkan oleh salah satu karyawan cafe. Kali ini si mbak jilbab yang membawakan saya selembar kertas menu. Cara memesan menu disini, kita tinggal mencentang list menu di kertas. Kalau gak ada, kita tinggal menambahkan sendiri.


Banyak pilihan menu yang enak-enak. Ada hot coffee, ice coffee, matcha and tea, smoothies, soft drinks dan masih ada lainnya. Untuk menu makanan, ada breads and bakery, eggs, fruit and veg, cheese, protein dan sweet. Karena banyaknya, saya jadi bingung mau pesan menu makanan yang mana. 


Tujuan datang kesini ya untuk ngopi. Jadinya saya pesan salah satu menu favorit disini yaitu Ice Long Black/ Americano. Saya pesan dengan tambahan gula cair biar gak terlalu pahit. Awalnya mau pesen yang hot, tapi karena cuaca siang itu sangat terik, jadinya pesen yang dingin seger saja. 


Untuk Ice Long Black Americanonya enak banget. Ice Long Black Americano memiliki rasa kopi yang kuat dan seger. Aroma kopinya terasa khas dengan perpaduan rasa pahit yang pas dan sedikit rasa asam yang menyegarkan. 


Disajikan dengan es batu, minuman ini cocok dinikmati saat cuaca panas atau ketika lagi pengen bersantai, melepas keletihan saat bekerja seharian. Rasanya simpel, gak terlalu berat dan cocok untuk pecinta kopi hitam tanpa tambahan susu. Overall, recommended banget untuk kalian yang suka kopi dengan cita rasa autentik dan menyegarkan. 


Porsinya juga cukup besar. Apalagi kalau datang nongkrong di Kopi Susu Kuta Lombok, rasanya pengen berlama-lama disini. Mencari inspirasi tulisan, baca buku, ngobrol bareng pasangan, atau meeting kayaknya cocok disini.


Kita beralih ke menu makanannya. Saya gak memesan menu berat karena sudah bawa bekal nasi dari rumah sebelum berangkat ke sirkuit. Untuk menemani ice kopi, saya pesan Mini Burger dengan egg, coleslaw yang isinya biasanya irisan kol yang diiris tipis, wortel parut dan saus mayones, dan ditambah onion. 


Burger berukuran mini dan lembut saat digigit. Soal rasa, gak perlu diragukan lagi. Isian telur dadarnya lembut, coleslawnya gak berlebihan dan bumbunya nendang banget. Awalnya ragu mau pesan satu karena takutnya gak kenyang. Pas dihabiskan,  ternyata cukup kenyang juga. 


Pas banget dimakan untuk menemani ngopi sambil menikmati suasana siang di Kuta Mandalika. Semakin sore, pengunjung semakin ramai yang berdatangan. Hampir semua meja sudah terisi semua. Untuk harga disini masih masuk akal. Apalagi disini ada paket 35 ribu bisa pesan beberapa makanan atau cemilan. 


Ice Long Black / Americano yang saya pesan kena di harga 35 ribu dan Mini Burger kena di harga 35 ribu juga jadi total 70 ribu, belum termasuk PPN. So, masih masuk akal menurut saya kalau lokasinya di Kuta. Di Kota Mataram saja, harganya sama saja. Bahkan jauh lebih mahal dibandingkan di Kopi Susu Kuta Lombok. 


Overall, saya suka nongkrong di Kopi Susu Kuta Lombok. Di lain kesempatan, pengen datang lagi mencoba menu lainnya sambil nulis blog atau baca novel. Tempatnya nyaman sekali buat bekerja atau mencari inspirasi. Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari Kota Mataram sampai di cafe ini.


Untuk informasinya, Kopi Susu punya dua lokasi di Pulau Lombok. Pertama yang sudah buka lebih lama yaitu Kopi Susu Gili Air dan yang baru buka yaitu Kopi Susu Kuta Lombok. Penasaran juga dengan Kopi Susu Gili Air. Next time, kalau datang ke Gili Air, semoga dapat mampir di Kopi Susu Gili Air.


