Saturday, 30 August 2025

Terbang Nyaman ke Pulau Seribu Masjid: Pengalaman Penerbangan Citilink A320 Jakarta – Lombok


Gak terasa lima hari di Jakarta, sudah waktunya balik ke rumah lagi. Sabtu pagi, setelah shalat subuh, saya dan Mbak Zahra bersiap-siap menuju Bandara Soekarno Hatta. Kami berdua duluan pulang ke Lombok sedangkan Mas Erwin pulang ke rumah saudaranya di Depok. 


Jam enam pagi kami menunggu jemputan di lobby hotel sambil menyelesaikan proses check out. Gak lupa mengambil jatah sarapan terakhir di hotel sebelum berangkat ke bandara. Lumayan bisa dimakan nanti setelah sampai di bandara. 


Saya sudah janjian sama Bang Jaka untuk mengantar kami ke bandara. Syukurnya abangnya on time sekali. So, gak lama kami menunggu di lobby. Setelah mobil jemputan tiba, kami bergegas masuk ke dalam mobil. 


Perjalanan dari hotel ke bandara kurang lebih memakan waktu hampir satu jam. Kebetulan juga Hari Sabtu, jadinya kondisi lalu lintas ibu kota gak terlalu padat. 


Cuaca pagi itu cukup baik meskipun langit agak mendung. Selama lima hari di Jakarta, baru kali ini melihat langit Jakarta mendung. Semoga saja di penerbangan nanti gak bertemu dengan hujan. 


Sepanjang perjalanan menuju bandara, mobil melewati jalan tol yang cukup lengang. Terlihat kabut putih menyelimuti gedung-gedung tinggi ibu kota. Gak lama lagi saya akan meninggalkan kota ini dalam waktu yang gak tau kapan kesini lagi. 


Kami akan terbang menggunakan maskapai Citilink. Anak maskapai low cost carrier dari Garuda Indonesia. Sudah lama juga saya gak terbang bersama Citilink. Kalau gak salah terakhir kali naik Citilink itu pada saat ke Surabaya di tahun 2017 lalu. Cukup lama juga ya. 


Citilink menggunakan pesawat jenis Airbus A320-214. Salah satu pesawat yang bisa dibilang cukup aman sejauh ini di langit Indonesia. 


Sedikit bercerita kejadian lucu yang kami alami saat perjalanan menuju bandara. Ternyata Bang Jaka lupa kalau kami naik pesawat dari terminal 1B karena seingat beliau Citilink ada di terminal 3 seperti maskapai berplat merah (Garuda Indonesia dan Pelita Air). 


Ternyata Citilink sudah pindah ke terminal 1B kalau gak salah sekitar Maret tahun ini. Jadinya semua penerbangan dialihkan ke terminal 1B kecuali yang di Bandara Halim Perdanakusuma. 


Singkat cerita kami salah jalur menuju terminal, muter-muter jalan eh gak taunya nyasar ke perkampungan warga yang berada di sekitaran bandara. Saya lupa nama kampungnya apa. Hahaha. Moment lucu sih saat itu. 


Untungnya kami memang sengaja ke bandara lebih awal karena takutnya di jalan ada hal-hal yang gak diinginkan. Tapi kena juga hahaha. 




Syukurnya, kami tiba di terminal 1B tepat waktu. Jadinya gak buru-buru menuju ruang check in penumpang. Suasana di area penuruan penumpang cukup lengang pagi itu. Terlihat bandara masih ditutupi kabut pagi. 


Setelah turun dari mobil dan mengambil barang bawaan di bagasi belakang mobil. Kami berpamitan ke Bang Jaka yang sudah mengantar jemput kami selama di Jakarta. Terimakasi bang. Sampai jumpa kembali !.


Next, kami berdua berjalan menuju ruang check in untuk mencetak boarding pass dan bagasi. Sebenarnya bisa gak cetak boarding pass karena sudah ada e-boarding pass di handphone. Tapi biar ada kenang-kenangan, wajib hukumnya cetak. 


Terlihat seluruh terminal 1B didominasi oleh maskapai Citilink. Ruangan serba putih dan hijau. Ada banner Citilink juga di setiap sudut ruang check in


Proses check in dan bagasi berjalan dengan lancar. Syukurnya berat bagasi saya kurang dari sepuluh kilogram alias gratis gak pakai bayar bagasi. Antrian juga gak terlalu panjang karena counter check in dibuka semua sesuai kota tujuan. Terlihat dari antrian calon penumpang yang akan ke Lombok benar-benar akan ramai. Prediksi saya full seat






Setelah proses check in selesai. Saya dan Mbak Zahra berjalan menuju lantai dua yaitu ke ruang tunggu penumpang yang berada di B7. Sebelum naik ke eskalator, di sebelahnya ada toko oleh-oleh makanan. Disini dijual berbagai macam oleh-oleh. Dari makanan ringan sampai kue juga ada. Gak lupa kami membeli oleh-oleh buat teman-teman di rumah sakit. 


Urusan oleh-oleh sudah, kami berdua menuju ruang tunggu yang berada di B7. Secara pribadi saya lebih suka dengan tampilan terminal 1 dan 2 karena penampakan terminal ini lebih klasik. 


Ketika berada di dalam terminal ini, saya merasakan kesejukan dan nyaman sekali. Melihat tanaman hijau yang berada di sudut-sudut bandara dan koridor menuju gate dengan dinding kaca sehingga cahaya yang masuk lebih maksimal.


Baik terminal 1 dan 2 merupakan terminal tertua di Bandara Soekarno-Hatta yang dibuka sejak 1985. Desainnya dirancang oleh arsitek Prancis Paul Andreu. Terinspirasi dari arsitektur tradisional Jawa (Joglo) dengan atap limasan, nuansa tropis, ruang terbuka hijau di beberapa bagian dan koridor berdinding kaca.


Beberapa tiang dari bangunan ini juga berbahan kayu jati. Yang paling saya suka dan sangat menginspirasi yaitu lantainya dari batu bata tempel. 


Ciri khas terminal 1 adalah penggunaan atap merah bata, dinding bata ekspos, serta koridor dengan jendela kaca lebar sehingga banyak cahaya alami masuk.


Setelah revitalisasi di tahun 2024 sampai 2025, area terminal 1B terlihat lebih modern dengan sentuhan kontemporer, tetapi tetap mempertahankan nuansa lokal.


Sekarang ini di terminal 1B melayani penerbangan domestik yaitu Citilink dan NAM Air ke berbagai tujuan di Indonesia. 





Setelah berjalan menuju ruang tunggu di gate B7, saya menyempatkan untuk sarapan dengan menu nasi kotak dari hotel. Isinya ada rice bowl chicken. Porsinya juga lumayan banyak. Soal rasa gak perlu diragukan lagi. Daging ayamnya empuk dan bumbu kecapnya nendang banget. Ditambah lagi ada telur mata sapi dan tumis sayur. Sarapan dulu sebelum terbang ke Lombok !.


Waktu boarding masih lama yaitu jam setengah sembilan pagi. Terlihat di layar jadwal penerbangan, penerbangan kita masih status "sesuai jadwal". Khawatir juga status di layar berubah menjadi delayed, hahaha. 


Selama menunggu waktu boarding, saya menyempatkan untuk berkeliling sekitar ruang tunggu. Fasilitas di bandara ini cukup lengkap. Ada sinyal wifi yang cukup kencang, ada toilet yang berada di bawah ruang tunggu. Ada kantin atau cafe di dalam ruang tunggu. Ruangannya juga dingin. Kursi tunggu cukup nyaman. 


Di belakang kursi tunggu saya melihat taman kecil dari balik dinding kaca. Ada beberapa pohon besar dan tanaman hias serta rerumputan hijau. Sambil sarapan, saya menikmati view hijau di bandara ini, sejuk melihatnya.





Sayangnya di terminal 1B ini, kita gak leluasa melihat pesawat yang sedang parkir atau saat take off atau landing karena sebagian dinding kaca tertutup oleh semacam ventilasi. Berbeda dengan terminal 2 dan 3 yang bisa terlihat pesawat yang turun naik dan parkir dari ruang tunggu penumpang. 


Langit di atas Bandara Soekarno Hatta sedang tertutup awan tebal. Semoga saja jadwal penerbangan gak tertunda. Harap-harap cemas juga sambil menunggu, memutar beberapa video di youtube sambil lirik sana-sini melihat penumpang yang sudah ramai di ruang tunggu. Ada beberapa mahasiswi yang sepertinya akan berlibur ke Lombok. Mana modis-modis pula hahaha. 


Suara informasi terdengar. Bagi penumpang Citilink dengan nomor penerbangan QG 640 CGK-LOP dipersilahkan menuju pesawat. Akhirnya, kita terbang juga setelah sekian menit menunggu. Melihat jam tangan, waktu menunjukkan jam delapan pagi lebih sepuluh menit waktu Jakarta.


Satu per satu para penumpang melakukan pengecekan tiket di pintu terakhir sebelum memasuki pesawat. Para petugas bandara bertugas dengan cukup baik. 


Setelah melewati pengecekan tiket, saya dan penumpang lainnya berjalan menuju pesawat melalui garbarata. Lagi-lagi melewati si belalai gajah (garbarata). Padahal pengennya masuk ke dalam pesawat melalui tangga biasa agar bisa melihat pesawatnya secara utuh. 


Antrian penumpang memasuki pesawat cukup panjang. Benar kan, penumpang menuju ke Lombok saat itu ramai banget. 





Saya akan terbang bersama Citilink Airbus A320-214 dengan kode registrasi PK GQN. Menurut aplikasi flight radar, umur pesawat ini masih sekitar sembilan tahun. Pertama kali terbang di tahun 2016. 


Terlihat dari kaca garbarata, penampakan pesawatnya masih mulus dengan livery didominasi dengan warna putih dan tulisan Citilink berwarna hijau. Serta di bagian ekor pesawatnya bermotif ekor burung berwarna hijau muda dan tua. 


Setelah memasuki pintu pesawat, kami disambut dengan senyuman oleh para pramugari dan pramugara yang bertugas saat itu. Berpakaian batik dengan dominasi warna hijau muda dan tua khas Citilink. Untuk pramugara menggunakan jas hitam.


Saya berjalan menuju seat 7B. Sedangkan Mbak Zahra di seat 7A yang bersebelahan dengan seat saya. Seluruh seat di Citilink yaitu kelas ekonomi dengan formasi seat 3-3. Beberapa juga ada seat green zone yang memiliki keistimewaan kalau gak salah di jarak antar seat depannya. 


Sayangnya saya duduk di seat tengah alias gak di pinggir jendela dan pinggir lorong. Untuk seatnya cukup empuk dan tebal di pantat. Ada sandaran kepala yang empuk juga. Jarak antar seat juga cukup luas. Gak seperti pesawat sebelah. 


Sayangnya gak ada monitor inflight entertainment-nya di setiap seatnya. Berarti ini benar-benar waktu untuk tidur selama penerbangan karena gak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan. Hanya duduk manis, menikmati penerbangan dan memejamkan mata. 





Di saku belakang seat depan, ada beberapa buku petunjuk keselamatan penerbangan, ada kantung plastik mabuk penerbangan, ada majalah dan kartu doa. 


Di dalam kabin pesawat udaranya dingin dan harum. Kaca pesawat di deretan seat saya juga masih kinclong. Suara mesin pesawat dari dalam kabin juga senyap. Selamat menikmati penerbangan !.


Proses boarding gak begitu lama, pesawat sudah berjalan mundur (push back). Para pramugari memperagakan demo keselamatan. Terlihat sederhana tapi sangat penting buat kita ketika terjadi sesuatu yang gawat selama penerbangan. 


Tali oksigen akan keluar ketika tekanan udara di dalam pesawat tiba-tiba berubah drastis. Memakai life jacket yang terdapat di bawah seat. Bagi saya ketika pramugari memperagakan hal tersebut, benar-benar saya dibuat merinding setiap naik pesawat. 


Gak lama kemudian, pesawat berjalan menuju runway (saya lupa runway nomor berapa) untuk melakukan take off. Proses take off berjalan dengan lancar. Langit Jakarta semakin mendung. Sempat terjadi guncangan kecil ketika badan pesawat menembus awan tebal tapi gak berlangsung lama. 


Selama penerbangan, saya habiskan untuk tidur. Bangun sebelum Subuh, berangkat pagi-pagi ke bandara biar gak telat, cukup membuat mata ini mengantuk. Apalagi penerbangan pagi, godaan untuk tidur besar juga. 


Saya tinggalkan Mbak Zahra yang asyik membaca buku untuk tidur. Gak terasa hampir dua jam penerbangan, terdengar samar-samar dari kapten pilot bahwa pesawat sebentar lagi akan landing di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid, Praya Lombok. 





Sumber foto : Handphone Mbak Zahra 


Pesawat sudah terbang di atas Pulau Lombok. Terlihat dari jendela Puncak Gunung Rinjani, Gili Trawangan, Meno, Air. Cuaca di Lombok siang itu cukup cerah. Gak terjadi turbulensi juga selama penerbangan. 


Badan pesawat semakin menurunkan ketinggian. Roda pesawat sudah keluar dan persiapan untuk landing. Proses landing berjalan dengan lancar. Kami sudah tiba di Bandara Internasional Lombok (BIZAM) dengan selamat. 


Sudah gak sabar turun dari pesawat dan bertemu dengan istri dan anak-anak. Kebetulan bapak mama juga ikut menjemput. 


Cuaca Lombok siang itu cukup cerah. Total waktu tempuh penerbangan yaitu dua jam. Suasana di Bandara BIZAM cukup ramai dengan pesawat siang itu. Terlihat ada beberapa maskapai yang terparkir di apron seperti Lion Air, Wings Air, Batik Air, Super Air Jet, Air Asia dan Citilink. 


Over all, penerbangan bersama Citilink Airbus A320-214 PK GQN sungguh terasa nyaman meskipun hanya maskapai berbiaya murah. Waktu tunggu boarding on time. Seat yang nyaman. Ruang kabin yang bersih dan dingin. Bagasi kabin yang cukup luas untuk menyimpan koper dan barang besar. Kru yang cukup ramah dan kondisi pesawat yang terbilang terawat.


Penulis : Lazwardy Perdana Putra 

Saturday, 23 August 2025

Menyusuri Sejarah Kebun Raya Bogor Sambil Bersepeda


Kalau mendengar nama Bogor, pasti yang terlintas di benak banyak orang adalah kota hujan, kuliner enak, dan tentu saja Kebun Raya Bogor. Destinasi ini selalu jadi pilihan favorit untuk wisata alam, kuliner, edukasi, sekaligus refreshing dari hiruk pikuk ibu kota. Saya sendiri baru-baru ini sempat explore langsung dan pengalaman di sana benar-benar menyenangkan. 


Awalnya gak ada rencana buat ke Bogor. Karena ikut Mas Erwin ke rumah saudaranya di Depok, mendadak kami ingin jalan-jalan ke Bogor. Hari itu kami gak ada kegiatan karena acara pembukaan PIT & Muskernas Hisfarsi Jakarta 2025 keesokan harinya. 


Kami berempat setelah sarapan bersiap-siap menuju ke Bogor. Menunggu mobil jemputan di lobby hotel. Gak lama menunggu, jemputan sudah tiba di depan hotel. 


Sekitar jam sembilan pagi, kami berangkat menuju Depok. Kali ini tujuan kami ke daerah Cilodong, Depok. Kurang lebih waktu tempuh satu setengah jam perjalanan dengan jarak sekitar tiga puluh kilometer dari hotel kami yang berada di daerah Kuningan,Jakarta Selatan.  


Lalu lintas Kota Jakarta pagi itu cukup padat merayap. Syukurnya kami melintas di luar jam kerja. So, gak terjebak macet. Melewati beberapa jalan utama antara lain Jalan Raya Tj.Barat kemudian masuk ke Jalan Margonda Raya yang mengarah ke arah Bogor. 


Berbelok ke Jalan Boulevard Grand Depok City. Gak jauh dari situ, kami tiba di perumahan Grand Mako tempat tinggal saudara Mas Erwin. 


Setelah beristirahat sejenak dan makan siang. Kami berencana jalan-jalan ke Bogor. Dadakan juga rencana kesana. Berhubung dari daerah Cilodong ke Bogor jaraknya cukup dekat. Kami memutuskan untuk berkunjung ke Kebun Raya Bogor. 


Gak ada terpintas buat saya ngetrip ke Kota Bogor. Melainkan berencana ke Bandung. Emang namanya rencana itu siapa yang gak sangka. Maunya ke rumah temen, eh malah nyangkut ke rumah mantan, hahahaha. 


Kurang lebih setengah jam perjalanan, kami tiba di Kota Bogor. Suasana Bogor siang itu cukup ramai lancar. Udara di kota ini cukup sejuk. Untungnya gak turun hujan seperti sebutan kota ini yaitu "Bogor Kota Hujan". 


Selain hujan, kota ini juga punya sebutan "Kota Angkot" karena banyak mobil angkot di kota ini. Yang saya kangenin kalau datang ke Bogor yaitu naik angkotnya. Dulu pernah sekali ke Bogor, jalan-jalan keliling kota pakai angkot. Itupun naiknya gak berani sendiri melainkan bareng temen yang sudah sering ke Bogor. 





Akses Menuju Kebun Raya Bogor 


Ada beberapa cara menuju ke Kebun Raya Bogor bagi kalian yang memulai perjalanan dari Kota Jakarta. 


Kalian bisa menggunakan KRL dari Stasiun Manggarai menuju ke Stasiun Bogor. Setelah turun di Stasiun Bogor, bisa berjalan kaki selama lima belas menit atau naik ojek online. 


Selain itu bisa menggunakan bus. Kalian bisa naik bus ke arah Bogor dari Terminal Kampung Rambutan atau Pulogebang. Nanti turunnya di Terminal Baranangsiang Bogor. Jarak ke Kebun Raya dari terminal ini cukup dekat. Kita bisa berjalan kaki sejauh satu kilometer saja. 


Atau kalian yang dari Bandara Soekarno Hatta langsung menuju Bogor, bisa menggunakan DAMRI jurusan Bogor. Kalian bisa turun di Pool DAMRI depan Kebun Raya Bogor atau Amarossa Royal Bogor.


Buat kalian yang membawa kendaraan pribadi juga sangat mudah. Yang membawa mobil, bisa melalui Tol Jagorawi mengarah ke Bogor lalu keluar Tol Bogor dan menuju Kota Bogor. Sedangkan yang membawa motor, banyak jalan menuju Bogor dari arah Jakarta. So, kalian bisa memilih mau menggunakan transportasi yang mana. 


Baca juga disini : Sensasi Menginap di Amarossa Royal Hotel Bogor


Baca juga disini : Berolahraga Menikmati Udara Pagi Kota Bogor


Sesampainya di Bogor, kami langsung menuju Kebun Raya Bogor melalui pintu utama di sebelah selatan. Memutari Tugu Kujang yang berada persis di depan Amarossa Royal Bogor. 


Kami turun dari mobil di pinggir jalan depan pintu masuk karena di dalam parkiran sudah penuh. Kami sudah janjian sama abang supirnya kalau sudah mau pulang, nanti dijemput di depan pintu masuk.


Suasana Kebun Raya Bogor siang itu sedang ramai-ramainya oleh rombongan keluarga karena masih musim libur sekolah. Ini pertama kalinya saya masuk ke Kebun Raya Bogor.


Dulu belum sempat mau masuk ke dalam. Saat itu belum jam buka. Jadinya hanya joging mengelilingi Kebun Raya Bogor dari luar pagar saja. Melewati Pasar Tradisional Bogor, Hotel Salak, Melihat kawanan rusa di halaman depan Istana Bogor, melewati Sungai Ciliwung dan finish di hotel tempat menginap.


Kebun Raya ini berada di tengah kota. Dikelilingi oleh jalan utama. Meskipun berada di tengah kota, udara disini sangat sejuk karena ada ribuan jenis tanaman hijau yang hidup disini. 





Setelah turun dari mobil. Kami berjalan kaki menuju pintu masuk untuk membeli tiket masuk. Menaiki anak tangga dengan kiri kanan ada patung singa. Kalau di Bali sebutannya togog (patung kembar penjaga pintu). Kami memasuki ke dalam bangunan bergaya Eropa melalui pintu tadi. 


Di hari Senin sampai Jumat, Kebun Raya Bogor dibuka dari jam delapan pagi hingga jam empat sore. Sedangkan di akhir pekan mulai buka dari jam tujuh pagi hingga jam empat sore. 


Kalau sekedar saran saja, kalau ingin berkunjung ke Kebun Raya Bogor bisa dari pagi hari hingga sore agar bisa berkeliling sepuasnya disini. Sayangnya kami datangnya sudah siang hari. So, gak banyak spot yang bisa kami datangi. 


Harga tiket masuk baik domestik maupun mancanegara yaitu lima belas ribu rupiah saja (Senin-Jumat). Sedangkan di akhir pekan atau hari libur sebesar dua puluh lima ribu (harga bisa berubah).  Yang bertugas mengantri membeli tiket satu orang saja. Sedangkan lainnya menunggu di pintu cek tiket sambil melihat-lihat suasana di sekitar. 


Antrian cukup panjang ketika kami akan memasuki kebun raya. Didominasi oleh anak-anak yang sedang liburan. Terlihat pepohonan rindang dan hijaunya kebun raya sudah memanggil-manggil kami untuk segera masuk. 


Kebun Raya Bogor merupakan kebun raya kedua yang sudah saya kunjungi setelah Kebun Raya Eka Sari Bedugul, Bali. Keduanya memiliki keunikan masing-masing. Tapi disini saya gak akan membahas perbedaan dari kedua tempat tersebut. 





Welcome to Kebun Raya Bogor ! 


Kebun Raya Bogor beralamatkan di Jalan Ir. H. Juanda No.13, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat.


Lokasinya sangat strategis, berada di pusat Kota Bogor dan bersebelahan langsung dengan Istana Bogor. Dari Stasiun Bogor jaraknya hanya sekitar lima belas menit menit berjalan kaki atau dua kilometer dengan kendaraan.


Begitu masuk pintu cek tiket, suasana langsung berubah. Pohon-pohon besar yang usianya ratusan tahun, hamparan rumput hijau, dan jalan setapak yang rapi membuat kita merasa seperti masuk ke dunia berbeda. Udara di dalam jauh lebih sejuk, meski lokasinya berada di tengah kota.


Rombongan kami yang jumlahnya kurang lebih tujuh orang berjalan kaki menuju tepian danau melewati jalan setapak yang tertata rapi. Kursi-kursi taman yang berjejer. Melihat rombongan lainnya yang menggelar tikar di atas rumput. Mereka sangat menikmati suasana sambil piknik bersama orang-orang tersayang. 


Gak jauh berjalan kaki, kami sudah berada di tepian danau yang bernama Danau Gunting. Salah satu spot terbaik menurut saya. Apalagi mendengar kicauan burung danau dan langit siang itu cukup mendung. Syahdu sekali. 


Saya sangat suka dengan danau. Ditambah lagi di sekeliling danau terlihat hijaunya pepohonan rindang dan rerumputan. Tanaman yang tumbuh di permukaan air. Sejauh mata memandang di tepi danau, terlihat dari kejauhan bangunan putih bergaya Eropa. Itulah gedung Istana Presiden Bogor. Akses masuk kesana sangat ketat. Pengunjung kebun raya dilarang masuk ke dalam area istana yang dijaga oleh petugas berseragam. 





Kami gak melewati moment untuk menikmati keindahan danau yang ukurannya cukup luas sambil berfoto ala foto keluarga. Suasana hangat dengan keceriaan hari itu. Anak-anak pun sangat senang. 


Setelah berfoto bersama di tepian danau, kami melanjutkan berjalan kaki menuju tempat penyewaan sepeda. Melihat pengunjung lain yang didominasi oleh anak-anak yang bersepeda mengelilingi kebun raya, kami tertarik untuk bersepeda juga. 


Awalnya sih saya pengennya menikmati kebun raya dengan berjalan kaki saja. Tapi berhubung waktu yang sudah siang dan ingin explore kebun raya secara keseluruhan. Rasanya kalau jalan kaki, besok pagi baru kelar kelilingnya, hehehe. 


Di kebun raya ini sudah disediakan tenda-tenda penyewaan sepeda. Fasilitas yang cukup menarik untuk dicoba. Saya dan Mas Erwin memilih untuk bersepeda dengan sepeda MTB saja. Biaya sewanya yaitu tiga puluh ribu rupiah per jam. Sedangkan Mbak Zahra dan lainnya memilih sepeda listrik dengan biaya sewa empat puluh ribu rupiah per jam. Biaya ini berlaku di saat weekday maupun weekend. 


Setelah memilih sepeda yang sesuai. Kami cek dulu sepedanya. Petugas di tenda mengecek kondisi sepedanya. Dari ban sampe rem dicek semua. Setelah dinyatakan sepeda dalam kondisi baik, barulah kami pakai sepedanya. 


Begitu juga dengan sepeda listrik. Dicek dulu semuanya dari ban sampai baterainya apa masih penuh atau sudah mau habis. Penting juga, takutnya baterai hampir habis dan dipakai keliling,malah mogok di tengah jalan nantinya. 


Setelah semua sepeda dalam kondisi baik. Kami memulai mengexplore Kebun Raya Bogor. Ada waktu satu jam kami untuk mengexplore. Tujuan kami pertama yaitu berfoto di depan Istana Bogor. 







Jalanan aspal dengan dikelilingi oleh pepohonan rindang yang usianya sudah gak muda lagi. Bisa diperkirakan usia pohon-pohon disini sudah ratusan tahun. 


Titik point pertama tempat kami berhenti di tepian danau dekat dengan latar belakang Istana Bogor. Disini kami mengambil foto. Suasana di sekitar cukup ramai oleh pengunjung lainnya. Gak lama berhenti untuk berfoto, saya melanjutkan mengayuh sepeda ke spot berikutnya. 


Sejarah Kebun Raya Bogor 


Kebun Raya Bogor memiliki luas keseluruhan sekitar delapan puluh tujuh hektar. Menjadi rumah bagi lebih dari dua belas ribu jenis koleksi tumbuhan, termasuk pohon langka, tanaman obat, kaktus, anggrek, hingga bunga bangkai (Amorphophallus titanum) yang terkenal.


Dari beberapa sumber terpercaya yang saya kutip. Kebun Raya Bogor sudah ada sejak abad ke lima belas. Dahulu, Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran pernah membangun Samida, semacam hutan lindung, untuk menanam berbagai pohon langka. Dari sinilah, tempat yang sekarang kita kenal sebagai Kebun Raya Bogor mulai memiliki kisah panjang.


Melompat jauh ke abad ke sembilan belas ketika Belanda berkuasa di Hindia Timur. Seorang ahli botani bernama Prof. Dr. C.G.C. Reinwardt datang ke Bogor. Ia melihat betapa suburnya tanah dan indahnya view di sekitar Istana Bogor. Dari idenya, lahirlah sebuah kebun penelitian yang akhirnya diresmikan pada 18 Mei 1817. Tanggal ini kemudian dianggap sebagai hari lahir Kebun Raya Bogor.


Sejak saat itu, Kebun Raya Bogor bukan hanya sekadar taman atau destinasi wisata alam. Berperan juga menjadi pusat penelitian tanaman tropis di Asia Tenggara. Banyak tanaman penting yang sekarang menjadi komoditas besar Indonesia seperti karet, kelapa sawit, dan kina yang pernah ditanam dan diuji coba pertama kali di sini sebelum menyebar luas ke seluruh Nusantara (sebutan Indonesia dulu).


Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan Kebun Raya berpindah ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), selanjutnya sekarang di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tetapi perannya gak pernah berubah. Tetap menjadi jantung penelitian botani sekaligus ruang hijau bersejarah di tengah Kota Bogor.


Ketika kami berjalan-jalan di jalur rindang Kebun Raya, melewati pohon-pohon berusia ratusan tahun atau sekadar duduk di tepi Danau Gunting sambil memandang Istana Bogor, kami sebenarnya sedang menyusuri jejak panjang sejarah. Dari hutan buatan kerajaan, taman penelitian kolonial, hingga destinasi wisata alam dan ilmu pengetahuan modern. Kebun Raya Bogor adalah saksi hidup perjalanan waktu yang memiliki sejarah panjang. 







Spot yang Ada di Kebun Raya Bogor 


Setelah berfoto di Danau Gunting yang menjadi spot terkece dengan latar belakang Istana Bogor. Spot berikutnya yang saya dan lainnya kunjungi yaitu Taman Meksiko. Disini kami hanya melihat dari luar saja. Disini kami bisa menjumpai koleksi kaktus dan tanaman sukulen yang unik. So, berasa  berada di daerah gurun.


Selanjutnya kami bisa jumpai Jembatan Merah. Salah satu spot yang menjadi ikon romantis di Kebun Raya Bogor. Sering menjadi spot favorit pengunjung untuk foto prewedding. 


Buat kalian yang sedang di Bogor. Bolehlah foto berdua dengan pasangannya atau berfoto bersama keluarga tercinta. Konon katanya, kalau yang berfoto disini orang yang berpacaran, katanya hubungannya bisa putus. Hanya mitos, boleh percaya atau gak, hehehe. 


Di Kebun Raya Bogor ada juga Museum Zoologi. Tempat yang cocok buat anak-anak belajar tentang hewan. Banyak koleksi hewan yang diawetkan dan memiliki nilai yang edukatif. 


Selain itu, banyak juga taman tematik lain seperti Taman Soedjana Kassan, Taman Obat, dan bahkan ada makam kuno Belanda yang menambah nilai historis. Wah kalau makan kuno apalagi makam Belanda, saya absen dah gak ikutan kesini. Takutnya lihat yang aneh-aneh. 


Fasilitas di Kebun Raya Bogor


Selain fasilitas seperti taman tematik (Taman Meksiko, Taman Anggrek, Taman Obat), Danau Gunting, Jembatan Merah, Museum Zoologi. Sewa sepeda, mobil wisata (buggy car).


Disini juga terdapat toilet, mushola, kantin, Grand Garden Cafe, toko souvenir. Ada juga perpustakaan botani, herbarium, laboratorium dan tur edukasi.


Di Kebun Raya Bogor juga tersedia jalur disabilitas & shuttle internal untuk para lansia dan anak-anak. Ingat ya shuttlenya khusus lansia dan anak-anak (sama pendamping). 


Kesimpulan 


Ternyata setelah bersepeda mengelilingi kebun raya, kaki dan pantat pegel semua. Ngayuh sepeda satu jam, untungnya sepedanya cukup baik. Mana trek jalannya juga gak datar saja. Ada di beberapa titik, jalannya menanjak dan berkelok-kelok. Harus ekstra hati-hati juga dalam berkendara karena kondisi siang itu cukup ramai oleh pengunjung yang bersepeda juga.


Singkat cerita, setelah sejam saya dan lainnya bersepeda. Kami kembali ke tenda penyewaan sepeda yang berada di dekat pintu masuk. Syukurnya kami kembali tepat waktu. Misalkan kembalinya lewat jam yang sudah ditentukan, kita bisa kena denda bayar lagi seharga satu jam. 


Setelah mengembalikan sepeda, saatnya kami balik ke Cilodong buat nganterin saudaranya Mas Erwin dan anak-anaknya. Kemudian lanjut balik ke Jakarta lagi. 


Over all, pengalaman mengelilingi Kebun Raya Bogor memang melelahkan. Dapat lelahnya dapat pula senangnya. Akhirnya kesampaian juga bisa masuk ke dalam kebun raya tertua di Asia Tenggara ini. Banyak pelajaran yang bisa kami dapat


Menjaga kelestarian alam dengan terus memberikan pendidikan kepada anak-anak kita bahwa lingkungan harus tetap dijaga dengan baik dan benar. Belajar merawat alam dan ikut menjaga aset negara yang kaya akan sejarah. 


Dengan luas delapan puluh tujuh hektar dan sejarah lebih dari dua ratus tahun, Kebun Raya Bogor bukan hanya tempat wisata, tapi juga semacam “ensiklopedia hidup” yang menyimpan cerita tentang alam, sejarah, hingga budaya.


Penulis : Lazwardy Perdana Putra



Saturday, 16 August 2025

Menginap di Avissa Suites Hotel Jakarta : Dekat Dengan Pusat Perbelanjaan dan Transportasi Umum


Setelah landing di Bandara Soekarno Hatta, saya dan kedua teman berjalan menuju pengambilan bagasi. Selanjutnya menuju pintu keluar kedatangan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. 

Kami sudah dijemput oleh teman yang bekerja di Jakarta, namanya Bang Jaka. Saya, Mbak Zahra dan Mas Erwin menunggu Bang Jaka di depan pintu kedatangan timur untuk mengambil mobil di parkiran. 

Menghirup udara ibukota lagi. Suasana yang saya kangenin kalau datang ke Jakarta itu melihat para pekerja yang berjalan kaki  dan naik transportasi umum sepulang kerja. Senang aja gitu lihatnya. Pemandangan langka orang masih membiasakan diri berjalan kaki dan nungguin angkutan umum di pinggir jalan. Di daerah saya, sudah jarang sekali orang pulang berjalan kaki naik angkot gitu. Kebanyakan pada menggunakan kendaraan pribadi. 

Kami sudah di dalam mobil yang dibawa oleh Bang Jaka. Meninggalkan area bandara menuju daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Perjalanan cukup ramai lancar. Melewati jalan tol tengah kota, lalu masuk ke jalan Sudirman dan memasuki daerah Kuningan yang sudah padat merayap. Disini kami terjebak macet parah karena jam pulang kerja. 

Bagi kami orang pulau yang jauh dari ibukota, rasanya tersiksa sekali melihat kemacetan parah yang ada di depan mata. Karena di tempat tinggal saya, yang namanya macet itu sangat jarang kecuali ada event atau penutupan jalan. 

Tapi mungkin warga di ibukota yang sudah bertahun-tahun tinggal disini, rasanya sudah biasa sekali. Menurut saya sih sudah saatnya warga Jakarta lebih memilih transportasi umum untuk mengurangi kemacetan. 

Kurang lebih hampir dua jam perjalanan, kami sudah sampai di depan hotel tempat kami menginap lima hari kedepan. Selamat datang di Avissa Suites Hotel. Pertama kali melihat hotel ini dari depan, saya sudah yakin ini hotel nyaman dan gak ada gangguan makhluk lain hehehe. 




Avissa Suites Hotel adalah hotel bintang tiga yang terletak strategis di kawasan segitiga emas, Kuningan, Jakarta Selatan. Tepatnya di Jalan Karet Pedurenan No. 19 . 

Lokasinya sangat dekat dengan pusat bisnis dan pusat perbelanjaan. Akses transportasi umum juga mudah, dengan stasiun MRT Bendungan Hilir dan Dukuh Atas BNI dan transportasi feeder dekat sekitar hotel .

Gak jauh dari jalan utama Prof.dr.Satrio dan jalan layang Kp.Melayu-Tanah Abang. Dekat juga dengan Ciputra World I Mall, Mall Ambasador dan Raffles Hotel. 

Di sekitar penginapan, banyak sekali warung makan, cafe/kedai kopi, resto dan pedagang kaki lima. Jadi, gak susah buat nyari makanan. Buat beli obat-obatan juga sangat dekat dengan apotek.

Setelah turun dari mobil, kami memasuki lobby hotel dengan disambut hangat oleh staf hotel. Langit Jakarta sudah mulai gelap. Pas adzan magrib berkumandang kami tiba di hotel. Bang Jaka membantu kami menurunkan barang bawaan. Orangnya sangat ramah dan baik. Setelah mengantar kami ke hotel, beliau langsung ijin pamit untuk pulang. Thanks bang !. 

Untuk penampakan hotelnya cukup keren. Bangunan hotelnya sih gak terlalu besar. Tapi cukup tertata dan modern. Udara di dalam looby hotel cukup dingin. Ada sofa empuk untuk para tamu yang sedang menunggu jemputan taxi atau tempat bersantai. 

Karena proses check in gak terlalu lama. Kami diantarkan oleh staf hotel menuju kamar kami sambil membantu membawakan barang bawaan seperti tas dan koper. Untuk akses ke kamar bisa melalui lift dan tangga. 

Saya dan Mas Erwin satu kamar berdua di kamar nomor 519. Sedangkan Mbak Zahra dan anaknya Mas Erwin di kamar nomor 517 yang berada di lantai lima. Jadi Avissa Suites ini memiliki tujuh lantai. Dimana lantai satu merupakan looby. Lantai dua sampai lantai enam itu kamar tamu. Dan lantai tujuh yaitu resto dan ruang meeting.

Untuk parkir kendaraan ada di basemant. Halaman hotel gak begitu luas. Hanya untuk kendaraan untuk menurunkan penumpang dan area taman seukuran mini. Tapi hotelnya sangat hijau nan sejuk di tengah panasnya Jakarta. 



Untuk memasuki kamarnya, kami diberikan dua kartu (masing-masing satu kartu). Kami akan bermalam di kamar kelas superior yang kisaran harga per malamnya itu 600-700 ribu (harga bisa berubah-ubah). Bisa dipesan melalui aplikasi travel online atau website resmi. 

Penampakan kamarnya seperti kamar kelas superior biasanya. Ukuran kamarnya cukup luas. Kasurnya empuk untuk dua orang dewasa. Ada sofa dan meja. Ada kursi dan meja kerja dan kaca cermin.

Lemari dengan beberapa gantungan pakaian. Ditambah lagi fasilitas lainnya seperti lemari es berukuran mini, alat pemanas air, dua cangkir kopi, dua botol air mineral, ada layar tv, wifi yang kencang, ketel listrik, brankas dan colokan listrik di meja kerja dan samping tempat tidur lengkap dengan lampu baca. 

Untuk kamar mandinya, seperti biasa. Ada shower air panas dan air dingin. Wastafel, cermin besar, alat mandi (sabun,shampo,pasta dan sikat gigi), dua handuk warna putih, closed duduk. Antara toilet dan kamar mandi disekat dengan sebuah pintu kaca. Over all, semuanya bersih. 

Sayangnya jendela kamar gak menghadap ke view perkotaan, tapi menghadap ke sebelah bangunan di sebelahnya. It's oke, gak apa-apa. 

Sesampainya di kamar, gak banyak yang saya lakukan. Habis bersih-bersih badan, lanjut shalat dan keluar nyari makan malam bareng lainnya. Untungnya di dekat hotel ada beberapa tempat makan yang cukup enak. Ada warung bakso dan lalapan. Gak khawatir kebingungan kalau soal makanan. 

Setelah selesai makan, jalan-jalan sebentar menikmati Kota Jakarta di malam hari dengan berjalan kaki. Ada dua mall besar yang dekat dengan hotel kami yaitu Ciputra World I dan Ambasador Mall.

Kembali ke hotel, lanjut istirahat agar besok pagi kembali fit karena besok kegiatan cukup padat. 






Bangun tidur, saya langsung melaksanakan kewajiban shalat Subuh berjamaah bareng Mas Erwin. Setelah itu menunggu sunrise di lantai dua yaitu di kolam renang tapi sayangnya pagi itu langit cukup mendung. View keren dari hotel ini yaitu bisa melihat gedung-gedung pencakar langit. 

Di area kolam renang yang berada di lantai dua, saya bersantai sejenak sambil menikmati Kota Jakarta di pagi hari. Udara pagi itu cukup sejuk dan dingin. 

Emang pagi itu niatnya mau renang. Setelah duduk sebentar, saya langsung turun ke kolam renang yang ukuran gak terlalu luas dan dalamnya hanya 130 meter. Air kolamnya bersih dan jernih. Di mata juga aman dan gak buat perih karena kaporit. 

Sedangkan Mas Erwin, olahraganya di dalam fitnes center (treadmill, multi-gym, sepeda statis) yang letaknya bersebelahan dengan kolam renang. Kami berdua mengabiskan waktu sekitar satu jam untuk berolahraga. 

Fasilitas lainnya dari hotel ini ada ruang meeting, restaurant, gazebo tempat bersantai, dan kolam ikan. 

Waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Kami berdua kembali ke kamar untuk mandi-mandi dan bersiap sarapan di resto yang berada di lantai tujuh. 






Sebut saja Kecapi Resto. Ruang restonya gak begitu luas. Ada beberapa meja dan kursi dan sofa. Terbagi menjadi dua ruang, indoor dan outdoor. 

Ruangannya cukup nyaman dan sejuk. Paling enak menikmati hidangan di outdoornya atau balkon. Dari sini kita bisa melihat view gedung-gedung pencakar langit sambil bersantai dan ngobrol bareng orang lain. 

Sarapan dimulai dari jam enam pagi hingga sepuluh pagi. Untuk menunya beragam setiap harinya. Menu andalan yaitu menu Nusantara. Ada nasi goreng, nasi putih, mie goreng, ayam opor, sambel kentang, cah kangkung, bubur ayam, segala macam roti atau crossiant dan buah-buahan. Minumnya ada aneka jus, susu putih dan air mineral.

Soal rasa, selama lima hari menikmati menu sarapan di Avissa Suites, gak mengecewakan. Yang paling saya suka yaitu nasi goreng, opor ayam, sambel kentang dan rice bowlnya. Bumbunya nendang dilidah. Bener-bener mengenyangkan atau all you can eat. 

Over all, bagi saya menginap di Avissa Suites Hotel Jakarta memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan. Lokasi yang sangat strategis dan dekat dengan venue acara yang akan kami hadiri selama lima hari yaitu di Raffles Hotel Kuningan .

Untuk menuju stasiun LRT atau MRT juga dekat yaitu stasiun MRT Bendungan Hilir dan LRT Dukuh Atas BNI. Dan dekat dengan berbagai jalur feender dan Trans Jakarta. 

Bukannya ngendorse, tapi bagi yang akan berlibur atau ada kerjaan/bisnis di Jakarta. Avissa Suites Hotel bisa menjadi salah satu pilihan buat kalian. 

Sebagai tamu yang sudah menginap di hotel ini, saya beri bintang lima untuk pelayanan, kamar, fasilitas lainnya seperti kolam renang dan fitnes center, restonya yang nyaman dengan menu-menu yang enak, dan keramahan staf hotel yang membuat saya pribadi betah di Jakarta. Apalagi ada servise tambahan gratis loundry empat pakaian selama menginap. Mantaap !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra