Friday, 30 January 2026
Saturday, 24 January 2026
Penasaran Dengan Jalan Viral di Lombok : Desa Banyu Urip, Lombok Barat
January 24, 2026 / in Explore Lombok, Kuliner Lombok / with No comments /
Di awal Januari ini, saya dapat libur tiga hari. Gak melewatkan moment, saya dan istri mengajak anak-anak motoran ke salah satu destinasi baru yang sedang viral di Lombok. Tepatnya di sebuah desa bernama Banyu Urip, Lombok Barat.
Saya sudah beberapa kali menulis cerita tentang mengexplore alam dari desa ini. Pernah gowes kesini juga. Kalian bisa menemukan ceritanya di beberapa postingan blog saya. Bisa dicari ya di tulisan sebelumnya !.
Sempat galau karena beberapa hari terakhir cuaca di Lombok lagi kurang bersahabat. Hujan lebat terus menerus sampai enggan kemana-mana. Habis kerja, langsung pulang ke rumah itupun hujan-hujanan.
Untungnya pas hari yang ditunggu-tunggu tiba, cuaca bersahabat buat kami. Bangun pagi, langsung bersiap-siap jalan. Istri sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Anak-anak sudah bangun tidur, cuci muka dan menyempatkan nonton tv. Sedangkan saya, cek motor yang akan digunakan sambil berharap gak turun hujan tiba-tiba.
Sekitar jam setengah delapan pagi, kami berangkat dari rumah. Gak banyak kebutuhan yang dibawa karena kami sarapan dulu di rumah sebelum berangkat. Jaket dan helm gak ketinggalan. Yuuk kita berangkat !.
Sebelum berangkat, saya pelajari dulu jalur yang akan dilalui. Terpenting lokasi tujuan yang harus dicatat. Jangan sampai salah alamat. Mesin motor sudah menyala, anak-anak sudah naik ke atas motor. Tinggal menunggu istri yang sedang mengunci gerbang rumah.
Desa Banyu Urip, Lombok Barat
Meluncur menuju arah Desa Tempos. Salah satu desa terindah yang ada di Lombok. Dikelilingi oleh perbukitan hijau dan persawahan. Ratusan pohon kelapa berjejer rapi di sepanjang jalan.
Untuk menuju Desa Tempos, kami tinggal mengikuti petunjuk di google maps. Jaman sekarang sudah serba canggih. Mau ke rumah calon mertua juga jadi lebih gampang.
Yang penting gadget kalian itu minimal ya sekelas Oppo A54 atau hp yang sudah 4G yang lancar google mapsnya. Terpenting lagi ada kuota internetnya biar si maps gak salah ngasi alamat.
A few moment later
Jalur yang dilalui yaitu Jalan Raya Lembar, kemudian bertemu dengan bundaran Patung Sapi Mendagi. Berhubung tanggal merah, kondisi di jalan gak terlalu ramai. Melewati Bundaran Mendagi yang sedang ramai juga di media sosial sama air mancur menarinya. Kapan-kapan kita bahas !.
Setelanjutnya, kami ambil arah Kantor Bupati Lombok Barat. Bertemu dengan perempatan, kita mengambil jalur menuju Desa Tempos. Sudah terasa vibes pedesaan dengan persawahan dan perbukitan hijau.
Setelah melewati Kantor Desa Tempos, kami bertemu dengan area perkampungan dan gak jauh dari perkampungan, ada pertigaan. Berbelok ke kanan, menuju jalan yang sudah diperbaiki. Jalan desa ini merupakan jalur pintas bagi para goweser karena jalur ini merupakan jalur favorit gowes.
Bisa baca disini : Motoran ke Batu Palar, Banyu Urip
Ada jembatan yang pernah nge-hits pada masanya yaitu Jembatan Pelengkung Tempos. Disini kita bisa beristirahat sejenak untuk mengembalikan tenaga untuk ngayuh sepeda kembali.
Dari jembatan, kami lanjut berjalan ke arah selatan menuju Desa Banyu Urip. Setelah bertemu pertigaan dan berbelok ke kiri. Kami bertemu dengan Pasar Banyu Urip dan Masjid Nurul Yakin Kemuning. Gak jauh dari masjid, kami sudah sampai di perempatan kecil.