Untuk jam buka di Kopi Susu Kuta Lombok dari jam tujuh pagi hingga sebelas malam (koreksi bila keliru). Bagi kalian yang lagi mencari lokasi buat ngumpul bareng temen atau keluarga sambil menuju destinasi wisata Kuta Mandalika, bisa mampir di Kopi Susu Kuta Lombok. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Saturday, 3 October 2026

Makan Siang Dadakan di AH PEK Kopitiam Lombok : Pengen Datang Lagi

 


Agenda dadakan yang gak direncanakan sebelumnya biasanya keseringan jadi. Nah, ini yang saya alami di minggu yang lalu sebelum cerita ini ditulis. Tiga harian lembur di kantor sampai akhir pekan dipakai buat kerja, rasanya pengen makan yang enak-enak. Ditambah lagi pengen bersantai sejenak di tempat yang nyaman dan adem. 


Berawal dari keisengan beberapa teman lembur yang pengen pesan makan siang. Kalau saya sih ngikut saja mau makan apa. Nah, pas tau mereka mau pesan makan di salah satu resto terkenal di Kota Mataram yaitu AH PEK Kopitiam, saya pun tertarik. 


Bahkan ada yang ngasi saran, makan disana saja. Pas selesai lembur di hari terakhir, gak mikir dua kali kami bersemangat berangkat ke lokasi. Mana siang itu pas banget perut sudah laper banget. 


Namanya unik ya AH PEK Kopitiam, pasti kita pikir itu resto khas Chinese. Yup, benar ini resto dengan nuansa Chinese. Resto itu berlokasi gak jauh dari kantor. Alamatnya di jalan Bung Karno, Ruko Bung Karno Jaya no. 12, Cilinaya, Cakranegara,  Kota Mataram. Tepatnya di selatannya Stoic by Episode


Mulai soft opening tujuh bulan yang lalu, dan saya baru pertama kali kesini. "Kemana saja selama ini, kok baru datang kesini?", Maklum lagi banyak kerjaan di kantor jadi agak kurang nongkrong di cafe atau resto. Lagi sepi job ngeblog juga hehehe (nyindir). 


Resto ini sudah buka banyak cabang di Indonesia. Lombok merupakan daerah ke-delapan (koreksi bila keliru) yang dipilih untuk melebarkan sayap dari resto ini. Kalau gak salah resto ini sudah buka di Surabaya, Gresik, Malang, Tangerang, Jakarta, Depok, Samarinda dan terbaru di Lombok. Wah keren kan !. 





Kami sampai di lokasi sekitar jam satu siang. Perut sudah laper, badan dan pikiran sudah capek kerja lembur dari pagi. Saatnya kita bersantai dan berkumpul sambil menikmati beberapa menu best seller dari resto ini. Jujur, saya agak kurang ngikutin apa saja menu disini. Jadinya saya bertanya sama beberapa teman yang sudah sering datang kesini. 


Sebelum kita bahas soal mau makan apa, saya akan mengajak kalian melihat-lihat suasana di dalam resto ini. Dari pinggir jalan raya, penampakan bangunan dari resto ini sudah mencuri perhatian karena karena warnanya yang sangat mencolok. 


Area parkirnya gak begitu luas tapi cukup nyaman buat kita yang bawa kendaraan roda empat atau roda dua. Ada penjaga parkirnya juga (tapi bayar parkir), jadinya kendaraan kita dijamin keamanannya.


Berjalan menuju pintu masuk, saya sempat membaca beberapa informasi penting di kaca pintu. AH PEK buka dari Senin sampai Minggu dari jam tujuh pagi hingga sepuluh malam. Buat yang membawa binatang peliharaan dilarang disini ya. Bawa makanan dari luar juga gak diperkenankan. Dan yang paling penting disini dilarang buat ngerokok, mantaap.


Memasuki bangunannya, kita langsung disuguhkan dengan suasana Chinese Melayu. Beberapa pajangan dinding yang kental akan budaya Melayu. Hiasan lampu dan dinding juga sangat kental akan Chines Melayu. 


Bangunan berlantai tiga dengan dominan warna cat merah dan hijau khas dari negeri tirai bambu karena melambangkan keberuntungan. Jendela kaca yang sangat iconik. Mengusung konsep kopitiam, restoran ini menghadirkan nuansa yang punya sentuhan klasik, tetapi tetap terlihat modern dan nyaman untuk dijadikan tempat bersantai.


Penataan ruangannya terlihat cukup menarik dengan perpaduan desain interior yang memberikan kesan hangat. Mulai dari pemilihan meja dan kursi, dekorasi ruangan, hingga pencahayaan, semuanya terasa menyatu dalam menciptakan suasana khas tempat nongkrong ala kopitiam.


Salah satu hal yang cukup menarik perhatian adalah bagaimana ruangan ditata sehingga pengunjung bisa menikmati waktu makan tanpa merasa terlalu formal. Suasananya cocok untuk datang bersama keluarga, teman, maupun sekadar mencari tempat untuk menikmati secangkir kopi sambil ngobrol santai.


Dari sisi kenyamanan, AH PEK Kopitiam juga menawarkan suasana yang pas untuk melepas penat. Gak hanya sekadar tempat makan, tetapi juga bisa menjadi pilihan untuk menikmati waktu luang dengan suasana yang berbeda.







Berhubung kami datangnya bersepuluh, ada ruangan yang pas buat kami yaitu ruang meeting atau VIP. Jadi di resto ini ada beberapa ruangan. Ada ruang indoor, semi outdoor dan ruang VIP atau meeting. 


Di lantai satu, ada beberapa meja kursi untuk dua orang dan empat orang. Suasana juga agak ramai di lantai satu. Kami akhirnya menuju lantai dua, menaiki anak tangga berbentuk memutar. Di dalam ruangannya juga sangat dingin. Wah, bakalan betah duduk berlama-lama disini.


Sesamainya di lantai dua, untungnya ruang meetingnya lagi kosong alias gak ada yang booking siang itu. Kami meminta sama karyawan resto untuk memakai ruang meetingnya. Gak ada biaya tambahan atau sewa ruangannya. 


Selain ruang meeting, di lantai dua ada tempat duduk untuk berdua atau berempat. Disamping ruang meeting ada ruang semi outdoor lengkap dengan beberapa meja kursi. Cocok bagi para ahli hisap untuk nongkrong disini tapi kecuali di AH PEK, para ahli hisap dilarang merokok di area resto ini. 


Sayangnya, saya gak sempat melihat-lihat ruang yang ada di lantai tiga. Informasinya, di lantai tiga ada mushola. Fasilitas lainnya ada toilet yang cukup bersih dan area bermain anak-anak. Jadi resto ini sangat ramah anak-anak.


Untuk di ruang meeting tempat kami duduk begitu nyaman. Meja panjang yang bisa memuat sepuluh hingga lima belas orang. Tersedia juga layar LED yang bisa digunakan untuk presentasi dan karaoke. Ruangannya dingin dan ada beberapa pintu kaca, jadi kita bisa melihat ke arah luar. 


Nah, sudah berkeliling sebentar melihat suasana di dalam resto. Yuk, kita review menunya satu per satu yang sudah saya coba. Ini review menu yang sempat saya cicip saja ya.


Nasi Hainan Ayam Panggang 41K


Begitu dipesankan oleh salah satu teman, saya sudah gak sabar pengen mencoba makan Nasi Hainan Ayam Panggang khas AH PEK. Nama Hainan diambil dari salah satu daerah yang ada di negara Tiongkok bagian selatan. Hainan menjadi destinasi wisata favorit di Tiongkok karena memiliki penampakan alam yang hampir mirip dengan Indonesia. Berada di Pulau Hainan dengan memiliki puluhan pantai dan kuliner yang cukup menjadi daya pikat pengunjung yang datang berlibur.

 

Menu satu ini mungkin terlihat sederhana, tapi perpaduan nasi gurih dengan ayam panggang yang menggoda selalu punya daya tarik tersendiri. Porsinya juga cukup besar. Aroma khas ayam panggang langsung terasa menggugah selera. Tampilan ayamnya yang berwarna kecokelatan dengan kulit yang terlihat mengkilap membuat siapa saja rasanya ingin segera menyantapnya. 


Untuk nasinya, Nasi Hainan punya karakter yang berbeda dibandingkan nasi putih biasa. Rasanya lebih gurih, aromanya harum dan teksturnya terasa lembut. Ada sensasi rasa kaldu dan rempah yang membuat nasi ini tetap nikmat meskipun disantap tanpa banyak tambahan lauk.



Yang paling menarik bagi saya, yaitu ayam panggangnya. Penyajiannya, ayam panggangnya dipotong menjadi beberapa bagian. Daging ayam yang empuk dengan perpaduan bumbu yang meresap memberikan rasa gurih dan sedikit manis. Apalagi saat disantap bersama nasi Hainan, rasanya semakin lengkap. Gak ketinggalan saus pelengkap yang memberikan sentuhan rasa berbeda sehingga setiap suapan terasa semakin nikmat. Untuk topingnya diberi setengah potong telur ayam. 


Kombinasi nasi yang gurih dan ayam panggang yang kaya rasa menjadi pasangan yang cukup sulit ditolak. Masakan ini juga cocok buat kalian yang ingin menikmati hidangan mengenyangkan tanpa harus memilih makanan yang terlalu berat. Cocok dinikmati saat makan siang maupun makan malam, apalagi bagi sebagian banyak orang pecinta kuliner bernuansa Chinese Food.


Soal harga bagi saya pribadi, ada harga ada rasa. Harganya cukup lumayan tapi kalau rasanya memang juara. Seporsi Nasi Hainan Ayam Panggang seharga 41 ribu (belum termasuk PPN). 


Chicken Chop Curry Rice 42K


Menu satu ini menjadi salah satu menu best seller selain Nasi Hainan Ayam Panggang di resto ini. Buat kalian yang suka masakan dengan cita rasa gurih dan sedikit sentuhan rempah, Chicken Chop Curry Rice menjadi salah satu menu yang menarik untuk dicoba. 


Menu ini menawarkan perpaduan ayam goreng berbalut tepung yang renyah dengan nasi hangat dan siraman saus kari yang kaya rasa rempah. Jujur, setelah saya mencicipi rasa karinya, benar-benar enak, gurih dan ada sedikit pedasnya. Pas banget buat kalian yang gak terlalu suka pedas tapi pengen makan masakan berbumbu.



Porsinya juga cukup besar. Potongan ayam yang terlihat krispy disajikan bersama nasi putih hangat yang ditaburi bawang goreng, lengkap dengan kuah kari berwarna kuning kecokelatan yang aromanya cukup menggoda. 


Bagian menarik ada pada chicken chopnya. Lapisan tepung di bagian luar memberikan sensasi renyah saat digigit. Sementara bagian dalam ayamnya terasa lembut dan juicy. Selain itu, tentu saja kuah karinya yang menjadi dominan disini. Kuah kari yang disiram di atas nasi membuat setiap suapan terasa lebih terasa. 


Kombinasi ayam krispi dengan saus kari, menghadirkan perpaduan rasa yang cukup seimbang. Ada gurih ayam, nasi yang lembut, serta rempah dari kari yang memberikan sensasi hangat di mulut. Untuk seporsi Chicken Chop Curry Rice seharga 42 ribu. Cukup cocok buat saya pribadi dengan rasanya. 


Claypot Kebuli Ayam Rempah 86K


Sampai kita di menu ketiga. Wajib saya review masakan satu ini karena memang menu ini membuat saya tertarik buat dibahas. Meskipun ini resto khas Chinese Food, tetap menampilkan masakan dari beberapa negara lainnya. Salah satunya menu nasi kebuli khas negara Turki.


Nasi gurih harum dengan sentuhan rempah yang menggoda. Kalau kalian doyan makan nasi berbumbu dengan aroma rempah yang kuat, Claypot Kebuli Ayam Rempah bisa menjadi salah satu menu yang layak dicoba. Dari namanya saja sudah terbayang nasi kebuli yang kaya rempah, disajikan dalam claypot yang membuat pengalaman makannya terasa sedikit berbeda.


Begitu hidangan datang, aroma rempah langsung menjadi hal pertama yang menarik perhatian. Harumnya terasa hangat dan menggugah selera, dengan karakter khas nasi kebuli yang berpadu dengan aroma ayam dan bumbu rempah.



Nasinya menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Nasinya terasa gurih dan kaya rasa, tetapi gak sampai membuat enek. Perpaduan rempahnya memberikan rasa yang lengkap dengan sensasi gurih dan sedikit hangat yang membuat ingin terus menyantapnya.


Ayam rempahnya juga menjadi pasangan yang pas untuk nasi kebuli. Bumbu meresap dengan baik sehingga setiap potongan ayam terasa lebih berkarakter. Teksturnya cukup lembut dan semakin nikmat ketika disantap bersama nasi kebuli yang aromatik.


Penyajian menggunakan claypot juga memberikan daya tarik tersendiri. Selain membuat tampilannya lebih menggugah selera, penyajian seperti ini memberikan kesan hidangan yang sangat wajib dipesan saat datang ke AH PEK. 


Porsinya juga bisa untuk berempat karena penyajiannya besar sekali. Apalagi ukuran ayam rempahnya juga besar banget. Harganya juga lumayan merogoh gocek yaitu 86 ribu per porsi.


Es Bandung AH PEK 28K


Setelah menikmati berbagai menu makanan di AH PEK Kopitiam, rasanya kurang lengkap kalau belum mencoba minuman segarnya. Salah satu yang menarik perhatian yaitu Es bandung AH PEK. Minuman satu ini sangat familiar bagi pecinta kuliner, apalagi dinikmati di tengah cuaca panas siang hari. 


Dari tampilannya, Es Bandung punya warna merah muda yang cukup menggoda. Perpaduan warna tersebut memberikan kesan segar bahkan sebelum menyeruputnya. Disajikan dengan es batu, membuat minuman segar ini terasa cocok menjadi teman bersantai sambil menikmati suasana siang itu.



Untuk rasanya, Es Bandung identik dengan perpaduan susu dan sirup mawar yang memberikan kesan cita rasa manis, lembut, serta sedikit aroma mawar yang khas. Sensasi creamy dari susu berpadu dengan manisnya sirup, menciptakan rasa yang cukup unik dan berbeda dari minuman dingin pada umumnya.


Rasa yang gak terlalu manis tapi sudah cukup bagi saya pribadi. Es Bandung AH PEK menjadi salah satu pilihan menarik bagi yang ingin menikmati minuman dengan cita rasa klasik. Bukan sekedar pelepas haus, tapi memberikan pengalaman menikmati minuman khas kopitia yang cukup berbeda. Untuk harga cukup terjangkau yaitu 28 ribu.


Es Cendol Malaka 30K


Selain Es Bandung, yang wajib saya review yaitu minuman yang saya pesan yaitu Es Cendol Malaka. Namanya saja terkesan kita minum es cendol di Tanah Melayu, hehehe. Es Cendol Malaka berasal dari kawasan Malaka yaitu Malaysia. Meskipun cendol sendiri secara histori memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi kuliner Jawa. 


Di Malaka, Malaysia, cendol berkembang menjadi kuliner khas dengan penggunaan gula merah yang memberikan cita rasa manis, gurih dengan ada aroma karamelnya. No debat mengenai asal muasal dari es cendol. Setiap negara memiliki minuman khas cendol masing-masing. Gak hanya di Indonesia, di negeri seberang pun cendol sudah berkembang pesat dengan ciri khas yang berbeda. Mungkin di Afrika juga ada minuman segar sejenis es cendol, hehehe. 



Dari tampilannya, Es Cendol Malaka sudah terlihat menggoda. Perpaduan cendol yang berwarna hijau, santan putih, gula merah dan es batu menghadirkan kombinasi warna yang sederhana tapi sangat menggugah selera. Apalagi disajikan dalam kondisi ingin, rasanya langsung ploong di tenggorokan. 


