Gak terasa lima hari di Jakarta, sudah waktunya balik ke rumah lagi. Sabtu pagi, setelah shalat subuh, saya dan Mbak Zahra bersiap-siap menuju Bandara Soekarno Hatta. Kami berdua duluan pulang ke Lombok sedangkan Mas Erwin pulang ke rumah saudaranya di Depok.
Jam enam pagi kami menunggu jemputan di lobby hotel sambil menyelesaikan proses check out. Gak lupa mengambil jatah sarapan terakhir di hotel sebelum berangkat ke bandara. Lumayan bisa dimakan nanti setelah sampai di bandara.
Saya sudah janjian sama Bang Jaka untuk mengantar kami ke bandara. Syukurnya abangnya on time sekali. So, gak lama kami menunggu di lobby. Setelah mobil jemputan tiba, kami bergegas masuk ke dalam mobil.
Perjalanan dari hotel ke bandara kurang lebih memakan waktu hampir satu jam. Kebetulan juga Hari Sabtu, jadinya kondisi lalu lintas ibu kota gak terlalu padat.
Cuaca pagi itu cukup baik meskipun langit agak mendung. Selama lima hari di Jakarta, baru kali ini melihat langit Jakarta mendung. Semoga saja di penerbangan nanti gak bertemu dengan hujan.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, mobil melewati jalan tol yang cukup lengang. Terlihat kabut putih menyelimuti gedung-gedung tinggi ibu kota. Gak lama lagi saya akan meninggalkan kota ini dalam waktu yang gak tau kapan kesini lagi.
Kami akan terbang menggunakan maskapai Citilink. Anak maskapai low cost carrier dari Garuda Indonesia. Sudah lama juga saya gak terbang bersama Citilink. Kalau gak salah terakhir kali naik Citilink itu pada saat ke Surabaya di tahun 2017 lalu. Cukup lama juga ya.
Citilink menggunakan pesawat jenis Airbus A320-214. Salah satu pesawat yang bisa dibilang cukup aman sejauh ini di langit Indonesia.
Sedikit bercerita kejadian lucu yang kami alami saat perjalanan menuju bandara. Ternyata Bang Jaka lupa kalau kami naik pesawat dari terminal 1B karena seingat beliau Citilink ada di terminal 3 seperti maskapai berplat merah (Garuda Indonesia dan Pelita Air).
Ternyata Citilink sudah pindah ke terminal 1B kalau gak salah sekitar Maret tahun ini. Jadinya semua penerbangan dialihkan ke terminal 1B kecuali yang di Bandara Halim Perdanakusuma.
Singkat cerita kami salah jalur menuju terminal, muter-muter jalan eh gak taunya nyasar ke perkampungan warga yang berada di sekitaran bandara. Saya lupa nama kampungnya apa. Hahaha. Moment lucu sih saat itu.
Untungnya kami memang sengaja ke bandara lebih awal karena takutnya di jalan ada hal-hal yang gak diinginkan. Tapi kena juga hahaha.
Syukurnya, kami tiba di terminal 1B tepat waktu. Jadinya gak buru-buru menuju ruang check in penumpang. Suasana di area penuruan penumpang cukup lengang pagi itu. Terlihat bandara masih ditutupi kabut pagi.
Setelah turun dari mobil dan mengambil barang bawaan di bagasi belakang mobil. Kami berpamitan ke Bang Jaka yang sudah mengantar jemput kami selama di Jakarta. Terimakasi bang. Sampai jumpa kembali !.
Next, kami berdua berjalan menuju ruang check in untuk mencetak boarding pass dan bagasi. Sebenarnya bisa gak cetak boarding pass karena sudah ada e-boarding pass di handphone. Tapi biar ada kenang-kenangan, wajib hukumnya cetak.
Terlihat seluruh terminal 1B didominasi oleh maskapai Citilink. Ruangan serba putih dan hijau. Ada banner Citilink juga di setiap sudut ruang check in.
Proses check in dan bagasi berjalan dengan lancar. Syukurnya berat bagasi saya kurang dari sepuluh kilogram alias gratis gak pakai bayar bagasi. Antrian juga gak terlalu panjang karena counter check in dibuka semua sesuai kota tujuan. Terlihat dari antrian calon penumpang yang akan ke Lombok benar-benar akan ramai. Prediksi saya full seat.
Setelah proses check in selesai. Saya dan Mbak Zahra berjalan menuju lantai dua yaitu ke ruang tunggu penumpang yang berada di B7. Sebelum naik ke eskalator, di sebelahnya ada toko oleh-oleh makanan. Disini dijual berbagai macam oleh-oleh. Dari makanan ringan sampai kue juga ada. Gak lupa kami membeli oleh-oleh buat teman-teman di rumah sakit.
Urusan oleh-oleh sudah, kami berdua menuju ruang tunggu yang berada di B7. Secara pribadi saya lebih suka dengan tampilan terminal 1 dan 2 karena penampakan terminal ini lebih klasik.
Ketika berada di dalam terminal ini, saya merasakan kesejukan dan nyaman sekali. Melihat tanaman hijau yang berada di sudut-sudut bandara dan koridor menuju gate dengan dinding kaca sehingga cahaya yang masuk lebih maksimal.
Baik terminal 1 dan 2 merupakan terminal tertua di Bandara Soekarno-Hatta yang dibuka sejak 1985. Desainnya dirancang oleh arsitek Prancis Paul Andreu. Terinspirasi dari arsitektur tradisional Jawa (Joglo) dengan atap limasan, nuansa tropis, ruang terbuka hijau di beberapa bagian dan koridor berdinding kaca.
Beberapa tiang dari bangunan ini juga berbahan kayu jati. Yang paling saya suka dan sangat menginspirasi yaitu lantainya dari batu bata tempel.
Ciri khas terminal 1 adalah penggunaan atap merah bata, dinding bata ekspos, serta koridor dengan jendela kaca lebar sehingga banyak cahaya alami masuk.
Setelah revitalisasi di tahun 2024 sampai 2025, area terminal 1B terlihat lebih modern dengan sentuhan kontemporer, tetapi tetap mempertahankan nuansa lokal.
Sekarang ini di terminal 1B melayani penerbangan domestik yaitu Citilink dan NAM Air ke berbagai tujuan di Indonesia.
Setelah berjalan menuju ruang tunggu di gate B7, saya menyempatkan untuk sarapan dengan menu nasi kotak dari hotel. Isinya ada rice bowl chicken. Porsinya juga lumayan banyak. Soal rasa gak perlu diragukan lagi. Daging ayamnya empuk dan bumbu kecapnya nendang banget. Ditambah lagi ada telur mata sapi dan tumis sayur. Sarapan dulu sebelum terbang ke Lombok !.
Waktu boarding masih lama yaitu jam setengah sembilan pagi. Terlihat di layar jadwal penerbangan, penerbangan kita masih status "sesuai jadwal". Khawatir juga status di layar berubah menjadi delayed, hahaha.
Selama menunggu waktu boarding, saya menyempatkan untuk berkeliling sekitar ruang tunggu. Fasilitas di bandara ini cukup lengkap. Ada sinyal wifi yang cukup kencang, ada toilet yang berada di bawah ruang tunggu. Ada kantin atau cafe di dalam ruang tunggu. Ruangannya juga dingin. Kursi tunggu cukup nyaman.
Di belakang kursi tunggu saya melihat taman kecil dari balik dinding kaca. Ada beberapa pohon besar dan tanaman hias serta rerumputan hijau. Sambil sarapan, saya menikmati view hijau di bandara ini, sejuk melihatnya.
Sayangnya di terminal 1B ini, kita gak leluasa melihat pesawat yang sedang parkir atau saat take off atau landing karena sebagian dinding kaca tertutup oleh semacam ventilasi. Berbeda dengan terminal 2 dan 3 yang bisa terlihat pesawat yang turun naik dan parkir dari ruang tunggu penumpang.
Langit di atas Bandara Soekarno Hatta sedang tertutup awan tebal. Semoga saja jadwal penerbangan gak tertunda. Harap-harap cemas juga sambil menunggu, memutar beberapa video di youtube sambil lirik sana-sini melihat penumpang yang sudah ramai di ruang tunggu. Ada beberapa mahasiswi yang sepertinya akan berlibur ke Lombok. Mana modis-modis pula hahaha.
Suara informasi terdengar. Bagi penumpang Citilink dengan nomor penerbangan QG 640 CGK-LOP dipersilahkan menuju pesawat. Akhirnya, kita terbang juga setelah sekian menit menunggu. Melihat jam tangan, waktu menunjukkan jam delapan pagi lebih sepuluh menit waktu Jakarta.
Satu per satu para penumpang melakukan pengecekan tiket di pintu terakhir sebelum memasuki pesawat. Para petugas bandara bertugas dengan cukup baik.
Setelah melewati pengecekan tiket, saya dan penumpang lainnya berjalan menuju pesawat melalui garbarata. Lagi-lagi melewati si belalai gajah (garbarata). Padahal pengennya masuk ke dalam pesawat melalui tangga biasa agar bisa melihat pesawatnya secara utuh.
Antrian penumpang memasuki pesawat cukup panjang. Benar kan, penumpang menuju ke Lombok saat itu ramai banget.
Saya akan terbang bersama Citilink Airbus A320-214 dengan kode registrasi PK GQN. Menurut aplikasi flight radar, umur pesawat ini masih sekitar sembilan tahun. Pertama kali terbang di tahun 2016.
Terlihat dari kaca garbarata, penampakan pesawatnya masih mulus dengan livery didominasi dengan warna putih dan tulisan Citilink berwarna hijau. Serta di bagian ekor pesawatnya bermotif ekor burung berwarna hijau muda dan tua.
Setelah memasuki pintu pesawat, kami disambut dengan senyuman oleh para pramugari dan pramugara yang bertugas saat itu. Berpakaian batik dengan dominasi warna hijau muda dan tua khas Citilink. Untuk pramugara menggunakan jas hitam.
Saya berjalan menuju seat 7B. Sedangkan Mbak Zahra di seat 7A yang bersebelahan dengan seat saya. Seluruh seat di Citilink yaitu kelas ekonomi dengan formasi seat 3-3. Beberapa juga ada seat green zone yang memiliki keistimewaan kalau gak salah di jarak antar seat depannya.
Sayangnya saya duduk di seat tengah alias gak di pinggir jendela dan pinggir lorong. Untuk seatnya cukup empuk dan tebal di pantat. Ada sandaran kepala yang empuk juga. Jarak antar seat juga cukup luas. Gak seperti pesawat sebelah.
Sayangnya gak ada monitor inflight entertainment-nya di setiap seatnya. Berarti ini benar-benar waktu untuk tidur selama penerbangan karena gak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan. Hanya duduk manis, menikmati penerbangan dan memejamkan mata.
Di saku belakang seat depan, ada beberapa buku petunjuk keselamatan penerbangan, ada kantung plastik mabuk penerbangan, ada majalah dan kartu doa.
Di dalam kabin pesawat udaranya dingin dan harum. Kaca pesawat di deretan seat saya juga masih kinclong. Suara mesin pesawat dari dalam kabin juga senyap. Selamat menikmati penerbangan !.
Proses boarding gak begitu lama, pesawat sudah berjalan mundur (push back). Para pramugari memperagakan demo keselamatan. Terlihat sederhana tapi sangat penting buat kita ketika terjadi sesuatu yang gawat selama penerbangan.
Tali oksigen akan keluar ketika tekanan udara di dalam pesawat tiba-tiba berubah drastis. Memakai life jacket yang terdapat di bawah seat. Bagi saya ketika pramugari memperagakan hal tersebut, benar-benar saya dibuat merinding setiap naik pesawat.
Gak lama kemudian, pesawat berjalan menuju runway (saya lupa runway nomor berapa) untuk melakukan take off. Proses take off berjalan dengan lancar. Langit Jakarta semakin mendung. Sempat terjadi guncangan kecil ketika badan pesawat menembus awan tebal tapi gak berlangsung lama.
Selama penerbangan, saya habiskan untuk tidur. Bangun sebelum Subuh, berangkat pagi-pagi ke bandara biar gak telat, cukup membuat mata ini mengantuk. Apalagi penerbangan pagi, godaan untuk tidur besar juga.
Saya tinggalkan Mbak Zahra yang asyik membaca buku untuk tidur. Gak terasa hampir dua jam penerbangan, terdengar samar-samar dari kapten pilot bahwa pesawat sebentar lagi akan landing di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid, Praya Lombok.
Sumber foto : Handphone Mbak Zahra
Pesawat sudah terbang di atas Pulau Lombok. Terlihat dari jendela Puncak Gunung Rinjani, Gili Trawangan, Meno, Air. Cuaca di Lombok siang itu cukup cerah. Gak terjadi turbulensi juga selama penerbangan.
Badan pesawat semakin menurunkan ketinggian. Roda pesawat sudah keluar dan persiapan untuk landing. Proses landing berjalan dengan lancar. Kami sudah tiba di Bandara Internasional Lombok (BIZAM) dengan selamat.
Sudah gak sabar turun dari pesawat dan bertemu dengan istri dan anak-anak. Kebetulan bapak mama juga ikut menjemput.
Cuaca Lombok siang itu cukup cerah. Total waktu tempuh penerbangan yaitu dua jam. Suasana di Bandara BIZAM cukup ramai dengan pesawat siang itu. Terlihat ada beberapa maskapai yang terparkir di apron seperti Lion Air, Wings Air, Batik Air, Super Air Jet, Air Asia dan Citilink.
Over all, penerbangan bersama Citilink Airbus A320-214 PK GQN sungguh terasa nyaman meskipun hanya maskapai berbiaya murah. Waktu tunggu boarding on time. Seat yang nyaman. Ruang kabin yang bersih dan dingin. Bagasi kabin yang cukup luas untuk menyimpan koper dan barang besar. Kru yang cukup ramah dan kondisi pesawat yang terbilang terawat.
Penulis : Lazwardy Perdana Putra