Ambil jalan ke kanan yang agak menanjak. Disini kami sudah bertemu jalan menanjak dan sudah berada di atas punggung bukit. Di atas perbukitan cukup banyak rumah warga.
Gak nyangka saja, di punggung bukit yang saya gak tau namanya ini terdapat area persawahan yang luas. Lokasi jalan viral sudah gak jauh lagi.
Kalian setelah sampai disini jangan bingung ya. Ikuti saja jalan besarnya sampai mentok. Kalau bertemu dengan pertigaan yang menuju arah Bukit Keteri yang lagi viral juga, ambil jalan lurus saja.
Kurang lebih lima belas menit dari rumah, kita sudah sampai di jalan yang viral. Suasananya asri banget. Aspalnya masih hitam dan garis marka jalannya masih baru. Kiri kanan jalannya sudah dicor beton. Meskipun jalannya gak terlalu lebar, masih bisa mobil berpapasan dan kendaraan bisa terparkir di pinggir jalan.
Bila Hari Minggu pagi hingga sore, jalan ini sangat ramai oleh para pedagang yang berjualan. Pengunjung dari luar desa bahkan dari Kota Mataram rela kesini untuk menikmati vibes dari desa dan jalan viral ini. Emang gak ada obat sih ini.
Beberapa media sosial, menyebut jalan ini menjadi jalan terindah di Pulau Lombok saat ini. Dari beberapa sumber resmi yang sudah saya baca, pembangunan jalan desa ini menghabiskan anggaran 8,9 miliar rupiah bersumber dari APBN dengan panjang sekitar 2,3 kilometer.
Untuk kedepannya, pemerintah daerah dari desa hingga provinsi akan menata area ini lebih baik lagi menjadi daerah wisata yang bersih dan asri. Sehingga pengunjung nyaman dan betah berlama-lama disini.
Saya dan anak istri ikutan betah berlama-lama disini. Untungnya datangnya pagi hari dan udara disini masih sejuk. Sayangnya kalau selain hari Minggu, gak ada pedagang yang berjualan. Tadinya sih pengen wisata kuliner. Penasaran sama makanan khas dari desa ini. Next time, datang lagi kesini.
Sesampainya di lokasi, kami berempat menyempatkan berfoto dan membuat video. Pagi itu gak hanya kami saja, tapi terlihat beberapa warga yang bersepeda. Kelihatannya ini dari Kota Mataram dan sekitarnya.
Paling pas datang kesini pada waktu pagi dan sore hari. Disini kita bisa menikmati sunrise dan sunset sekaligus. Bawa keluarga, pacar atau gebetan juga boleh. Yang penting jangan bawa selingkuhan saja. Lucu kan kalau ketauan kencan disini. Bisa-bisa seperti drama FTV. Berantem sama pacar, jambakin selingkuhan sambil teriak "kita putus saja". dengan background jalan viral ini (hayalan ngaco).
Bendungan Pengga, Lombok Tengah
Next... !
Setelah beberapa saat berhenti disini. Kami melanjutkan perjalanan ke Bendungan Pengga, Lombok Tengah. Dilihat dari maps, lokasinya gak terlalu jauh dari jalan viral ini. Yasudah, "sekali mendayung, dua tiga pasar dilewati".
Kebetulan lagi disini, sekalian aja motoran ke salah satu bendungan terbesar di Pulau Lombok. Melewati beberapa desa dan jalurnya ternyata gak semudah yang dibayangkan.
Untungnya saya selalu melihat maps, sesekali bertanya sama warga desa arah menuju bendungan karena agak ragu sama jalur yang diberikan sama maps.
Akhirnya setelah lima belas menit berkendara, sampailah kita di Bendungan Pengga (bacaannya : Pengge) yang berada di Desa Pelambik, Kec.Praya Barat, Lombok Tengah.
Mumpung masih pagi, suasana di bendungan sangat syahdu dan cukup sepi. Angin sepoi-sepoi menyapa kami. Langit saat ini sedikit mendung tapi belum terlihat tanda-tanda mau turun hujan.
Jujur, ini pertama kalinya saya datang kesini. Sedangkan istri sudah beberapa kali kesini karena ada kegiatan Pramuka sebelumnya. Tapi tetap saja pas kami kesini, istri lupa jalan ke bendungannya, hehehe.
Setelah melalui pintu masuk bendungan, kami mengitari sisi utara bendungan dan berjalan menuju area bendungan.
Bendungan Pengga berada di Waduk Pengga yang memiliki luas 430 hektar yang dibangun sejak tahun 1991 dan mulai dibuka dan dimanfaatkan sekitar tahun 1994 sampai sekarang. Bendungan ini fungsinya sangat vital sekali. Terutama untuk irigasi pertanian, mengaliri area persawahan dan perkebunan warga. Selain itu berfungsi sebagai pencegah banjir di wilayah Lombok Tengah dan Lombok Barat.
Memarkirkan motor di pinggir bendungan yang jaraknya cukup dekat dengan pintu air bendungan. Terlihat aktivitas warga pagi itu seperti memancing, mengembala hewan ternak (kerbau), dan ada yang sekedar berjalan kaki.
Saya dan Kakak Ken, berjalan menuju pinggir pintu air bagian bawah, sedangkan Adeq Nala dan bundanya berjalan kaki di pinggiran bendungan bagian atas. Sejauh mata memandang, ternyata waduk ini sangat luas. Sepertinya kalau ada ground camp atau villa di pinggir waduk ini, pastinya keren banget.
Pagi itu kami sangat beruntung, ada empat dari total enam pintu air yang dibuka. Sehingga bisa melihat derasnya air waduk yang menuju ke sungai-sungai yang mengaliri beberapa desa.
Kesan pertama kalinya ngajak anak-anak dan istri motoran kesini. Mengisi waktu libur yang sangat berkualitas.
Setelah setengah jam mengexplore Bendungan Pengga meskipun gak seluruhnya, kami sudah lapar. Waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas menjelang siang.
Kami berencana untuk mencari makan siang. Terpintas untuk mampir di salah satu tempat makan yang ramai dikunjungi. Sepertinya makan yang pedes-pedes enak nih.
Pasar Bambu Bonjeruk, Lombok Tengah
Akhirnya kami memutuskan untuk mampir makan siang di Pasar Bambu Bonjeruk, Lombok Tengah. Perjalanan dari Bendungan Pengga memakan waktu tempuh, dua puluh menit.
Cuaca menjelang siang masih bersahabat dengan kami. Berkendara menuju arah utara. Dari bendungan kami melalui Desa Darek, jalan lurus mengikuti jalan raya lintas desa hingga bertemu dengan By Pass Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).
Kami memilih mengambil jalur menuju simpang Penujak, belok ke kiri arah Bendungan Batujai dan Kota Praya, Lombok Tengah. Setelah di Kota Praya, ambil arah balik ke Kota Mataram.
Melewati Sekolah IPDN Lombok dan Kantor Bupati Kab.Lombok Tengah ke arah Kota Mataram. Setelah melewati daerah Puyung, kami sampai di pertigaan Ubung. Belok ke kanan menuju arah Desa Bonjeruk.
Sekitar dua kilometer dari Puskesmas Ubung, kami sudah sampai di Pasar Bambu Bonjeruk. Saya sudah sekali datang kesini saat makan siang bersama teman kantor. Kali kedua datang kesini bareng keluarga kecil sambil motoran.
Suasana masih sepi karena pasarnya baru buka. Lihat jam tangan masih jam sebelas siang. Setelah memarkirkan motor, kami berjalan kaki menuju area dalam pasar. Vibesnya seperti kita masuk ke dalam rumah warga desa yang dikelilingi pohon-pohon bambu. Suasananya rindang dan adem. Penataannya cukup sederhana dan tertata rapi.
Desain dari tempat makan ini cukup unik yaitu seperti pasar rakyat tradisional dengan mengutamakan budaya Lombok. Beberapa gazebo atau berugaq beratapkan jerami dan beralaskan tikar. Terlihat asap mengepul dari sela-sela pohon bambu yang berasal dari warga yang memasak.
Tempat makan ini ramai dikunjungi oleh tamu yang sedang berlibur di Lombok. Agent travel wajib mengantar tamu mereka untuk makan disini baik makan siang maupun makan sore. Beberapa artis ibukota dan tokoh nasional juga sudah berkunjung kesini. Termasuk blogger kece seperti saya juga sudah dua kali kesini (gak nanya).
Anak-anak terlihat sangat senang diajak kesini. Mereka melihat ada wayang kulit yang dipajang di salah satu bangunan bambu tempat lesehan.
Pasar Bambu Bonjeruk buka dari jam sebelas pagi hingga enam sore (setiap hari). Sedangkan buat kita yang pengen datang malam, gak perlu khawatir. Pasar Bambu ini memiliki satu cabang lagi yang buka sampai sembilan malam dengan view persawahan. Namanya Warung Bambu Bonjeruk. Kapan-kapan kita review ya !.
Sesampainya di dalam area tempat makannya, kami disambut oleh salah satu staf perempuan berbusana lumbung serba hitam khas Sasak (baju adat Lombok). Mbaknya mempersilahkan kami untuk memesan menu sambil memegang hp.
Cukup unik cara pesan disini. Untuk menunya hanya satu ya. Kita mau pesan berapa paket bisa. Gak pake daftar menu seperti tempat makan pada umumnya. Sepaket untuk empat orang.
Jadinya kami gak bisa memesan beberapa menu. Harus sepaket yang isinya ada nasi putih satu bakul, ayam merangkat, ikan nila goreng, ayam goreng, sayur kelor jagung, dan sambal dabu-dabu.
Yang khas disini itu Ayam Merangkatnya. Ayam yang digunakan yaitu ayam kampung pejantan utuh. Dagingnya empuk dan smoki karena ayamnya dibakar. Lalu dilumuri bumbu cabe merangkat. Rekommended buat kalian pecinta pedas. Datang ke Lombok, wajib dicobain.
Untuk harga sepaket menu di atas cukup terjangkau yaitu 145 ribu saja. Untuk tambahannya kalian bisa request sama stafnya. Selain makanan utama, kami pesan minuman segar.
Minuman yang kami pesan es kelapa muda dan es jeruk. Rasanya sih seperti es kelapa muda pada umumnya. Apalagi es jeruk, seger di tenggorokan dan buat mata melek karena rasa asam manisnya.
Selain menu tersebut, disini juga terdapat aneka jajanan pasar. Sebut saja, jajan lupis, pisang goreng, serabi dan aneka buah-buahan. Untuk harga mulai 10 ribuan.
Perut sudah kenyang, saatnya kami pulang ke rumah. Waktu sudah beranjak siang hari. Mata juga sudah sedikit mengantuk. Lumayan bisa motoran tipis-tipis bareng anak melintasi Kab.Lombok Barat dan Lombok Tengah.
Next time, ditunggu cerita motoran yang lainya di blog ini. Jangan bosen berkunjung ke blog ini dengan berbagai cerita unik yang terkadang gak jelas. Hehehe
Penulis : Lazwardy Perdana Putra
Sunday, 11 January 2026
Bandara Penuh Kenangan : Lion Air JT 642
January 11, 2026 / in Explore Surabaya, Transportasi / with No comments /
Cuaca Minggu pagi di Kota Surabaya sangat cerah. Gak terasa waktunya balik ke Lombok setelah empat hari di Kota Pahlawan. Pulang ke rumah dengan penuh suka cita. Sudah gak sabar bertemu dengan anak-anak dan istri di rumah.
Setelah menambah sehari di Surabaya, pakai acara pindah hotel segala dari Suites Hotel Surabaya ke Tab Capsule Kayoon Surabaya yang lokasinya berdekatan. Ceritanya bisa kalian baca di postingan sebelumnya.
Kebetulan penerbangan ke Lombok jam setengah sembilan pagi. Bangun tidur, saya segera mandi dan beres-beres. Sempat mencari sarapan dulu di sekitaran hotel. Sehabis sarapan, bersiap untuk jalan ke bandara. Pesan taxi bluebird group via aplikasi. Urusan check out hotel sudah beres. saatnya menunggu penjemputan taxi yang sudah dipesan.
Gak lupa sebelum berangkat, cek kembali barang bawaan jangan sampai tertinggal di hotel. Terutama yang gak boleh tertinggal itu oleh-oleh, hehe. Seperti biasa barang bawaan saat balik ke rumah lebih banyak dibandingkan saat pergi. Rencananya saya pakai bagasi saja biar ringan saat naik ke dalam pesawat.
Berangkat jam setengah tujuh pagi dengan estimasi sampai di bandara jam setengah delapan. Masih tersisa satu jam sebelum waktu boarding. Jalan santai karena saya sudah check in online sebelas jam sebelum berangkat.
Menunggu taxi datang gak terlalu lama. Sekitar tiga menit setelah order, sebuah mobil new Avanza berwarna biru muda tiba di depan hotel. Salah seorang bapak supir yang keluar dari taxi, segera menghampiri saya untuk membantu membawakan dua tas ransel dan satu tas oleh-oleh masuk ke dalam mobil.
Perjalanan dari hotel ke bandara kurang lebih empat puluh lima menit waktu normal. Kalau di hari libur kerja dan sekolah, jalanan kota agak lengang apalagi di pagi hari. Sepanjang perjalanan saya melihat warga kota yang berolahraga pagi. Beberapa jalan ditutup karena ada car free day.
Melewati beberapa jalan yang sudah familiar saya lewati seperti jalan depan Kebun Binatang Surabaya, Stasiun Waru dan kali ini mobil taxi akan melalui Tol Waru - Bandara Juanda. Jadinya sesampai di bandara lebih cepat dari rencana. Jam tujuh lebih sepuluh menit, saya sudah tiba di Terminal 1 Bandara Internasional Juanda.
Berhubung penerbangan pagi ini saya menggunakan maskapai Lion Air, saya turun di pintu keberangkatan timur Terminal 1 Bandara Internasional Juanda. Sedangkan untuk maskapai seperti Garuda Indonesia, Citilink, dan Sriwijaya berada di pintu keberangkatan bagian barat. Jadi jangan sampai kalian salah pintu masuk.
Ada banyak cerita tentang bandara ini bagi saya pribadi. Cerita solo trip, terbang bareng mantan dan bertemu sama mantan di bandara ini (curhat colongan). Dulu semasih kuliah di Jogya, beberapa kali bandara ini menjadi tempat transit. Pulang ke Lombok, naik bus Patas dari Jogya ke Surabaya. Lalu turun di Terminal Bungurasih, lanjut naik bus DAMRI ke Bandara Juanda. Begitu pun saat dari Lombok, mau k Jogya terbang ke Surabaya dulu.
Pertama kali ke bandara ini saat saya pulang ke Lombok pakai maskapai Wings Air MD90 sekitar tahun 2008 lalu. Bisa dibilang bandara ini sudah sering saya kunjungi karena aksesnya mudah. Mau ke Yogya, Solo, Malang, Semarang dan kota lainnya, bisa transit dulu di Surabaya.
Bahagia rasanya bisa datang ke bandara ini lagi. Dan sudah banyak perubahan karena beberapa tahun belakangan ini bandara ini sudah mengalami renovasi besar-besaran.
Bandara Internasional Juanda berlokasi di Sedati, Kab.Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Memiliki luas kurang lebih lima hektar. Jarak dari Kota Surabaya kurang lebih dua belas sampai dua puluh kilometer.
Memiliki hanya satu landasan pacu yang panjangnya kurang lebih tiga ribu meter. Mampu melayani pesawat berbadan besar seperti Boeing 777.
Pemberian nama "Juanda" untuk pernghormatan kepada mantan Perdana Menteri Indonesia, Djuanda Kartawijaja yang mencetuskan pengembangan bandara ini.
Pertama kali dioperasikan sekitar tahun 1964 sebagai pangkalan TNI AL dan sekaligus dibukanya penerbangan sipil pertama kali. Di tahun 1990-an bandara ini mulai digunakan untuk penerbangan internasional hingga sekarang.
Bandara Internasional Juanda memiliki dua terminal. Di bagian utara ada Terminal I untuk melayani penerbangan domestik sedangkan di bagian selatan ada Terminal II untuk melayani penerbangan internasional seperti ke China, Singapura, Malaysia, Australia, Brunei dan negara lainnya. Jadi buat pertama kali terbang melalui bandara ini jangan sampai salah terminal ya. Soalnya jalan menuju kedua terminal itu berbeda.
Saya kurang tau, apa ada shuttle yang melayani penumpang dari Terminal I ke II seperti yang ada di Bandara Soeta Tangerang. Semoga next time, PT.Angakasa Pura I membuat Kalayang (Kereta Layang) atau shuttle bus agar perpindahan penumpang antar terminal lebih mudah.
Kembali ke laptop !
Setibanya di bandara, saya langsung turun dari taxi dan mengambil troli barang. Buat pelayanan taxi blue bird nya tetap oke. Order lewat aplikasi gak ribet, on time, supirnya ramah-ramah dan harga terjangkau. Good Job !.
Saya berjalan menuju pintu keberangkatan. Beberapa petugas bandara berdiri berjaga di depan pintu untuk mengecek satu per satu penumpang yang akan berangkat. Setelah melewati pintu keberangkatan, saya berjalan menuju area check in.
Berhubung ada bagasi, saya gak mencetak boarding pass mandiri. Saya ikutan mengantri di salah satu loket check in. Suasana di area check in ramai sekali. Jadwal penerbangan pagi itu juga cukup padat. Lion Air membuka seluruh loket check in.
Lihat layar besar untuk mengecek tujuan dan nomor penerbangan agar gak salah tempat mengantri karena di layar tertera nomor loket check in nya. Karena sudah check in online, saya hanya melapor kepada petugas untuk bagasi dan cetak boarding pass. Jangan lupa mengeluarkan kartu identitas bagi KTP atau SIM (penting dibawa).
Kurang lebih dua puluh menit mengantri karena ramai sekali, akhirnya boarding pass dan bagasi sudah beres. Saya lanjut berjalan menuju ruang tunggu penumpang. Berjalan santai sambil menikmati suasana Bandara Juanda dari dalam.
Bentuk bangunan di bandara ini cukup unik. Meskipun ada renovasi sebelumnya, tapi suasana Jawa nya masih terasa. Atap Joglo rumah adat Jawa masih terlihat. Lampu-lampu hias nuansa Jawa dan modern juga ada.
Fasilitas lainnya ada mushola, resto, playground, toilet, tenang-tenan oleh-oleh khas Surabaya dan yang terbaru ada hotel di dalam bandara yaitu Tab Capsule Bandara Juanda. Hotel kapsul ini masih satu pemilik dengan Tab Capsule Kayoon Surabaya.
Kalian yang sedang transit dan menunggu penerbangan selanjutnya, bisa nyobain fasilitas dari hotel kapsul ini. Biaya per jamnya yaitu 50 ribu. Lokasinya persis di depan gate 8. Pengen nyobain tapi penerbangan saya kurang dari satu jam lagi hehehe.
Oke, setelah melewati pemeriksaan ruang x-ray, saya lanjut berjalan menuju gate 12. Untuk posisi gatenya ada di paling ujung. Jadinya harus berjalan kaki dari depan gate 6 menuju gate 12. Wah cukup jauh juga. Lumayan olahraga kecil-kecilan.
Kurang lebih setengah jam lagi dari jadwal boarding, saya sudah berada di gate 12. Mencari tempat duduk untuk beristirahat sejenak sambil cuci mata. Disini penumpangnya bercampur ya. Ada yang ke Palembang, Padang, Denpasar, Lombok seperti saya dan daerah lainnya.
Sama seperti bandara lainnya, dari dalam ruang tunggu kita bisa melihat pesawat yang terparkir di apron. Bisa juga melihat pesawat yang hendak take off maupun landing. Semoga nanti pas naik ke dalam pesawat, tanpa melalui garbarata.
Masih belum puas cuci mata, penumpang Lion Air JT 642 tujuan Lombok sudah dipanggil untuk naik ke dalam pesawat. Cukup cepat juga waktu boarding. Lebih cepat dari jadwal yang semestinya.
Mengantri di antrian pengecekan tiket dan kartu identitas sebelum berjalan menuju pintu pesawat. Ramai juga penumpang yang akan terbang ke Lombok. Lebih ramai daripada gate sebelah yang akan menuju Palembang. Terdengar bahasa Sasak dari beberapa penumpang lainnya. Rasanya sudah berada di rumah sendiri.
Setelah pengecekan tiket beres, saya dan para penumpang lainnya berjalan menuju pesawat. Sayangnya semua penumpang dipersilahkan untuk memasuki pesawat melalui garbarata. Padahal pengen ambil foto pesawatnya secara utuh.
Btw, entah ini kebetulan atau gak. Pesawat yang akan membawa saya dan penumpang lainnya ke Lombok ternyata pesawat yang sama saat saya berangkat ke Surabaya kemarin. Lion Air Boeing 737 800 dengan kode registrasi PK LOR. Untuk cerita penerbangan saya ke Surabaya, kalian bisa baca di tulisan sebelumnya.
Pengalaman pertama kali pulang pergi naik pesawat yang sama. Sempat berpikir, kemungkinan pesawat ini memang dikhususkan untuk melayani penerbangan dengan rute Lombok - Surabaya PP. Mungkin ada yang lebih ahli untuk menjawab, bisa di kolom komentar ya !.
Meskipun naik pesawat yang sama, pastinya kru atau awak kabinnya pastinya berbeda. Kalau mereka sama, itu artinya kalian beruntung sekali dan pengalaman yang unik.
Keunikan kedua yang saya dapatkan saat itu, saya duduk di pintu darurat. Saya minta tolong ke adik untuk check in online. Kata adik saya, nanti untuk seatnya random alias dilihat mana yang masih kosong. Ternyata dipilihin duduk di seat emergency yaitu di nomor 18F. Saya duduk samping jendela atau pintu darurat.
Ada sensasi tersendiri duduk di seat emergency. Ada perasaan khawatir dan tanggung jawabnya besar. Kalau terjadi apa-apa orang yang pertama kali buka pintu darurat yaitu orang yang berada paling dekat dengan pintu. Untuk membukanya juga sudah ada Standar Operasional Prosedurnya (SOP).
Seinget saya, kalau pesawat sudah berhenti dengan sempurna dalam keadaan darurat dan dipastikan gak ada api di badan dan sayap pesawat, baru diperbolehkan untuk membuka pintu darurat. Caranya tarik tuas yang ada di atas jendela, kemudian pintu daruratnya kita dobrak hingga terbuka. Turun terlebih dahulu kemudian menyelamatkan penumpang lainnya. Kurang lebih begitu seingat instruksinya.
Sebelum ada waktu demo keselamatan dari pramugari, yang duduk seat paling dekat dengan pintu darurat diberikan penjelasan mengenai tata cara membuka pintu. Lebih jelasnya lagi, kita bisa baca di sebuah lembar petunjuk keselamatan.
Untungnya di window seat emergency ini jarak antar seat di depannya cukup longgar. Buat saya yang tingginya 165 cm, cukup luas. Mari kita menikmati penerbangan ini !.
Saat itu penumpang Lion Air JT 642 tujuan Lombok full seat. Akhir-akhir ini penerbangan ke Lombok lagi ramai. Semoga saja kedepannya pariwisata NTB khususnya Lombok semakin baik terutama dari segi fasilitas dan SDMnya.
Setelah seluruh penumpang sudah semua naik ke dalam pesawat. Awak kabin memeriksa kembali barang-barang penumpang yang ada di bagasi atas kabin. Suara pintu pesawat sudah ditutup. Sebentar lagi pesawat akan berangkat.
Proses push back, pesawat berjalan mundur. Cuaca di langit Surabaya cukup cerah. Kapten pilot menginformasikan kepada penumpang bahwa penerbangan berada di cuaca normal. Tapi tetap namanya terbang itu pastinya sedikit deg-degkan di take off dan landing.
Status pesawat sudah "taxi", tandanya sudah boleh berjalan menuju runway 10 untuk lepas landas. Gak lupa sebelum take off mematikan handphone agar penerbangan berjalan dengan lancar dan kita semua selamat.
Suara bising dari mesin pesawat semakin keras, apalagi saya duduk tepat di samping sayap pesawat. Suara mesin jauh lebih bising. Pesawat berjalan cepat di atas landasan. Rotate, badan pesawat menukik ke atas dengan kecepatan penuh. Roda pesawat terdengar sudah dinaikkan. Getaran khas saat take off. Semakin lama, gedung-gedung semakin terlihat kecil.
Lampu tanda sabuk pengaman masih menyala. Suasana hening di dalam kabin pesawat. Hanya terdengar suara mesin pesawat. Saya duduk sambil mengarahkan pandangan ke luar jendela. Posisi pesawat sudah berada di atas laut.
Penerbangan kali ini memakan waktu kurang dari satu jam. Gak sampai satu jam tergantung kondisi cuaca sepanjang perjalanan.
Cuaca sejauh ini tergolong cerah. Gak banyak melewati kumpulan awan. Sehingga saya bisa melihat beberapa view cantik seperti Jalan Tol Probowangi (Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi) seperti bentuk ular putih. Karena ada pihak yang baper, jadinya diganti menjadi Tol Prosiwangi. Pejabat kok baperan yaak ? Hehehe.
Selain itu terlihat PLTU Paiton yang berada di daerah Situbondo, Taman Nasional Bali Barat, Pulau Menjangan, Selat Bali, Danau Batur, Gunung Agung di Bali dan kapal-kapal yang berlayar sekitaran perairan utara Jawa dan Bali.
Karena penerbangannya gak terlalu lama, saya memutuskan gak tidur di dalam pesawat. Sayang sekali rasanya kalau melewatkan moment-moment seperti ini. Suatu saat saya ingin mengajak anak-anak dan istri naik pesawat bareng. Semoga selalu diberikan kesehatan, rezeki dan kesempatan.
A few moment later
Kurang lebih dua puluh menit sebelum landing, posisi pesawat sudah berada di Selat Lombok. Hamparan perbukitan hijau sudah terlihat. Berhubung duduknya di bagian kanan badan pesawat dan pesawat akan landing dari arah barat, jadinya gak melihat view Tiga Gili dan Gunung Rinjani. Hanya melihat view deretan gili di wilayah Sekotong, Lombok Barat dan Pelabuhan Lembar. Sama-sama kerennya karena Pulau Lombok itu destinasi wisatanya selalu keren.
Suara "deg" dari roda pesawat sudah diturunkan. Pertanda pesawat sudah siap untuk landing. Hamparan persawahan hijau sudah terlihat lebih dekat. Pesawat sudah menurunkan ketinggian. Goyangan kecil kiri kanan yang terlihat dari sayap pesawat.
Semakin lama pesawat semakin menurunkan ketinggian. Begitupun dengan suara mesin yang terdengar agak pelan. Runway 13 pun sudah terlihat. Roda pesawat akhirnya menyentuh aspal runway dengan halus. Tumben Lion Air landing dengan halus dan gak banyak getaran. Pilotnya keren-keren nih sekarang.
"Selamat Datang di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid Praya, Lombok !"
Ucapan yang terdengar dari salah satu pramugari setibanya pesawat di Lombok. Alhamdulillah, kita sudah sampai di Lombok dengan selamat dan sehat.
Pesawat pun berjalan menuju apron. Setelah pintu pesawat sudah dibuka, satu per satu penumpang turun dari pesawat. Lagi-lagi saya masih belum beruntung bisa mengambil foto secara utuh karena penumpang yang duduknya di barisan tengah ke depan itu dipersilahkan turun dari pintu depan alias lewat garbarata. Dan saya pun termasuk penumpang di barisan tengah ke depan.
Sedangkan penumpang yang duduknya di barisan belakang, bisa turun dari pintu belakang. Sayangnya pas mau turun, penumpang di barisan belakang masih ramai. Yasudah, turun lewat depan saja.
Turun dari pesawat, lalu berjalan ke arah area pengambilan bagasi, setelah itu keluar menuju pintu kedatangan. Pesan taxi seperti biasa karena saya gak sempat dijemput. Bertemu dengan anak istri lagi di rumah, bersyukurnya bukan main.
Over all, pengalaman terbang bersama Lion Air cukup berkesan. Penerbangannya on time. Gak banyak drama yang biasanya kita lihat di media sosial. Ada yang komentarnya dalam kabin pesawatnya panas sampai dobrak paksa pintu darurat. Ada yang delay berjam-jam dan masih banyak drama lainnya.
Untungnya pas pergi dan pulangnya, saya mendapatkan service yang cukup baik. Dalam kabinnya gak terlalu panas. Anget-anget sedikit sebelum berangkat itu hal yang wajar. Gak dapat delay yang berjam-jam juga. Kondisi pesawatnya juga baik dan liverynya masih putih mulus.
Bahagia bisa terbang ke Lombok Surabaya lagi. Dapat cerita unik karena dapat pesawat yang sama pergi dan pulangnya. Pesawatnya masih dalam kondisi baik. Untuk review pesawatnya sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya pas berangkat ke Surabaya.
Bukannya ngendorse, tapi jangan takut terbang bersama Lion Air !. Apalagi Lion Air merupakan maskapai nasional yang memiliki rute terbanyak di Indonesia. Mau kemanapun pasti Lion Air mendominasi baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.
Safe Flight Enjoyed !
Penulis : Lazwardy Perdana Putra

















