Saat mulai diseruput, perpaduan rasa manis dari gula merah dan gurihnya santan langsung terasa. Cendolnya memberikan tekstur kenyal dan lembut yang menjadi ciri khas minuman tradisional ini.


Bagi saya, Es Cendol memang termasuk salah satu minuman yang gak pernah kehilangan penggemarnya. Sejak kecil saya suka sekali dengan es cendol. Mungkin kalian setuju, es cendol itu enak sekali dan sangat merakyat. Porsi Es Cendol Malaka di AH PEK cukup besar ya. Saya pun agak kurang mampu menghabiskan sendirian. Untungnya ada beberapa teman yang bantu habiskan, hehehe.


Setelah makan besar di siang hari yang panas, enaknya minum es cendol yang segar-segar biar perasaan lebih bahagia lagi di akhir pekan, asyiik. Soal harga, Es Cendol Malaka seharga 30 ribu. Sangat pas dengan porsi yang diberikan. 


Mango Smoothies Jumbo 30K


Nah, ini minuman segar yang gak masuk akal menurut saya. Namanya Mango Smoothies Jumbo. Beberapa teman yang ikutan gabung yang pesan. Dan saat minuman ini datang dibawa oleh salah satu karyawan resto, mata langsung melek. Gila, warnanya yang sangat segar yaitu kuning mangga dan gelasnya besar sekali. Di atasnya diberi es cream mangga juga. Mantap sekali ini minuman. 


Buat pencinta minuman berbahan dasar buah, Es Mango Smoothies tentu menjadi salah satu pilihan yang sulit untuk dilewatkan. Perpaduan rasa manis dan sedikit asam khas buah mangga dengan tekstur lembut dan dingin membuat minuman ini cocok dinikmati kapan saja, terutama saat cuaca sedang panas.


Kali ini saya berkesempatan buat nyicip Es Mango Smoothies di salah satu teman. Teksturnya terlihat kental dengan sensasi smoothies yang berbeda dari jus buah biasa. Saat menyeruputnya, rasa buah mangganya sangat dominan dan terasa gak nanggung. Rasanya manis, asam, gurih dan teksturnya lebih kental.



Berbeda dengan minuman jus yang cenderung lebih encer, Mango Smoothies memiliki tekstur yang lebih padat dan lembut. Sensasi dinginnya juga terasa lebih maksimal sehingga sangat cocok dijadikan teman bersantai sambil menikmati berbagai menu yang disantap saat itu.


Jadi, Es Mango Smoothies merupakan pilihan minuman yang pas bagi pecinta buah mangga. Tekstur lembut, rasa manis asam yang menyegarkan dan sensasi dingin yang membuat hati bahagia. Mantan mah lewat kalau sudah minum es Mango Smoothies ini.


Seporsi Mango Smoothies Jumbo ini diberi harga 30 ribu. Menurut saya harganya cukup terjangkau dengan porsi yang jumbo bisa untuk dua sampai tiga orang. 


Gimana, kalian sudah datang makan ke AH PEK belum ?. Bagi saya dengan adanya resto ini, bisa menambah referensi buat kalian yang pengen makan di luar mencari menu-menu khas Melayu atau Nusantara atau mencari kopi dan teh tarik, bisa mampir di AH PEK Kopitiam. 


Sejauh ini, pelayanan di AH PEK Kopitiam sungguh sangat baik. Karyawannya murah senyum dan ramah. Pesanan gak ada yang salah dan terpenting pesanan kami cepat datangnya. Restonya juga bersih dan wangi. Makan sambil mendengarkan beberapa lagu instrument oriental sangat pas sekali. 


Jujur, saya pengen balik lagi buat nyobain menu kopinya dan teh tariknya yang belum sempat saya coba. Next Time, bakalan datang lagi kesini. Masih banyak menu-menu yang menarik buat dicoba. Sayangnya, saya punya perut hanya satu dan kapasitasnya terbatas. Kalau gak, sudah saya pesan semuanya, hehehe (sombong amat). 


Over all, saya senang dan teman-teman yang ikutan juga senang makan di AH PEK Kopitiam. Isi dompet saja yang hampir menangis tapi gak apa-apa. Uang bisa dicari, tapi moment berkumpul bareng keluarga dan teman seperjuangan itu sangat berharga bagi saya. Asyiik !.


Mungkin itu dulu review singkat dari saya dari AH PEK Kopitiam. Mungkin ada diantara kalian yang memiliki cerita atau pengalaman datang makan di AH PEK dimana saja, bisa berbagi komentar di kolom komentar ya !. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Sunday, 27 September 2026

Nongkrong Sambil Ngopi Pagi di Rota Kopi : Harat Coffee

 


Buat sebagian orang, upacara minum kopi pagi merupakan hal yang wajib, terutama bagi kaum laki-laki. Di Kota Mataram, sudah banyak kedai kopi yang buka mulai jam tujuh pagi. Kabar gembira buat saya pribadi karena sudah gak bingung kalau mau ngopi pagi di sela jam kantor. 

Biasanya kalau Hari Jumat, agendanya itu jalan pagi. Kebetulan gak jauh dari kantor ada beberapa coffee shop yang sudah punya pelanggan setia. Salah satunya yaitu Rota Kopi. Tempat ngopi satu ini bisa dibilang cukup terkenal di Kota Mataram. Gak pernah sepi oleh pengunjung baik kaum milenial maupun gen Z. 

Rota Kopi beralamatkan di Jalan Catur Warga no 8, Pejanggik, Kota Mataram. Tepatnya gak jauh dari kawasan perkantoran (Kantor Gubernur NTB, Bappeda NTB, RS Mata NTB). Dari kantor saja, saya cukup berjalan kaki kurang lebih lima menit hingga sampai di lokasi.

Sudah beberapa kali saya datang buat ngopi disini. Rasanya gak pernah bosan karena saya suka dengan menu-menu kopinya. Salah satunya itu Zeed Coffee yang pernah saya coba dan sempat saya buat reviewnya di blog. 

Alasan saya datang lagi kesini karena tertarik dengan salah satu menu kopi yang belum pernah saya coba yaitu Harat Coffee. Nama yang bagus yang berhasil buat saya penasaran. Lihat di media sosial,Harat Coffee memiliki campuran kopi susu dengan rum. 







Pagi itu, saya jalan pagi sendirian. Saat itu pengen sendirian saja. Memang sudah direncanakan setelah jalan pagi maunya mampir di Rota Kopi sambil mencari sarapan. Sekali-kali sarapan dengan menu yang gak seperti biasanya (nasi bungkus). 

Setelah muter-muter di kawasan Kantor Gubernur Prov. NTB dan melewati Jalan Pejangik dan berbelok ke arah Jalan Catur Warga yang dikenal dengan kawasan coffee shop, salah satunya Rota Kopi ini. 

Jam setengah delapan pagi, coffee shopnya sudah buka. Penampakan bangunan dengan desaign coffee shop modern. Area parkir gak begitu luas tapi masih aman buat motor dan mobil. 

Dari pintu gerbang, nampak bangunan utama bertuliskan Rota Kopi di bagian atas pintu. Sudah terlihat beberapa pengunjung yang sedang asyik menikmati kopi sambil menatap layar smartphone dan laptop. 

Ada beberapa ruang yang ada di coffee shop ini. Ada ruang indoor dan semi outdoor. Ada juga ruang meeting buat kalian yang ingin rapat atau sekedar berkumpul dengan banyak teman. 

Di dalam ruang indoornya cukup adem. Terdiri dari meja tempat memesan menu. Kursi empuk yang saling berhadapan dengan meja kecil. Sayangnya ruang indoornya cukup kecil. Berhubung masih pagi, saya rasa bersantai di semi outdoornya cukup asyik. 

Dibilang panas juga gak karena ada beberapa tanaman hias yang terasa rindang dan terlindung dari sinar matahari. Disini tempat duduknya cukup banyak. Terdiri dari kursi dan meja kayu. Di plafonnya ada kipas angin dan ada area tempat para ahli hisap untuk nongkrong. Tapi beruntungnya,pagi itu pengunjung gak ada yang ngerokok, jadinya nyaman buat duduk di luar.

Buat yang sedang buka laptop atau ingin ngecash gadget kalian, disini sudah disediakan juga tempat colokan di setiap mejanya. Wifinya juga cukup kencang. Bisa buat nonton youtube atau download film sampai puas. 

Fasilitas lainnya disini juga ada mushola dan toilet yang cukup bersih. Area taman dengan tanaman hias dan bebatuan membuat coffee shop ini semakin cantik dan nyaman. 









Untuk pesan menunya, kita bisa langsung ke meja pemesanan. Sistemnya pesan menu langsung bayar. Pelayanannya sejauh ini masih tetap sama yaitu cukup baik. Kita gak terlalu lama menunggu di meja pemesanan. Kita nya saja yang ditunggu lama karena masih baca-baca daftar menu dan bingung sendiri mau pesan apa. Pernah kejadian gak di diri kalian juga ? hehehe.

Saya pesan satu porsi Harat Coffee. Untuk packagingnya cukup menarik. Menggunakan botol kaca gelap ukuran 250 ml. Kemudian diberi cangkir gelas bening dan beberapa potong es batu.

Cara minumnya, Kopi Haratnya dituang ke dalam gelas bening yang berisi es batu, lalu dinikmati selagi dingin. Memang enak banget minum es kopi pagi-pagi, meskipun kebanyakan lebih senang minum kopi pagi itu dalam keadaan panas atau masih hangat.

Untuk rasa Harat Coffeenya cukup enak. Perpaduan kopi espresso ditambah dengan susu dan rum. Jadi saat dilidah, terasa aroma rumnya. Paling pas diminum pagi-pagi biar mata tambah melek untuk memulai berkegiatan pagi itu. Harganya cukup terjangkau yaitu 33K.  

Untuk snacknya, saya memesan Butter Cream Cheese yaitu roti sisir dengan butter dan cream cheese. Roti sisirnya lembut dan gak seret ditenggorokan. Rasa rotinya manis, apalagi ditambah dengan butter dan cream chesee. Ada rasa gurih dan kremi. Pas banget untuk menemani ngopi pagi, temannya ya sama roti. Untuk harga cukup terjangkau yaitu 20K.



Kebetulan sedang nongki disini, penasaran juga ingin mencoba mencicipi Kentang Perancis alias kentang goreng. Selain itu saya memesan Sate Taichan ala Rota dimana sate dengan daging ayam bakar yang disajikan dengan sambal dan totole. 

Untuk Sate Taichannya sangat enak terdiri dari sepuluh tusuk sate Taichan. Dicocol dengen sambal bawang dan ditambahkan perasaan jeruk nipis dan garam. Enak banget dimakan pakai nasi putih juga.Untuk porsinya sudah cukup buat saya sendiri. Harganya 28K. Sangat terjangkau untuk sekelas coffee shop.

Sebagai ganti nasi putih, ada kentang goreng sebagai karbohidratnya. Untuk porsi kentang gorengnya cukup mengenyangkan. Ada rasa bumbu rempah di kentang gorengnya, jadinya gak terasa hambar. Harganya bisa dibilang cukup mahal 20K,  dibandingkan dengan kentang goreng yang pernah saya coba di cafe lainnya.Tapi kembali lagi, ada harga ada rasa. 

Gimana menarik bukan ?

Buat kalian yang sedang mencari tempang nongkrong sambil mencari sarapan,makan siang atau makan malam, bisa mampir di Rota Kopi yang ada di jalan Catur Warga no.8,Pejanggik Kota Mataram (gak ngendorse). Ohya, Rota Kopi sudah buka cabang di daerah Selaparang yaitu di Jalan Adisucipto, Rembiga. Namanya Rota Kopi 1969. Kapan-kapan kita coba ngopi disana sambil mereview tempat dan menu-menunya.

Mungkin itu dulu review singkat yang bisa saya bagi kepada teman-teman pembaca setia Lazwardy Journal. Kalau ada yang punya pengalaman pernah ngopi di Rota Kopi, bisa berbagi cerita di kolom komentar ya. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra